Selasa, 06 Mei 2008

Permintaan Pelayanan Kesehatan Pada Nelayan Penyelam

Skripsi


STUDI PERMINTAAN PELAYANAN KESEHATAN PADA NELAYAN PENYELAM DI PULAU BARRANG LOMPO

KOTA MAKASSAR TAHUN 2005


Maryam. SKM


Abstrak

Dalam pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya tanpa memandang suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi termasuk kaum nelayan. Setiap kecamatan di Indonesia telah memiliki paling sedikit satu buah Puskesmas dengan lebih dari 40 % desa telah dilayani oleh sarana pelayanan kesehatan pemerintah. Pada akhir tahun 2001 tersedia 7.477 Puskesmas, 21.587 Puskesmas Pembantu dan 6.392 Puskesmas Keliling. Sedangkan untuk data kunjungan Puskesmas Pattingaloang tahun 2004 kunjungan rawat jalan sebanyak 22.837 dengan rata-rata kunjungan perhari 74 kunjungan, dimana masing-masing untuk kunjungan puskesmas sebanyak 43 perhari sedangkan untuk kunjungan puskesmas pembantu sebanyak 31 kunjungan Jika dibandingkan dengan data nasional dan Propinsi Sulawesi Selatan, pemanfaatan rawat jalan di Puskesmas Pattingaloang masih rendah. Dari data tersebut ternyata puskesmas belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, maka untuk mengoptimalkan suatu sarana kesehatan didasarkan atas permintaan (demand) masyarakat dan bukan berdasarkan suplay dari pemerintah agar tidak terjadi under utilization.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang permintaan pelayanan kesehatan berdasarkan pendapatan, ketersediaan tenaga kesehatan, pengetahuan dan tarif pelayanan pada masyarakat nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar tahun 2005

Jenis penelitian merupakan penelitian survei dengan pendekatan deskriptif, jumlah responden 85 yang diperolah dari rumus besar sampel dan sampel ditarik secara proporsive sampling.

Hasil penelitian ini didapatkan informasi bahwa permintaan (demand) masyarakat terhadap pelayanan kesehatan adalah rendah dimana responden dengan tingkat pendapatan kurang 20,0 %. dilihat dari ketersediaan tenaga berada pada kategori kurang 25,9 %, dilihat dari tingkat pengetahuan responden kurang 20,0 % dan berdasarkan tarif tidak terjangkau 58,8 %.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau kemampuan ekonomi masyarakat dengan menyelenggarakan pelayanan gratis, penempatan tenaga kesehatan lebih diutamakan pada daerah kepulauan disertai dengan peningkatan upah/honor/gaji bagi tenaga kesehatan, dan perlu pemberian penyuluhan yang dilakukan secara berkala dalam rangka peningkatan pengetahuan nelayan penyelam tentang kesehatan penyelaman..


Daftar Pustaka : 23 (1987 – 2004)


PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang

Nelayan acapkali diasosiasikan dengan kemiskinan dan karenanya budaya nelayan atau kebiasaan masyarakat pesisir diidentikkan dengan kemiskinan atau budaya orang miskin, jaringan aktivitasnya sangat terbatas pada penangkapan ikan dan sumber daya laut. Sementara jaringan sosialnya sangat terbatas pada network ponggawa-sawi (Razak, 2000).

Kemiskinan rumah tangga mencerminkan ketidak mampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan hidup, terutama kebutuhan dasar serta kebutuhan dalam meningkatkan kualitas hidup yaitu kesehatan.

Upaya pembangunan kesehatan setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya tanpa memandang suku, golongan, agama dan status sosial ekonomi termasuk kaum nelayan.

Oleh karena itu, maka pembangunan kesehatan yang diselenggarakan dalam dekade ini telah berhasil menyediakan sarana kesehatan di seluruh pelosok tanah air. Menurut R. Hapsara (2004), Setiap kecamatan di Indonesia telah memiliki paling sedikit satu buah Puskesmas dengan lebih dari 40 % desa telah dilayanani oleh sarana pelayanan kesehatan pemerintah. Pada akhir tahun 2001 tersedia 7.477 Puskesmas, 21.587 puskesmas pembantu dan 6.392 Pusksmas Keliling. Di Sulawesi Selatan saat ini telah tersedia kurang lebih 300 Puskesmas baik itu puskesmas rawat jalan maupun puskesmas rawat inap (Dinas Kesehatan Propinsi Sul-Sel, 2004).

Berdasarkan statistik kesejahteraan rakyat tahun 2003 rata-rata 35.5 % masyarakat desa dan kota yang memanfaatkan sarana dan fasilitas Puskesmas

Indikator kesejahteraan rakyat membuktikan bahwa 38,6 % dari masyarakat yang sakit berobat di Puskesmas, 3,5 % di Klinik KIA/Balai Pengobatan dan 3,1 % berobat di tempat lain (BPS, 2003).

Di Sulawesi Selatan kunjungan di Balai pengobatan rata-rata 43 Kunjungan perhari lebih rendah di banding rata-rata Nasional sedangkan frekwensi kunjungan rata-rata 2,45 kali. Di Kota Makassar jumlah kunjungan rawat jalan puskesmas sebanyak 457.231 kunjungan dengan rata-rata kunjungan rawat jalan perhari sebesar 755 kunjungan (Dinas Kesehatan Propinsi Sul Sel 2003).

Selanjutnya berdasarkan data kunjungan Puskesmas Pattingalloang tahun 2003 didapatkan jumlah kunjungan rawat jalan sebanyak 22.500 dengan rata-rata kunjungan perhari 61 kunjungan (termasuk kunjungan Puskesmas Pembantu). Sedangkan untuk data kunjungan Puskesmas Pattingalloang tahun 2004 kunjungan rawat jalan sebanyak 22.837 dengan rata-rata kunjungan perhari 74 kunjungan, dimana masing-masing untuk kunjungan puskesmas sebanyak 43 perhari sedangkan untuk kunjungan puskesmas pembantu sebanyak 31 kunjungan. Jika dibandingkan dengan data nasional dan propinsi Sulawesi Selatan, pemanfaatan rawat jalan di Puskesmas Patingalloang masih rendah (Puskesmas Pattingaloang, 2004).

Kelumpuhan pada penyelam diakibatkan oleh penyelam sering tidak mempunyai rencana yang matang pada saat melakukan panyelaman. Selain alat yang digunakan tidak memenuhi standar kesehatan, para penyelam kadang tidak melakukan pemeriksaan kesehatan akan dan setelah melakukan penyelaman padahal seharusnya mereka memanfaatkan puskesmas atau puskesmas pembantu untuk melakukan pemeriksaan awal dan berkala sehingga mereka terhindar dari resiko penyakit akibat menyelam (Amin, 2000).

Di wilayah kerja Puskesmas Pattingaloang, sampai akhir tahun 2004, dari 231 nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo, tercatat 50 kasus penyakit akibat menyelam 22 orang diantaranya mengalami kelumpuhan dan 10 orang meninggal setelah mengalami kelumpuhan serta banyak lagi yang belum tercatat (Puskesmas Pattingaloang, 2004).

Di samping kerja puskesmas, sangat membantu pula dengan adanya Puskesmas Pembantu di Pulau Barrang Lompo, dimana memiliki peran untuk meningkatkan pelayanan kesehatan pada masyarakat, nelayan termasuk nelayan penyelam, memberikan fisioterapai kepada nelayan penyelam yang mengalami kelumpuhan, memberikan penyuluhan akan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum dan sesudah menyelam serta memberikan pengobatan (Puskesmas Pattingaloang, 2004).

Berdasarkan asumsi di atas penulis tertarik untuk meneliti tentang studi permintaan pelayanan kesehatan pada nelayan penyelam di pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2005.


  1. Batasan Masalah

Banyak faktor yang mempengaruhi permintaan pelayanan kesehatan pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo namun penelitian ini, peneliti hanya membatasi pada faktor pendapatan, ketersediaan tenaga kesehatan, pengetahuan dan tarif demi efektivitas penelitian ini.


C. Rumusan Masalah

Bagaimana faktor pendapatan, ketersediaan tenaga kesehatan, pengetahuan dan tarif dapat mempengaruhi permintaan pelayanan kesehatan pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2005.


D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi permintaan pelayanan kesehatan pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2005.

2. Tujuan Khusus

  1. Untuk mengetahui permintaan pelayanan kesehatan di tinjau dari tingkat pendapatan pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2005.

  2. Untuk mengetahui permintan pelayanan kesehatan di tinjau dari ketersediaan tenaga kesehatan pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2005

  3. Untuk mengetahui permintaan pelayanan kesehatan di tinjau dari tingkat pengetahuan pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2005

  4. Untuk mengetahui permintaan pelayanan kesehatan di tinjau dari tingkat tarif pada nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar Tahun 2005


E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat institusional

2. Manfaat ilmiah

3. Manfaat praktis


TINJAUAN PUSTAKA


  1. Tinjaun Umum Tentang Pelayanan Kesehatan

  2. Tinjauan Umum Tentang Permintaan

  3. Tinjauan Umum Tentang Puskesmas

  4. Tinjauan Umum Tentang Nelayan Penyelam

  5. Tinjauan Umum Variabel Yang Diteliti

  1. Pendapatan

  2. Ketersediaan tenaga kesehatan

  3. Pengetahuan

  4. Tarif



KERANGKA KONSEP


  1. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti
  2. Kerangka Konsep

  3. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

  1. Permintaan

  2. Pendapatan

  3. Ketersediaan tenaga kesehatan

  4. Pengetahuan

  5. Tarif


METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan pendekatan observasional,.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Pulau Barrang Lompo pada wilayah kerja Puskesmas Pattingaloang. Kec. Ujung Tanah Kota Makassar

C. Populasi dan sampel

  1. Populasi adalah semua nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo sebanyak 231 orang

  2. Sampel

    1. Besar sampel adalah nelayan penyelam yang terjaring sebagai sampel dengan rumus penentuan besar sampel.

Sehingga, besarnya sampel dalam penelitian ini adalah 85 responden.

    1. Penarikan sampel

Penarikan sampel dengan teknik Purpossive Sampling dengan kriteria sebagai berikut :

1) Responden merupakan nelayan penyelam yang berdomisili di Pulau Barrang Lompo

2) Sudah melakukan penyelaman atau bekerja sebagai penyelam selama 3 – 4 tahun

3) Responden dijumpai pada saat penelitian

4) Responden bersedia diwawancarai dengan menggunakan kuesioner.

D. Pengumpulan Data

  1. Data primer.

  2. Data sekunder

E. Pengolahan dan Penyajian Data

  1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan sistem komputerisasi dengan menggunakan program SPSS Versi 12.0.

2. Penyajian Data

Penyajian data dilakukan dalam bentuk tabel distribusi dan narasi.


HASIL DAN PEMBAHASAN


  1. Permintaan pelayanan kesehatan ditinjau dari pendapatan

Salah satu faktor yang memberikan kontribusi terhadap permintaan pelayanan kesehatan adalah pendapatan, dimana dalam penelitian ini sebagian besar pendapatan nelayan penyelam berada dibawah UMP (Upah Minimum Penghasilan) yaitu dibawah Rp. 510.000,-. Adanya kondisi tersebut dikarenakan setiap hasil penjualan taripang atau ikan harus dibagi hasil dengan juragan, sawi dan nelayan pencari ikan atau taripang tergantung porsi tangkapan yang didapat.

Pendapatan merupakan pertimbangan dalam memilih pelayanan kesehatan, dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendapatan cukup dengan permintaan pelayanan kesehatan tinggi pada nelayan penyelam pulau Barrang Lompo adalah 13 responden (61,9 %) sedangkan permintaan rendah ada 8 responden (38,1 %), dari hasil ini menunjukkan bahwa dengan pendapatan cukup masyarakat nelayan penyelam kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada karena mereka lebih memilih dokter peraktek atau berobat ke Kota Makassar dari pada menggunakan pelayanan kesehatan yang ada karena kadang mereka menerima pelayanan yang kesehatan yang tidak lengkap dan prima akibat keterbatasan sarana dan tenaga yang ada pada Puskesmas Pembantu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan tingkat pendapatan rendah dengan permintaan pelayanan kesehatan tinggi ada 50 responden (78,1 %), sementara yang permintaan pelayanan kesehatan rendah ada 14 responden (21,9 %) dan ini disebabkan kekurang mampuan ekonomi masyarakat nelayan penyelam, dimana pendapatan rata-rata dibawah upah minimum untuk mengakses kebutuhan kesehatannya walaupun permintaan mereka tinggi, sehingga mereka lebih banyak memilih alternatif berobat kedukun.

  1. Permintaan pelayanan kesehatan ditinjau dari ketersediaan tenaga kesehatan

Tenaga kesehatan pada daerah terpencil seperti daerah yang dibatasi dengan laut yaitu Pulau Barrang Lompo sangat sedikit karena kurangnya tenaga yang ingin bertugas ke daerah tersebut dengan berbagai macam alasan. Hal ini sangat mempengaruhi permintaan pelayanan kesehatan masyarakat nelayan penyelam yang ada.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ketersediaan tenaga cukup terhadap permintaan pelayanan kesehatan tinggi ada 47 responden (74,6 %) dan permintaan kesehatan rendah ada 16 responden (25,4 %), ini dikarenakan oleh banyaknya tenaga kesehatan yang tidak menjalankan fungsinya sebagai pelayanan kesehatan. Sedangkan ketersediaan tenaga kesehatan kurang terdiri dari 22 responden dengan permintaan pelayanan kesehatan tinggi ada 16 (72,7 %) dan permintaan pelayanan kesehatan rendah ada 6 responden (27,3 %), dimana dipengaruhi oleh keinginan yang besar untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan yang memadai serta tenaga kesehatan yang kurang sulit untuk mengkaper kebutuhan kesehatan sehingga mereka lebih banyak memilih berobat pada dukun atau sejenisnya.

Ketersediaan tenaga kesehatan yang memadai dalam sebuah puskesmas, maka masyarakat memiliki minat yang tinggi karena berpikir bahwa dengan sekali kunjungan pada puskesmas, mereka telah mendapatkan semua pelayanan kesehatan termasuk pemeriksaan kesehatan penunjang tanpa berpikir untuk berobat ditempat lain setelah kunjungan tersebut.

  1. Permintaan pelayanan kesehatan ditinjau dari tingkat pengetahuan

Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior) karena jika seseorang tidak mengetahui tentang sebuah objek, maka objek tersebut tidak akan menarik bagi seseorang. Demikian pula dengan permintaan pelayanaan kesehatan khususnya puskesmas apalagi itu adalah puskesmas pembantu. Pada saat masyarakat tidak mengetahui tentang manfaat dari puskesmas maka masyarakat akan memandang sebelah mata pada pelayanan kesehatan yang disediakan, yang artinya masyarakat tidak akan meminta atau memanfaatkan pelayanan yang disediakan karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan responden masih kurang tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan dimana dari 68 responden yang memiliki pengetahuan cukup, dengan permintaan pelayanan kesehatan tinggi 52 responden (76,5 %) dan yang permintaan pelayanan rendah 16 responden (23,5 %) pula. Sedangkan responden dengan pengetahuan kurang terdiri dari 49 responden dengan permintaan pelayanan kesehatan tinggi ada 11 responden (64,7 %) dan permintaan rendah ada 6 responden (35,3 %). Ini menggambarkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat nelayan penyelam pulau Barrang Lompo sangat berpengaruh akan permintaan pelayanan kesehatan dan pengetahuan sangat memberi andil dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan.

  1. Permintaan pelayanan kesehatan ditinjau dari aspek tarif pelayanan kesehatan

Berdasarkan keseluruhan responden yang menggunakan pelayanan kesehatan sebagian besar mengatakan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau 35 responden dan yang mengatakan tidak terjangkau atau mahal ada 50 responden ini berarti bahwa tarif pelayanan kesehatan pada masyarakat penyelam dipulau Barrang Lompo pada puskesmas pembantu adalah mahal atau sulit dijangkau oleh masyarakat nelayan penyelam.

Hasil penelitian juga dapat dilihat bahwa dari tingginya permintaan pada masyarakat nelayan yang tidak menjangkau tarif ada 37 responden (74,0 %) dan memiliki permintaan rendah ada 13 responden (26,0 %), ini dikarenakan masyarakat nelayan kesulitan memanfaatkan pelayanan kesehatan akibat tingginya tarif pelayanan sehingga permintaan pelayanan kesehatan rendah dan mereka memilih mencari tempat berobat lain seperti dukun atau tidak berobat sama sekali. Sedangkan yang menjangkau tarif pelayanan kesehatan dengan permintaan pelayanan kesehatan tinggi ada 26 responden (74,3 %) dan dengan permintaan pelayanan kesehatan rendah ada 9 responden (25,7 %). Rendahnya permintaan pelayanan kesehatan pada masyarakat nelayan penyelam yang menjangkau biaya pengobatan karena mereka lebih memilih pengobatan yang lebih lengkap baik tenaga maupun saranan kesehatannya.



KESIMPULAN DAN SARAN


        1. Kesimpulan

  1. Permintaan pelayanan kesehatan oleh masyarakat nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar ditinjau dari tingkat pendapatan berada pada kategori kurang, dari 64 responden yang memiliki pendapatan kurang dengan permintaan pelayanan rendah 14 responden (21,9 %)

  2. Permintaan pelayanan kesehatan oleh masyarakat nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar ditinjau dari ketersediaan tenaga berada pada kategori kurang, dari 22 responden yang mengatakan tenaga kesehatan kurang tersedia dengan permintaan pelayanan kesehatan rendah sebanyak 6 responden (27,3 %)

  3. Permintaan pelayanan kesehatan oleh masyarakat nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar ditinjau dari tingkat pengetahuan nelayan penyelam berada pada kategori pengetahuan kurang, dari 17 responden dengan tingkat pengetahuan kurang terhadap permintaan pelayanan kesehatan rendah sebanyak 6 responden (35,3 %)

  4. Permintaan pelayanan kesehatan oleh masyarakat nelayan penyelam di Pulau Barrang Lompo Kota Makassar ditinjau dari tarif pelayanan kesehatan berada pada kategori tidak terjangkau, dari 50 responden yang tidak dapat menjangkau pelayanan kesehatan terhadap permintaan pelayanan kesehatan rendah sebanyak 13 responden (26,0%)


        1. Saran

    1. Perlunya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau oleh kemampuan ekonomi masyarakat misalnya dengan menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi nelayan penyelam secara gratis.

    2. Kepada Dinas Kesehatan Kota Makassar dalam penempatan tenaga kesehatan lebih mengutamakan daerah kepulauan serta diharapkan adanya bimbingan dan supervisi secara rutin dan teratur guna memperbaiki kekurangan petugas yang ada

    3. Perlunya peningkatan upah/honor/gaji bagi tenaga kesehatan yang mengelenggarakan pelayanan kesehatan penyelam khususnya yang bekerja pada daerah yang lebih terpencil seperti daerah kepulauan.

    4. Masyarakat nelayan penyelam diberikan penyuluhan secara berkala dalam meningkatkan pengetahuan akan kesehatan terutama penyakit akibat menyelam serta cara menghindari serta mengatasinya.


DAFTAR PUSTAKA


Amin. Imran. 2000. Studi Kapasitas Paru Penyelam Tradisional di Pulau Kambuna Kepulauan Sembilan Kabupaten Sinjai Utara. Sinjai.


Azwar. Asrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Binarupa Aksara. Edisi Ketiga. Jakarta.


Biro Pusat Statistik Propinsi Sulawesi Selatan. 2004. Sulawesi Selatan Dalam Angka 2003. Makassar.


Dharma. 1994. Trend Pengelolaan Pelayanan Penunjang. Cermin Dunia Kodekteran. Edisi Khusus No. 91. Jakarta.


Departemen Kesehatan RI. 1991. Puskesmas dan kegiatan Pokoknya Bagi Perkarya Kesehatan Puskesmas. Jakarta.


Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan. 2004. Profil Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2003. Makassar.


Gani. Ascobat. 1989. Ekonomi Kesehatan. Makalah di Sampaikan Pada Lokakarya Ekonomi Kesehatan. Cimaman. 11 Oktober 1989.


Ilyas. Asrul. 2002. Permintaan (Demand) Masyarakat Terhadap Pelayanan Kesehatan Puskesmas Taretta Di Kecamatan Amali Kabupaten Bone. Skripsi STIK TM. Makassar


Isharsuntoro. 1995. Bahan Kursus Selam SCUBA. Yayasan Primus. Surabaya.


Mils. Anne dan Gilson. Terjemahan Budi Susetya dkk. 1990. Ekonomi Kesehatan Untuk Negara-negara Sedang Berkembang. Cetakan Pertama. Dian Rakyat. Jakarta.


MSDC. 2003. Pendidikan dan Pelatihan Selam. Universitas Hasanuddin. Makassar.


. 2003. Aspek Medis Penyelaman. Universitas Hasanuddin. Makassar.


Notoadmotjo, Soekidjo. 1993. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cetakan Pertama. Rineka Cipta. Jakarta.


Notoadmotjo. Soekidjo. 1997. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta. Jakarta


Ngatimin. H. M. Rusli. 1987. Upaya Menciptakan Masyarakat Sehat di Pedesaan. Desertasi Fakultas Pascasarjana UNHAS. Ujung Pandang.


Perhimpunan Kesehatan Hiperbarik Indonesia. PKHI. 2002. Pengantar Ilmu Kesehatan Penyelam. Surabaya.


R. Jayukusli. 1997. Studi Keluhan Pada Penyelam di Pulau Barrang Lompo Kecamatan Ujung tanah. Makassar.


R. Hapsara. Habib. R. 2004. Pembangunan Kesehatan di Indonesia, Prinsip Dasar. Kebijakan, Perencanaan dan Kajian Masa Depannya. Universitas Gadjah Mada Press. Jogjakarta.


Razak. Amran. 2000. Permintaan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Pesisir. Kalam Media Pustaka. Makassar.


Puskesmas Pattingaloang. 2004. Profil Puskesmas Pattingaloang Tahun 2003.


Trisnantoro. 1995. Analisis Demand. Makalah Ekonomi Manajerial Rumah Sakit Program Pengembangan Eksekutif Manajemen Rumah Sakit. Universitas Gadjah Mada 2-10. Yogyakarta.



Dokument lengkap dapat menghubungi


Rhano


Email : joeh_com@yahoo.com


Phone : 085242854524

Tidak ada komentar: