-->
Mangan dn pH Air SGL
Lihat Detail

Mangan dn pH Air SGL

Skripsi


STUDI KUALITAS AIR SUMUR GALI DITINJAU DARI PARAMETER MANGAN DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) AIR DI RW 3 KAMPUNG BUAKKANG MATTA KELURAHAN PACCERAKKANG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR

TAHUN 2006



RINGKASAN


Nismawati A. SKM


Studi Kualitas Air Sumur Gali Ditinjau Dari Parameter Mangan dan Derajat Keasaman (pH) Air Di RW 3 Kampung Buakkang Mata Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2006”

Vii + 66 halaman + 9 tabel + 6 lampiran


Air merupakan zat kehidupan dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi yang tidak membutuhkan air. Air yang dibutuhkan oleh manusia adalah air bersih baik untuk keperluan hidup sehari-hari, kebutuhan industri, kebersihan dan sanitasi kota, kebutuhan pertanian dan lain sebaginya. Oleh sebab itu, dalam rangka penggunaan air yang memenuhi syarat maka air harus melalui pengontrolan standar baku kemurnian air. Salah satu jenis ukuran kualitas air adalah kandung kimiawi yang pada penelitian ini mencakup konsentrasi mangan (Mn) dan derajat keasaman (pH).

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran kadar pH dan mangan (Mg) berdasarkan keadaan konstruksi bangunan sumur gali. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan secara observasi (pengamatan) menggunakan lembar observasi terhadap keadaan konstruksi sumur gali dan pemeriksaan laboratorium pada sample air SGL. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer program Microsoft Excell Profesional 2003 dan Statistical Package of Social Science (SPSS) versi 12.0 yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.

Hasil penelitian diperoleh Keadaan konstruksi sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) sedangkan yang memenuhi syarat hanya mencapai 7 buah sumur (38,9%), Kadar mangan (Mn) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang memenuhi syarat sebanyak 12 (66,7%) dengan kadar Mn yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium <> 0,5 mg/liter, Derajat keasaman (pH) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang pada kategori tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) dengan kadar pH <>

Saran yang diajukan pada penelitian mencakup : pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih maka perlunya dilaksanakan pengadaan sumber air bersih lain yang lebih memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti dengan membuka jaringan air ledeng khususnya masyarakat di Kelurahan Pacerakkang dan pemurnian air terutama air yang bersumber dari sumur gali harus dilaksanakan melalui proses filtrasi, nitrasi dan sebagainya sehingga dapat menghasilkan air yang lebih berkualitas dan tidak memberi dampak kesehatan kepada masyarakat pengguna air SGL.


Daftar Pustaka : 21 (1991 – 2004)


DAFTAR TABEL


No.

Judul

Halaman

5.1

Keadaan Konstruksi Sumur Gali berdasarkan Jarak, Konstruksi Lantai, Bibir, dan Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006



50

5.2

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Lantai Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


51

5.3

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Bibir Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


51

5.4

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


52

5.5

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Jarak Dari Sumber Pencemaran Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


52

5.6

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Keadaan Konstruksi Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


53

5.7

Hasil Pengukuran Kadar Mangan (Mn) dan Derajat Keasaman (pH) Air Sumur Gali Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


54

5.8

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konsentrasi Mangan (Mn) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


55

5.9

Distribusi Sumur Gali (SGL) Berdasarkan Derajat Keasaman (pH) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


55


DAFTAR LAMPIRAN


  1. Master Tabel

  2. Lay Out SPSS Olah Data Master Tabel

  3. Surat Pengantar Izin Penelitian dari FKM UMI Makassar

  4. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan Cq. Balitbangda

  5. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Walikota Makassar

  6. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Camat Biringkanaya

  7. Surat Keterangan Telah Penelitian dari Lurah Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Makassar


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PERSETUJUAN ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL vii

ABSTRAK viii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang 1

  2. Rumusan Masalah 7

  3. Tujuan Penelitian 7

  4. Manfaat Penelitian 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Air 9

  2. Kualitas Air 15

  3. Sumur Gali 30

  4. Parameter Mangan (Mn) dalam Air 35

  5. Derajat Keasaman (pH) Air 37

BAB III KERANGKA KONSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian 39

  2. Skema Pola Pikir Variabel Penelitian 43

  3. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 44

BAB IV METODE PENELITIAN

  1. Jenis Penelitian 46

  2. Lokasi Penelitian 46

  3. Populasi dan Sampel 46

  4. Pengolahan dan Penyajian Data 47

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 48

  2. Hasil Penelitian 49

  3. Pembahasan 56

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan 65

  2. Saran 66

DAFTAR PUSTAKA

LEMBAR OBSERVASI


Dokument lengkap dapat menghubungi


Rhano


Email : joeh_com@yahoo.com


Phone : 085242854524


Skripsi


STUDI KUALITAS AIR SUMUR GALI DITINJAU DARI PARAMETER MANGAN DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) AIR DI RW 3 KAMPUNG BUAKKANG MATTA KELURAHAN PACCERAKKANG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR

TAHUN 2006



RINGKASAN


Nismawati A. SKM


Studi Kualitas Air Sumur Gali Ditinjau Dari Parameter Mangan dan Derajat Keasaman (pH) Air Di RW 3 Kampung Buakkang Mata Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2006”

Vii + 66 halaman + 9 tabel + 6 lampiran


Air merupakan zat kehidupan dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi yang tidak membutuhkan air. Air yang dibutuhkan oleh manusia adalah air bersih baik untuk keperluan hidup sehari-hari, kebutuhan industri, kebersihan dan sanitasi kota, kebutuhan pertanian dan lain sebaginya. Oleh sebab itu, dalam rangka penggunaan air yang memenuhi syarat maka air harus melalui pengontrolan standar baku kemurnian air. Salah satu jenis ukuran kualitas air adalah kandung kimiawi yang pada penelitian ini mencakup konsentrasi mangan (Mn) dan derajat keasaman (pH).

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran kadar pH dan mangan (Mg) berdasarkan keadaan konstruksi bangunan sumur gali. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan secara observasi (pengamatan) menggunakan lembar observasi terhadap keadaan konstruksi sumur gali dan pemeriksaan laboratorium pada sample air SGL. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer program Microsoft Excell Profesional 2003 dan Statistical Package of Social Science (SPSS) versi 12.0 yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.

Hasil penelitian diperoleh Keadaan konstruksi sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) sedangkan yang memenuhi syarat hanya mencapai 7 buah sumur (38,9%), Kadar mangan (Mn) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang memenuhi syarat sebanyak 12 (66,7%) dengan kadar Mn yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium <> 0,5 mg/liter, Derajat keasaman (pH) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang pada kategori tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) dengan kadar pH <>

Saran yang diajukan pada penelitian mencakup : pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih maka perlunya dilaksanakan pengadaan sumber air bersih lain yang lebih memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti dengan membuka jaringan air ledeng khususnya masyarakat di Kelurahan Pacerakkang dan pemurnian air terutama air yang bersumber dari sumur gali harus dilaksanakan melalui proses filtrasi, nitrasi dan sebagainya sehingga dapat menghasilkan air yang lebih berkualitas dan tidak memberi dampak kesehatan kepada masyarakat pengguna air SGL.


Daftar Pustaka : 21 (1991 – 2004)


DAFTAR TABEL


No.

Judul

Halaman

5.1

Keadaan Konstruksi Sumur Gali berdasarkan Jarak, Konstruksi Lantai, Bibir, dan Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006



50

5.2

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Lantai Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


51

5.3

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Bibir Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


51

5.4

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


52

5.5

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Jarak Dari Sumber Pencemaran Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


52

5.6

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Keadaan Konstruksi Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


53

5.7

Hasil Pengukuran Kadar Mangan (Mn) dan Derajat Keasaman (pH) Air Sumur Gali Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


54

5.8

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konsentrasi Mangan (Mn) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


55

5.9

Distribusi Sumur Gali (SGL) Berdasarkan Derajat Keasaman (pH) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


55


DAFTAR LAMPIRAN


  1. Master Tabel

  2. Lay Out SPSS Olah Data Master Tabel

  3. Surat Pengantar Izin Penelitian dari FKM UMI Makassar

  4. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan Cq. Balitbangda

  5. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Walikota Makassar

  6. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Camat Biringkanaya

  7. Surat Keterangan Telah Penelitian dari Lurah Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Makassar


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PERSETUJUAN ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL vii

ABSTRAK viii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang 1

  2. Rumusan Masalah 7

  3. Tujuan Penelitian 7

  4. Manfaat Penelitian 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Air 9

  2. Kualitas Air 15

  3. Sumur Gali 30

  4. Parameter Mangan (Mn) dalam Air 35

  5. Derajat Keasaman (pH) Air 37

BAB III KERANGKA KONSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian 39

  2. Skema Pola Pikir Variabel Penelitian 43

  3. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 44

BAB IV METODE PENELITIAN

  1. Jenis Penelitian 46

  2. Lokasi Penelitian 46

  3. Populasi dan Sampel 46

  4. Pengolahan dan Penyajian Data 47

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 48

  2. Hasil Penelitian 49

  3. Pembahasan 56

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan 65

  2. Saran 66

DAFTAR PUSTAKA

LEMBAR OBSERVASI


Dokument lengkap dapat menghubungi


Rhano


Email : joeh_com@yahoo.com


Phone : 085242854524


Skripsi


STUDI KUALITAS AIR SUMUR GALI DITINJAU DARI PARAMETER MANGAN DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) AIR DI RW 3 KAMPUNG BUAKKANG MATTA KELURAHAN PACCERAKKANG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR

TAHUN 2006



RINGKASAN


Nismawati A. SKM


Studi Kualitas Air Sumur Gali Ditinjau Dari Parameter Mangan dan Derajat Keasaman (pH) Air Di RW 3 Kampung Buakkang Mata Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2006”

Vii + 66 halaman + 9 tabel + 6 lampiran


Air merupakan zat kehidupan dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi yang tidak membutuhkan air. Air yang dibutuhkan oleh manusia adalah air bersih baik untuk keperluan hidup sehari-hari, kebutuhan industri, kebersihan dan sanitasi kota, kebutuhan pertanian dan lain sebaginya. Oleh sebab itu, dalam rangka penggunaan air yang memenuhi syarat maka air harus melalui pengontrolan standar baku kemurnian air. Salah satu jenis ukuran kualitas air adalah kandung kimiawi yang pada penelitian ini mencakup konsentrasi mangan (Mn) dan derajat keasaman (pH).

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran kadar pH dan mangan (Mg) berdasarkan keadaan konstruksi bangunan sumur gali. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan secara observasi (pengamatan) menggunakan lembar observasi terhadap keadaan konstruksi sumur gali dan pemeriksaan laboratorium pada sample air SGL. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer program Microsoft Excell Profesional 2003 dan Statistical Package of Social Science (SPSS) versi 12.0 yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.

Hasil penelitian diperoleh Keadaan konstruksi sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) sedangkan yang memenuhi syarat hanya mencapai 7 buah sumur (38,9%), Kadar mangan (Mn) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang memenuhi syarat sebanyak 12 (66,7%) dengan kadar Mn yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium <> 0,5 mg/liter, Derajat keasaman (pH) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang pada kategori tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) dengan kadar pH <>

Saran yang diajukan pada penelitian mencakup : pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih maka perlunya dilaksanakan pengadaan sumber air bersih lain yang lebih memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti dengan membuka jaringan air ledeng khususnya masyarakat di Kelurahan Pacerakkang dan pemurnian air terutama air yang bersumber dari sumur gali harus dilaksanakan melalui proses filtrasi, nitrasi dan sebagainya sehingga dapat menghasilkan air yang lebih berkualitas dan tidak memberi dampak kesehatan kepada masyarakat pengguna air SGL.


Daftar Pustaka : 21 (1991 – 2004)


DAFTAR TABEL


No.

Judul

Halaman

5.1

Keadaan Konstruksi Sumur Gali berdasarkan Jarak, Konstruksi Lantai, Bibir, dan Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006



50

5.2

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Lantai Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


51

5.3

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Bibir Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


51

5.4

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


52

5.5

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Jarak Dari Sumber Pencemaran Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


52

5.6

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Keadaan Konstruksi Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


53

5.7

Hasil Pengukuran Kadar Mangan (Mn) dan Derajat Keasaman (pH) Air Sumur Gali Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


54

5.8

Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konsentrasi Mangan (Mn) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


55

5.9

Distribusi Sumur Gali (SGL) Berdasarkan Derajat Keasaman (pH) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006


55


DAFTAR LAMPIRAN


  1. Master Tabel

  2. Lay Out SPSS Olah Data Master Tabel

  3. Surat Pengantar Izin Penelitian dari FKM UMI Makassar

  4. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan Cq. Balitbangda

  5. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Walikota Makassar

  6. Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Camat Biringkanaya

  7. Surat Keterangan Telah Penelitian dari Lurah Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Makassar


DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PERSETUJUAN ii

KATA PENGANTAR iii

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL vii

ABSTRAK viii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang 1

  2. Rumusan Masalah 7

  3. Tujuan Penelitian 7

  4. Manfaat Penelitian 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Air 9

  2. Kualitas Air 15

  3. Sumur Gali 30

  4. Parameter Mangan (Mn) dalam Air 35

  5. Derajat Keasaman (pH) Air 37

BAB III KERANGKA KONSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian 39

  2. Skema Pola Pikir Variabel Penelitian 43

  3. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 44

BAB IV METODE PENELITIAN

  1. Jenis Penelitian 46

  2. Lokasi Penelitian 46

  3. Populasi dan Sampel 46

  4. Pengolahan dan Penyajian Data 47

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 48

  2. Hasil Penelitian 49

  3. Pembahasan 56

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan 65

  2. Saran 66

DAFTAR PUSTAKA

LEMBAR OBSERVASI


Dokument lengkap dapat menghubungi


Rhano


Email : joeh_com@yahoo.com


Phone : 085242854524


Kumpulan Judul Skripsi
Lihat Detail

Kumpulan Judul Skripsi

Bagi pengunjung yang berminat untuk memperoleh informasi tentang laporan skripsi, berikut adalah beberapa judul yang memuat masalah penting dalam skripsi khususnya bidang kesehatan.

Bidang Administrasi Kesehatan Masyarakat
1. Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit
2. Mutu pelayanan petugas kesehatan rumah sakit
3. Kinerja petugas dinas kesehatan
4. Mutu pelayanan kesehatan puskesmas
5. Mutu pelayanan petugas kesehatan puskesmas
6. Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit
7. Pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat pesisir
8. Pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas
9. Pemanfaatan pelayanan antenatal care
10. Mutu Pelayanan Antenatal Care

Bidang Epidemiologi
1. Analisis Faktor Risiko Ca Servik
2. Analisis Faktor Risiko PJK
3. Hubungan Rokok dan PJK
4. Ketidakteraturan berobat penderita kusta
5. Ketidakteraturan berobat penderita TB Paru
6. Tingkat kunjungan ibu hamil dalam pemanfaatan pelayanan antenatal care
7. Faktor risiko primigravida
8. Faktor risiko Stroke
9
. Faktor risiko DM
10. Faktor risiko TB Paru Relaps
11. Kelengkapan imunisasi bayi

Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat
1. Status Gizi Bayi
2. Faktor Risiko BBLR
3. Penilaian status gizi bayi/balita
4. Pola makan mahasiswa dan Status gizi
5. Pemberian ASI Eksklusif 0 - 6 bulan
6. Penerapan pola pemberian makanan tambahan anak usia 6 - 24 bulan
7. Tingkat pemberian MP-ASI
8. Tingkat pemberian MP-ASI Lokal

Bidang Kesehatan Lingkungan
1. Tingkat kepadatan lalat
2. Diare hubungannya dengan sanitasi lingkungan
3. ISPA hubungannya dengan kondisi rumah
4. Keadaan Fasilitas sanitasi dasar masyarakat
5. TB Paru hubungannya dengan kondisi rumah
6. Keadaan fasilitas sanitasi dasar rumah sakit

Bidang Kesehatan Kerja
1. Sikap pekerja terhadap K3
2. Perilaku penggunaan APD pada Polantas
3. Perilaku Pekerja dalam Penggunaan APD di Lingkungan kerja

Judul lengkapnya tidak dapat dimuat jadi hanya disampaikan point penting yang memuat masalah seputar penelitian dan kiranya dapat membantu.

Berminat silahkah hubungi nomor : 085242854524
Atau menghubungi alamat email : joeh_com@yahoo.com

Makasih atas kunjungan dan kontaknya.
Bagi pengunjung yang berminat untuk memperoleh informasi tentang laporan skripsi, berikut adalah beberapa judul yang memuat masalah penting dalam skripsi khususnya bidang kesehatan.

Bidang Administrasi Kesehatan Masyarakat
1. Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit
2. Mutu pelayanan petugas kesehatan rumah sakit
3. Kinerja petugas dinas kesehatan
4. Mutu pelayanan kesehatan puskesmas
5. Mutu pelayanan petugas kesehatan puskesmas
6. Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit
7. Pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat pesisir
8. Pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas
9. Pemanfaatan pelayanan antenatal care
10. Mutu Pelayanan Antenatal Care

Bidang Epidemiologi
1. Analisis Faktor Risiko Ca Servik
2. Analisis Faktor Risiko PJK
3. Hubungan Rokok dan PJK
4. Ketidakteraturan berobat penderita kusta
5. Ketidakteraturan berobat penderita TB Paru
6. Tingkat kunjungan ibu hamil dalam pemanfaatan pelayanan antenatal care
7. Faktor risiko primigravida
8. Faktor risiko Stroke
9
. Faktor risiko DM
10. Faktor risiko TB Paru Relaps
11. Kelengkapan imunisasi bayi

Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat
1. Status Gizi Bayi
2. Faktor Risiko BBLR
3. Penilaian status gizi bayi/balita
4. Pola makan mahasiswa dan Status gizi
5. Pemberian ASI Eksklusif 0 - 6 bulan
6. Penerapan pola pemberian makanan tambahan anak usia 6 - 24 bulan
7. Tingkat pemberian MP-ASI
8. Tingkat pemberian MP-ASI Lokal

Bidang Kesehatan Lingkungan
1. Tingkat kepadatan lalat
2. Diare hubungannya dengan sanitasi lingkungan
3. ISPA hubungannya dengan kondisi rumah
4. Keadaan Fasilitas sanitasi dasar masyarakat
5. TB Paru hubungannya dengan kondisi rumah
6. Keadaan fasilitas sanitasi dasar rumah sakit

Bidang Kesehatan Kerja
1. Sikap pekerja terhadap K3
2. Perilaku penggunaan APD pada Polantas
3. Perilaku Pekerja dalam Penggunaan APD di Lingkungan kerja

Judul lengkapnya tidak dapat dimuat jadi hanya disampaikan point penting yang memuat masalah seputar penelitian dan kiranya dapat membantu.

Berminat silahkah hubungi nomor : 085242854524
Atau menghubungi alamat email : joeh_com@yahoo.com

Makasih atas kunjungan dan kontaknya.
Bagi pengunjung yang berminat untuk memperoleh informasi tentang laporan skripsi, berikut adalah beberapa judul yang memuat masalah penting dalam skripsi khususnya bidang kesehatan.

Bidang Administrasi Kesehatan Masyarakat
1. Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit
2. Mutu pelayanan petugas kesehatan rumah sakit
3. Kinerja petugas dinas kesehatan
4. Mutu pelayanan kesehatan puskesmas
5. Mutu pelayanan petugas kesehatan puskesmas
6. Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit
7. Pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat pesisir
8. Pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas
9. Pemanfaatan pelayanan antenatal care
10. Mutu Pelayanan Antenatal Care

Bidang Epidemiologi
1. Analisis Faktor Risiko Ca Servik
2. Analisis Faktor Risiko PJK
3. Hubungan Rokok dan PJK
4. Ketidakteraturan berobat penderita kusta
5. Ketidakteraturan berobat penderita TB Paru
6. Tingkat kunjungan ibu hamil dalam pemanfaatan pelayanan antenatal care
7. Faktor risiko primigravida
8. Faktor risiko Stroke
9
. Faktor risiko DM
10. Faktor risiko TB Paru Relaps
11. Kelengkapan imunisasi bayi

Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat
1. Status Gizi Bayi
2. Faktor Risiko BBLR
3. Penilaian status gizi bayi/balita
4. Pola makan mahasiswa dan Status gizi
5. Pemberian ASI Eksklusif 0 - 6 bulan
6. Penerapan pola pemberian makanan tambahan anak usia 6 - 24 bulan
7. Tingkat pemberian MP-ASI
8. Tingkat pemberian MP-ASI Lokal

Bidang Kesehatan Lingkungan
1. Tingkat kepadatan lalat
2. Diare hubungannya dengan sanitasi lingkungan
3. ISPA hubungannya dengan kondisi rumah
4. Keadaan Fasilitas sanitasi dasar masyarakat
5. TB Paru hubungannya dengan kondisi rumah
6. Keadaan fasilitas sanitasi dasar rumah sakit

Bidang Kesehatan Kerja
1. Sikap pekerja terhadap K3
2. Perilaku penggunaan APD pada Polantas
3. Perilaku Pekerja dalam Penggunaan APD di Lingkungan kerja

Judul lengkapnya tidak dapat dimuat jadi hanya disampaikan point penting yang memuat masalah seputar penelitian dan kiranya dapat membantu.

Berminat silahkah hubungi nomor : 085242854524
Atau menghubungi alamat email : joeh_com@yahoo.com

Makasih atas kunjungan dan kontaknya.
Reset Printer Canon IP 1700
Lihat Detail

Reset Printer Canon IP 1700

TIPS RESET PRINTER CANON IP1700

Yang harus dilakukan pertama adalah pengecekan terhadap keadaan absorber sebagai penampungan tinta jika kita tidak memiliki saluran pembuangan luar (Saya saranin supaya punya saluran pembuangan tinta sisa di luar jadi tidak perlu pusing dengan absorber lagi yang juga kalau diganti pasti harganya sangat mahal). Pada printer yang baru pertama kalinya blinking mungkin untuk sementara waktu masalah absorber tidak usah dirisaukan tapi disarankan untuk mencuci bersih dahulu absorbernya.

Absorber printer merupakan busa penyerap tinta sisa pada saat printer berjalan layaknya sebagai tempat pembuangan dan penampungan seperti septic tank lah. Ini harus dibersihkan terlebih dahulu karena jika sudah full biar reset bagaimanapun tidak bisa dipakai printnya.

Cara bersihin absorber print harus dibongkar (bongkar sendiri aja) tapi serba hati-hati untuk yang pemula membongkar alat elektronik dan harus dihafal betul penempatannya semula supaya setelah pembersihan absorber printnya dapat dipasang ulang seperti kondisi semula.

Selanjutnya absorbernya bisa direndam dengan air panas untuk membuka tinta yang melekat dan sudah kering atau dibilas sampai bersih dengan air bersih. Jangan dicuci layaknya pakaian nanti absorbernya rusak. UPAYAKAN pada saat mencuci dilaksanakan sampai tuntas sehingga air hasil pembilasannya tidak berwarna tinta lagi.

Kemudian keringkan dengan cara dijemur pada terik panas matahari atau menggunakan alat pengering layaknya hairdryer supaya mengefisienkan waktu (jika ada). Setelah absorbernya sudah kering, pasang ulang pada tempatnya semula beserta keseluruhan mesin print yang sudah dibongkar pada kondisi semula. Jangan sampai ada sel mesin print ada yang tidak sejajar atau tidak seimbang supaya kondisi ngeprintnya bagus.

Langkah selanjutnya adalah melaksanakan reset print secara manual dengan cara sebagai berikut :
1. Matikan printnya, cabut kaberl power
2. Tekan tombol power kemudian colokkan kabel power (tombol power print tetap ditekan)
3. Sambil tetap menekan tombol power, tekan/pencet tombol reset/resume 2 kali. Pada tekan pertama kali, lampu indikator berwarna kuning (orange) dan saat pencetan kedua kalinya lampu indikator menjadi hijau (green) kemudian lepaskan keduanya dan lampu indikator berwarna hijau (green) tidak berkedip.

Langkah selanjutnya (langkah ketiga) adalah melaksanakan reset menggunakan software reset canon IP1700-1300 dengan langkah-langkah sebagai berikut
1. Buka file reseter.exe
2. Pilih USB Port
3. Klik Lock RELEASE dan pada set destination pilih IP1700E tidak perlu memberi centang EEPROMCLEAR dulu
4. Pilih main dan platen pada clear waste ink
5. Centang EEPROM CLEAR dan siapkan kertas untuk print dan pilih Test Print 1
6. Selesai, print anda sudah direset dan siap dipakai
TIPS RESET PRINTER CANON IP1700

Yang harus dilakukan pertama adalah pengecekan terhadap keadaan absorber sebagai penampungan tinta jika kita tidak memiliki saluran pembuangan luar (Saya saranin supaya punya saluran pembuangan tinta sisa di luar jadi tidak perlu pusing dengan absorber lagi yang juga kalau diganti pasti harganya sangat mahal). Pada printer yang baru pertama kalinya blinking mungkin untuk sementara waktu masalah absorber tidak usah dirisaukan tapi disarankan untuk mencuci bersih dahulu absorbernya.

Absorber printer merupakan busa penyerap tinta sisa pada saat printer berjalan layaknya sebagai tempat pembuangan dan penampungan seperti septic tank lah. Ini harus dibersihkan terlebih dahulu karena jika sudah full biar reset bagaimanapun tidak bisa dipakai printnya.

Cara bersihin absorber print harus dibongkar (bongkar sendiri aja) tapi serba hati-hati untuk yang pemula membongkar alat elektronik dan harus dihafal betul penempatannya semula supaya setelah pembersihan absorber printnya dapat dipasang ulang seperti kondisi semula.

Selanjutnya absorbernya bisa direndam dengan air panas untuk membuka tinta yang melekat dan sudah kering atau dibilas sampai bersih dengan air bersih. Jangan dicuci layaknya pakaian nanti absorbernya rusak. UPAYAKAN pada saat mencuci dilaksanakan sampai tuntas sehingga air hasil pembilasannya tidak berwarna tinta lagi.

Kemudian keringkan dengan cara dijemur pada terik panas matahari atau menggunakan alat pengering layaknya hairdryer supaya mengefisienkan waktu (jika ada). Setelah absorbernya sudah kering, pasang ulang pada tempatnya semula beserta keseluruhan mesin print yang sudah dibongkar pada kondisi semula. Jangan sampai ada sel mesin print ada yang tidak sejajar atau tidak seimbang supaya kondisi ngeprintnya bagus.

Langkah selanjutnya adalah melaksanakan reset print secara manual dengan cara sebagai berikut :
1. Matikan printnya, cabut kaberl power
2. Tekan tombol power kemudian colokkan kabel power (tombol power print tetap ditekan)
3. Sambil tetap menekan tombol power, tekan/pencet tombol reset/resume 2 kali. Pada tekan pertama kali, lampu indikator berwarna kuning (orange) dan saat pencetan kedua kalinya lampu indikator menjadi hijau (green) kemudian lepaskan keduanya dan lampu indikator berwarna hijau (green) tidak berkedip.

Langkah selanjutnya (langkah ketiga) adalah melaksanakan reset menggunakan software reset canon IP1700-1300 dengan langkah-langkah sebagai berikut
1. Buka file reseter.exe
2. Pilih USB Port
3. Klik Lock RELEASE dan pada set destination pilih IP1700E tidak perlu memberi centang EEPROMCLEAR dulu
4. Pilih main dan platen pada clear waste ink
5. Centang EEPROM CLEAR dan siapkan kertas untuk print dan pilih Test Print 1
6. Selesai, print anda sudah direset dan siap dipakai
TIPS RESET PRINTER CANON IP1700

Yang harus dilakukan pertama adalah pengecekan terhadap keadaan absorber sebagai penampungan tinta jika kita tidak memiliki saluran pembuangan luar (Saya saranin supaya punya saluran pembuangan tinta sisa di luar jadi tidak perlu pusing dengan absorber lagi yang juga kalau diganti pasti harganya sangat mahal). Pada printer yang baru pertama kalinya blinking mungkin untuk sementara waktu masalah absorber tidak usah dirisaukan tapi disarankan untuk mencuci bersih dahulu absorbernya.

Absorber printer merupakan busa penyerap tinta sisa pada saat printer berjalan layaknya sebagai tempat pembuangan dan penampungan seperti septic tank lah. Ini harus dibersihkan terlebih dahulu karena jika sudah full biar reset bagaimanapun tidak bisa dipakai printnya.

Cara bersihin absorber print harus dibongkar (bongkar sendiri aja) tapi serba hati-hati untuk yang pemula membongkar alat elektronik dan harus dihafal betul penempatannya semula supaya setelah pembersihan absorber printnya dapat dipasang ulang seperti kondisi semula.

Selanjutnya absorbernya bisa direndam dengan air panas untuk membuka tinta yang melekat dan sudah kering atau dibilas sampai bersih dengan air bersih. Jangan dicuci layaknya pakaian nanti absorbernya rusak. UPAYAKAN pada saat mencuci dilaksanakan sampai tuntas sehingga air hasil pembilasannya tidak berwarna tinta lagi.

Kemudian keringkan dengan cara dijemur pada terik panas matahari atau menggunakan alat pengering layaknya hairdryer supaya mengefisienkan waktu (jika ada). Setelah absorbernya sudah kering, pasang ulang pada tempatnya semula beserta keseluruhan mesin print yang sudah dibongkar pada kondisi semula. Jangan sampai ada sel mesin print ada yang tidak sejajar atau tidak seimbang supaya kondisi ngeprintnya bagus.

Langkah selanjutnya adalah melaksanakan reset print secara manual dengan cara sebagai berikut :
1. Matikan printnya, cabut kaberl power
2. Tekan tombol power kemudian colokkan kabel power (tombol power print tetap ditekan)
3. Sambil tetap menekan tombol power, tekan/pencet tombol reset/resume 2 kali. Pada tekan pertama kali, lampu indikator berwarna kuning (orange) dan saat pencetan kedua kalinya lampu indikator menjadi hijau (green) kemudian lepaskan keduanya dan lampu indikator berwarna hijau (green) tidak berkedip.

Langkah selanjutnya (langkah ketiga) adalah melaksanakan reset menggunakan software reset canon IP1700-1300 dengan langkah-langkah sebagai berikut
1. Buka file reseter.exe
2. Pilih USB Port
3. Klik Lock RELEASE dan pada set destination pilih IP1700E tidak perlu memberi centang EEPROMCLEAR dulu
4. Pilih main dan platen pada clear waste ink
5. Centang EEPROM CLEAR dan siapkan kertas untuk print dan pilih Test Print 1
6. Selesai, print anda sudah direset dan siap dipakai
Pengetahuan Kespro Remaja
Lihat Detail

Pengetahuan Kespro Remaja

Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Negeri 1 Makassar Dan SMA Negeri 6 Makassar Tahun 2006


Abdul Gani Muhammad


Pendahuluan


  1. Latar Belakang

Kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi tersebut dalam Konferensi Intrnasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development / ICPD) di Kairo tahun 1994 yang kemudian dipertegas dalam Konferensi Se-Dunia IV tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing.

Pentingnya remaja mengetahui kesehatan reproduksi agar mereka memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Masalah kesehatan reproduksi remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut : Kehamilan dan persalinan usia muda dan segala akibatnya, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, narkotika dan obat-obat terlarang, seks bebas, kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan transaksi seksual komersil.

Tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi cukup memprihatinkan, ada 86% remaja laki-laki maupun perempuan yang tidak mengetahui kapan terjadinya masa subur. Permasalahan utama kesehatan reproduksi di Indonesia adalah kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, pergeseran perilaku remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung.

Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan, media massa maupun orang tua serta kemampuan seseorang untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut.

  1. Rumusan Masalah

    1. Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?

    2. Apakah ada perbedaan sikap terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?

  2. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh informasi tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi.

    1. Tujuan Khusus

  1. Untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.

  2. Untuk melihat perbedaan sikap terhadap kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.

  1. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Praktis

    2. Manfaat Keilmuan



Kepustakaan

  1. Kajian Kespro Remaja

  2. Masalah Kesehatan Reproduksi

  3. Kajian tentang Pengetahuan

  4. Kajian tentang Sikap

  5. Kajian tentang Siswa/Remaja


Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode survei, dengan rancangan cross sectional study

  1. Populasi dan Sampel

  1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Makassar dan SMAN 6 Makassar

  1. Sampel

Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pengetahuan proportional Stratified Random Sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus statistik besar sampel sehingga diperoleh besar sampel sebanyak 338 siswa-siswi.

  1. Pengumpulan Data

Melaksanakan wawancara langsung dengan bantuan pertanyaan terstruktur dan penelusuran literatur yang berhubungan dengan penelitian.

  1. Pengolahan Data

Menggunakan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan kebutuhan statistik data.

  1. Analisa Data

Meninjau nilai chi square test (X2) hitung yang kemudian dibandingkan dengan nilai X2 tabel.

  1. Penyajian Data

Dalam bentuk tabel distribusi frekuensi gambaran masing-masing karakteristik dan variabel penelitian dan tabel silang 2 x 2 untuk menjawab tujuan penelitian.


Hasil Penelitian dan Pembahasan

Mayoritas responden memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS dari guru mereka yakni sebanyak 24.56%. Dari jumlah total tersebut, responden yang berasal dari SMAN 1 Makassar adalah yang lebih banyak yakni 56 orang atau sebesar 16.57%, sementara responden dari SMAN 6 Makassar hanya sebesar 7.99%.

Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.

Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.

Secara kuantitatif, siswa SMAN 1 Makassar lebih banyak bersikap positif terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan dengan siswa SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,275) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.022) <>o dan menolak Ha.


Kesimpulan

    1. Tidak ada perbedaan pengetahuan di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar,

    2. Tidak ada perbedaan sikap di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar


Daftar Pustaka

Abdullah, Tahir. Bahan Kuliah Metode Kontrasepsi. Makassar : FKM UNHAS, 2001.


Budiarto, Eko. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : EGC, 2003.


Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya : usaha Nasional, 1982.


Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan, 1999.


Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.


Saparie, Gunoto. Kesehatan reproduksi Remaja Terabaikan. http://www.suarakarya-online.com,8-7-2005.


Sarwono, W, Sarlito. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002.


Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta, 2001.



Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Negeri 1 Makassar Dan SMA Negeri 6 Makassar Tahun 2006


Abdul Gani Muhammad


Pendahuluan


  1. Latar Belakang

Kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi tersebut dalam Konferensi Intrnasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development / ICPD) di Kairo tahun 1994 yang kemudian dipertegas dalam Konferensi Se-Dunia IV tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing.

Pentingnya remaja mengetahui kesehatan reproduksi agar mereka memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Masalah kesehatan reproduksi remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut : Kehamilan dan persalinan usia muda dan segala akibatnya, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, narkotika dan obat-obat terlarang, seks bebas, kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan transaksi seksual komersil.

Tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi cukup memprihatinkan, ada 86% remaja laki-laki maupun perempuan yang tidak mengetahui kapan terjadinya masa subur. Permasalahan utama kesehatan reproduksi di Indonesia adalah kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, pergeseran perilaku remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung.

Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan, media massa maupun orang tua serta kemampuan seseorang untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut.

  1. Rumusan Masalah

    1. Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?

    2. Apakah ada perbedaan sikap terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?

  2. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh informasi tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi.

    1. Tujuan Khusus

  1. Untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.

  2. Untuk melihat perbedaan sikap terhadap kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.

  1. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Praktis

    2. Manfaat Keilmuan



Kepustakaan

  1. Kajian Kespro Remaja

  2. Masalah Kesehatan Reproduksi

  3. Kajian tentang Pengetahuan

  4. Kajian tentang Sikap

  5. Kajian tentang Siswa/Remaja


Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode survei, dengan rancangan cross sectional study

  1. Populasi dan Sampel

  1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Makassar dan SMAN 6 Makassar

  1. Sampel

Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pengetahuan proportional Stratified Random Sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus statistik besar sampel sehingga diperoleh besar sampel sebanyak 338 siswa-siswi.

  1. Pengumpulan Data

Melaksanakan wawancara langsung dengan bantuan pertanyaan terstruktur dan penelusuran literatur yang berhubungan dengan penelitian.

  1. Pengolahan Data

Menggunakan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan kebutuhan statistik data.

  1. Analisa Data

Meninjau nilai chi square test (X2) hitung yang kemudian dibandingkan dengan nilai X2 tabel.

  1. Penyajian Data

Dalam bentuk tabel distribusi frekuensi gambaran masing-masing karakteristik dan variabel penelitian dan tabel silang 2 x 2 untuk menjawab tujuan penelitian.


Hasil Penelitian dan Pembahasan

Mayoritas responden memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS dari guru mereka yakni sebanyak 24.56%. Dari jumlah total tersebut, responden yang berasal dari SMAN 1 Makassar adalah yang lebih banyak yakni 56 orang atau sebesar 16.57%, sementara responden dari SMAN 6 Makassar hanya sebesar 7.99%.

Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.

Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.

Secara kuantitatif, siswa SMAN 1 Makassar lebih banyak bersikap positif terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan dengan siswa SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,275) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.022) <>o dan menolak Ha.


Kesimpulan

    1. Tidak ada perbedaan pengetahuan di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar,

    2. Tidak ada perbedaan sikap di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar


Daftar Pustaka

Abdullah, Tahir. Bahan Kuliah Metode Kontrasepsi. Makassar : FKM UNHAS, 2001.


Budiarto, Eko. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : EGC, 2003.


Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya : usaha Nasional, 1982.


Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan, 1999.


Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.


Saparie, Gunoto. Kesehatan reproduksi Remaja Terabaikan. http://www.suarakarya-online.com,8-7-2005.


Sarwono, W, Sarlito. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002.


Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta, 2001.



Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Negeri 1 Makassar Dan SMA Negeri 6 Makassar Tahun 2006


Abdul Gani Muhammad


Pendahuluan


  1. Latar Belakang

Kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi tersebut dalam Konferensi Intrnasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development / ICPD) di Kairo tahun 1994 yang kemudian dipertegas dalam Konferensi Se-Dunia IV tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing.

Pentingnya remaja mengetahui kesehatan reproduksi agar mereka memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Masalah kesehatan reproduksi remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut : Kehamilan dan persalinan usia muda dan segala akibatnya, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, narkotika dan obat-obat terlarang, seks bebas, kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan transaksi seksual komersil.

Tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi cukup memprihatinkan, ada 86% remaja laki-laki maupun perempuan yang tidak mengetahui kapan terjadinya masa subur. Permasalahan utama kesehatan reproduksi di Indonesia adalah kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, pergeseran perilaku remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung.

Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan, media massa maupun orang tua serta kemampuan seseorang untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut.

  1. Rumusan Masalah

    1. Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?

    2. Apakah ada perbedaan sikap terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?

  2. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh informasi tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi.

    1. Tujuan Khusus

  1. Untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.

  2. Untuk melihat perbedaan sikap terhadap kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.

  1. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Praktis

    2. Manfaat Keilmuan



Kepustakaan

  1. Kajian Kespro Remaja

  2. Masalah Kesehatan Reproduksi

  3. Kajian tentang Pengetahuan

  4. Kajian tentang Sikap

  5. Kajian tentang Siswa/Remaja


Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini menggunakan metode survei, dengan rancangan cross sectional study

  1. Populasi dan Sampel

  1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Makassar dan SMAN 6 Makassar

  1. Sampel

Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pengetahuan proportional Stratified Random Sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus statistik besar sampel sehingga diperoleh besar sampel sebanyak 338 siswa-siswi.

  1. Pengumpulan Data

Melaksanakan wawancara langsung dengan bantuan pertanyaan terstruktur dan penelusuran literatur yang berhubungan dengan penelitian.

  1. Pengolahan Data

Menggunakan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan kebutuhan statistik data.

  1. Analisa Data

Meninjau nilai chi square test (X2) hitung yang kemudian dibandingkan dengan nilai X2 tabel.

  1. Penyajian Data

Dalam bentuk tabel distribusi frekuensi gambaran masing-masing karakteristik dan variabel penelitian dan tabel silang 2 x 2 untuk menjawab tujuan penelitian.


Hasil Penelitian dan Pembahasan

Mayoritas responden memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS dari guru mereka yakni sebanyak 24.56%. Dari jumlah total tersebut, responden yang berasal dari SMAN 1 Makassar adalah yang lebih banyak yakni 56 orang atau sebesar 16.57%, sementara responden dari SMAN 6 Makassar hanya sebesar 7.99%.

Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.

Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.

Secara kuantitatif, siswa SMAN 1 Makassar lebih banyak bersikap positif terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan dengan siswa SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,275) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.022) <>o dan menolak Ha.


Kesimpulan

    1. Tidak ada perbedaan pengetahuan di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar,

    2. Tidak ada perbedaan sikap di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar


Daftar Pustaka

Abdullah, Tahir. Bahan Kuliah Metode Kontrasepsi. Makassar : FKM UNHAS, 2001.


Budiarto, Eko. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : EGC, 2003.


Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya : usaha Nasional, 1982.


Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan, 1999.


Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.


Saparie, Gunoto. Kesehatan reproduksi Remaja Terabaikan. http://www.suarakarya-online.com,8-7-2005.


Sarwono, W, Sarlito. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002.


Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta, 2001.



Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik
Lihat Detail

Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik

Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik


Moh Joeharno, SKM


Pendahuluan


  1. Latar Belakang

Upaya pemberantasan penyakit menular dan tidak menular merupakan salah satu program dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.

Terjadinya perubahan gaya hidup sebagai dampak dari transisi demografi merupakan tantangan terhadap upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.

Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.

Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut.

Kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak ditemukan pada wanita di dunia. Kurang lebih 500.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi tiap tahun dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang.

Menurut Siregar (2002), Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak diderita oleh wanita dan merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada wanita. Oleh sebab itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka penanggulangan terhadap kejadian kanker servik yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Kanker servik uteri atau leher rahim ini menduduki peringkat utama pada kasus kanker yang menyerang wanita di Indonesia. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga kini jumlah penderitanya mencapai 50 per 100.000 penduduk.

Penanggulangan kanker masih merupakan masalah yang cukup berat. Penderita biasa datang dalam keadaan stadium lanjut. Itu beralasan, mengingat pada tahap awal sering tak menampakkan gejala khas.

Ketidaktahuan kaum wanita terhadap penanggulangan kanker servik tentunya berhubungan dengan keterlambatan untuk memeriksakan kesehatan dirinya terutama kesehatan reproduksi.

Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik.

Data kunjungan Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo yang tergabung dalam rekam medik menujukkan bahwa jumlah penderita kanker servik yang datang berobat cenderung meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2001 terdapat 50 kasus, tahun 2002 sebanyak 116 kasus, tahun 2003 sebanyak 131 kasus dan tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 117 kasus.

Hal ini memberikan indikasi bahwa penaggulangan terhadap kejadian kanker servik di Kota Makassar masih relatif kurang yang dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya perhatian terhadap penanggulangan penyakit ini masih relatif rendah.

Salah satu aspek yang mendukung upaya penanggulangan kanker servik adalah pelaksanaan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker servik sehingga dengan hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan acuan dalam penyusunan rencana program penanggulangan kanker servik.

  1. Rumusan Masalah

    1. Benarkah umur merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

    2. Benarkah umur perkawinan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

    3. Benarkah paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

  2. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker servik.

    1. Tujuan Khusus

  1. Menganalisis besar risiko faktor umur terhadap kejadian kanker servik

  2. Menganalisis besar risiko faktor umur perkawinan terhadap kejadian kanker servik

  3. Menganalisis besar risiko faktor paritas terhadap kejadian kanker servik

  1. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat praktis

    2. Manfaat keilmuan

    3. Manfaat bagi peneliti


Kepustakaan

      1. Tinjauan tentang Kanker

      2. Tinjauan tentang Kanker Servik

      3. Tinjauan Faktor Risiko Kanker Servik

      4. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

  1. Kanker servik

Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).

Keriteria objektif

a. Kanker servik : Jika sesuai dengan kriteria diatas dan terdiagnosis kanker servik berdasarkan hasil anamnese dan pemeriksaan melalui Pap’s Smear Test, biopsi dan CT Sken seperti yang tercatat dalam status rekam medik pasien.

b. Bukan kanker servik : Jika tidak sesuai dengan kriteria diatas

  1. Umur

Yang dimaksud umur dalam penelitian adalah perhitungan lama kehidupan dimana dihitung berdasarkan waktu kelahiran hidup pertama hingga pada saat penelitian berlangsung berdasarkan status yang tercantum dalam rekam medik.

Kriteria objektif

a. Risiko Tinggi : Jika umur wanita > 35 tahun

b. Risiko Rendah : Jika umur wanita ≤ 35 tahun

  1. Umur Perkawinan

Umur perkawinan adalah umur seorang wanita pada saat melakukan ikatan resmi pertama kali dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Umur perkawinan ini dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran sampai pada saat melakukan akad nikah pertama.

Kriteria objektif

a. Risiko Tinggi : Jika umur perkawinan ≤ 20 tahun

b. Risiko Rendah : Jika umur perkawinan > 20 tahun

  1. Paritas

Paritas adalah banyaknya kelahiran yang dialami oleh seorang wanita atau banyaknya anak yang dilahirkan.

a. Risiko Tinggi : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan > 3 orang

b. Risiko Rendah : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan ≤ 3 orang

      1. Hipotesis Penelitian

  1. Hipotesis null (Ho)

        1. Umur > 35 tahun bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik

        2. Umur perkawinan ≤ 20 tahun bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

        3. Paritas > 3 bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

    1. Hipotesis alternatif (Ha)

        1. Umur > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik

        2. Umur perkawinan ≤ 20 tahun merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

        3. Paritas > 3 merupakan actor risiko kejadian kanker servik


Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Case Control Study.

  1. Populasi dan Sampel

        1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kanker servik menurut laporan rekam medik BLU Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode 2001 – 2004 yang berjumlah 414 kasus.

        1. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi. Terdapat 2 golongan yaitu sebagai berikut:

    1. Kasus adalah penderita kanker servik.

    2. Kontrol adalah bukan penderita kanker servik yang disamakan berdasarkan status pendidikan.

Penentuan besar sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel Lemeshow et.al.dengan perkiraan OR = 2,00 dalam jarak 50 % dengan derajat kepercayaan 95 %. Perkiraan besar sampel 0,50 dan didapatkan jumlah sampel 68 dengan perbandingan sampel kasus dan kontrol 1 : 1 sehingga jumlah keseluruhan 136 sampel.

Sampel diambil dengan teknik purpossive sampling dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Terdiagnosis kanker servik pada stadium tertentu

  2. Telah menjalani pengobatan

  3. Pada sampel dengan status kawin dan tidak sedang pada perkawinan lebih dari 1 kali

  4. Status rekam medis lengkap

  1. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari laporan rekapitulasi penderita kanker servik BLU RS Dr. Wahidin Sudirohusodo.

  1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Setelah data dikumpulkan dilapangan, ceklist diperiksa kelengkapannya apakah sesuai dengan instrumen yang ada, bila ceklist tidak lengkap maka harus kembali kelapangan

  2. Bila semua ceklist terisi sesuai dengan petunjuk pengisian maka langkah selanjutnya adalah memberikan perlakuan terhadap data tersebut yang terdiri atas editing, coding, tabulating, mengolah data, melakukan analisis dan menarik kesimpulan.

  1. Analisa Data

        1. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum variabel yang diteliti.

        1. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Karena rancangan penelitian adalah studi kasus dan kontrol maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR).

  1. Penyajian Data

Dalam bentuk tabel analisis univariat dan bivariat


Hasil Penelitian dan Pembahasan

Responden terbanyak berada pada kelompok umur 41 – 45 tahun sebanyak 35 (25,7%) dan terendah pada kelompok umur 21 – 25 tahun sebanyak 1 (0,7%).

Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan responden, tertinggi sampai jenjang SMA sebanyak 38 responden (27,9%) dan terendah dengan jenjang pendidikan Stara 1 sebanyak 18 responden (13,2%).

Angka tertinggi ditunjukkan pada ibu yang tidak bekerja diluar rumah (URT) sebanyak 73 responden (53,7%) sedangkan jenis pekerjaan yang banyak digeluti responden penelitian adalah sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 39 responden (28,7%) dan terendah pada responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 4 responden (2,9%).

Sebagian besar responden telah memiliki lama perkawinan 11 – 20 tahun sebanyak 52 (38,2%) sedangkan yang terendah adalah mereka yang memiliki lama perkawinan ≤ 10 tahun sebanyak 19 responden (14,0%).

Sebagian besar responden melaksanakan perkawinan pada umur antara 21 – 30 tahun sebanyak 82 (60,3%) sedangkan terendah adalah pada umur > 30 tahun sebanyak 14 (10,3%).

Sebagian besar responden telah memiliki anak <> 7 orang sebanyak 10 responden (7,4%).

Responden dengan umur yang berisiko tinggi terhadap kanker servik sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 63 (53,4%) sedangkan responden dengan umur berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada bukan penderita kanker servik (kontrol) sebanyak 13 (72,2%).

Odds Ratio (OR) diperoleh nilai = 2,979 yang berarti bahwa umur > 35 tahun berisiko 3 kali mengalami kanker servik. Jika ditinjau dari nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 0,998 dan nilai upper limit = 8,884 yang menunjukkan bahwa nilai upper dan lower limit mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan tidak bermakna.

Responden yang melaksanakan perkawinan pada umur berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 24 (70,0%) sedangkan responden yang melaksanakan perkawinan pada umur yang berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada kontrol (bukan penderita kanker servik) sebanyak 56 (58,3%).

Nilai OR = 3,267 yang berarti bahwa perempuan yang melaksanakan perkawinan pada umur ≤ 20 tahun berisiko 3,3 kali terhadap kejadian kanker servik. Jika dengan memperhitungkan nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 1,485 dan nilai upper limit = 7,188 yang tidak mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna.

Responden dengan paritas yang berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada sampel kasus (penderita kanker servik) sebanyak 41 (70,7%) sedangkan sampel dengan paritas dengan risiko rendah sebagian besar terdistribusi pada sampel kontrol (bukan penderita) kanker servik sebanyak 51 sampel (65,4%).

Odds Ratio diperoleh nilai OR = 4,556 yang berarti bahwa paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,6 kali pada ibu dengan paritas > 3 untuk terkena kanker servik. Jika dengan mempertimbangkan aspek confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 2,1889 dan nilai upper limit = 9,481 dimana nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 sehingga risiko yang ditimbulkan bermakna.


Keterbatasan Penelitian

  1. Keterbatasan variabel penelitian

  2. Keterbatasan peneliti


Kesimpulan

  1. Umur bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 dimana umur lebih dari 30 tahun tidak memberikan pengaruh terhadap kejadian kanker servik.

  2. Umur perkawinan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 2,545 kali untuk mengalami kanker servik pada perempuan yang melaksanakan perkawinan pada usia ≤ 20 tahun dibandingkan dengan perkawinan pada usia > 20 tahun dengan hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna sehingga Ho ditolak.

  3. Paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,556 kali untuk terkena kanker servik pada perempuan dengan paritas > 3 dibandingkan perempuan dengan paritas ≤ 3 dengan hubungan yang ditimbulkan bermakna sehingga Ho ditolak.


Saran

  1. Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap kanker servik terutama dengan melaksanakan penyuluhan tentang kanker servik yang dimulai sejak dini yaitu pada perempuan di usia remaja

  2. Perlunya pemberian aktivitas tambahan kepada kaum remaja dala upaya penundaan usia perkawinan sehingga dapat mencegah terjadinya kanker servik

  3. Perlunya penanganan yang lebih lanjut terhadap kejadian kanker servik dengan melaksanakan penyebaran informasi kepada ibu rumah tangga dimana informasi tersebut merupakan upaya untuk merendahkan angka kehamilan sehingga salah satu faktor risiko kanker servik yaitu paritas dapat diatasi.

  4. Perlunya penelitian lebih lanjut dari beberapa faktor yang menjadi risiko terhadap kejadian kanker servik yang dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka upaya penanggulangan dan pencegahan kematian dan kesakitan akibat kanker servik.


Daftar Pustaka

Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1999.


Arna Glasier dan Alisa Gebbie, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005.


Depkes RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta, 2003.


Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 2003.


Eko Budiarto, Metodologi Penelitian Kedokteran sebagai Pengantar, Jakarta, EGC, 2003.


Eko Budiarto dan Dewi Anggraeni, Pengantar Epidemiologi, Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.


Erik Tapan, Kanker, Antioksidan dan Terapi Komplementer, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005.


Lemeshow,dkk, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. University Press. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta, 1995.


M. N. Bustan, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000.


Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta, 1998.


Sugiyono, 2002, Statistika Untuk Penelitian, CV. Alvabeta, Bandung


Wim De Jong, Kanker, Apakah Itu ? Pengobatan, Harapan hidup dan Dukungan Keluarga, Jakarta, Arcan, 2004.



Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik


Moh Joeharno, SKM


Pendahuluan


  1. Latar Belakang

Upaya pemberantasan penyakit menular dan tidak menular merupakan salah satu program dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.

Terjadinya perubahan gaya hidup sebagai dampak dari transisi demografi merupakan tantangan terhadap upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.

Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.

Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut.

Kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak ditemukan pada wanita di dunia. Kurang lebih 500.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi tiap tahun dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang.

Menurut Siregar (2002), Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak diderita oleh wanita dan merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada wanita. Oleh sebab itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka penanggulangan terhadap kejadian kanker servik yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Kanker servik uteri atau leher rahim ini menduduki peringkat utama pada kasus kanker yang menyerang wanita di Indonesia. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga kini jumlah penderitanya mencapai 50 per 100.000 penduduk.

Penanggulangan kanker masih merupakan masalah yang cukup berat. Penderita biasa datang dalam keadaan stadium lanjut. Itu beralasan, mengingat pada tahap awal sering tak menampakkan gejala khas.

Ketidaktahuan kaum wanita terhadap penanggulangan kanker servik tentunya berhubungan dengan keterlambatan untuk memeriksakan kesehatan dirinya terutama kesehatan reproduksi.

Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik.

Data kunjungan Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo yang tergabung dalam rekam medik menujukkan bahwa jumlah penderita kanker servik yang datang berobat cenderung meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2001 terdapat 50 kasus, tahun 2002 sebanyak 116 kasus, tahun 2003 sebanyak 131 kasus dan tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 117 kasus.

Hal ini memberikan indikasi bahwa penaggulangan terhadap kejadian kanker servik di Kota Makassar masih relatif kurang yang dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya perhatian terhadap penanggulangan penyakit ini masih relatif rendah.

Salah satu aspek yang mendukung upaya penanggulangan kanker servik adalah pelaksanaan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker servik sehingga dengan hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan acuan dalam penyusunan rencana program penanggulangan kanker servik.

  1. Rumusan Masalah

    1. Benarkah umur merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

    2. Benarkah umur perkawinan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

    3. Benarkah paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

  2. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker servik.

    1. Tujuan Khusus

  1. Menganalisis besar risiko faktor umur terhadap kejadian kanker servik

  2. Menganalisis besar risiko faktor umur perkawinan terhadap kejadian kanker servik

  3. Menganalisis besar risiko faktor paritas terhadap kejadian kanker servik

  1. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat praktis

    2. Manfaat keilmuan

    3. Manfaat bagi peneliti


Kepustakaan

      1. Tinjauan tentang Kanker

      2. Tinjauan tentang Kanker Servik

      3. Tinjauan Faktor Risiko Kanker Servik

      4. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

  1. Kanker servik

Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).

Keriteria objektif

a. Kanker servik : Jika sesuai dengan kriteria diatas dan terdiagnosis kanker servik berdasarkan hasil anamnese dan pemeriksaan melalui Pap’s Smear Test, biopsi dan CT Sken seperti yang tercatat dalam status rekam medik pasien.

b. Bukan kanker servik : Jika tidak sesuai dengan kriteria diatas

  1. Umur

Yang dimaksud umur dalam penelitian adalah perhitungan lama kehidupan dimana dihitung berdasarkan waktu kelahiran hidup pertama hingga pada saat penelitian berlangsung berdasarkan status yang tercantum dalam rekam medik.

Kriteria objektif

a. Risiko Tinggi : Jika umur wanita > 35 tahun

b. Risiko Rendah : Jika umur wanita ≤ 35 tahun

  1. Umur Perkawinan

Umur perkawinan adalah umur seorang wanita pada saat melakukan ikatan resmi pertama kali dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Umur perkawinan ini dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran sampai pada saat melakukan akad nikah pertama.

Kriteria objektif

a. Risiko Tinggi : Jika umur perkawinan ≤ 20 tahun

b. Risiko Rendah : Jika umur perkawinan > 20 tahun

  1. Paritas

Paritas adalah banyaknya kelahiran yang dialami oleh seorang wanita atau banyaknya anak yang dilahirkan.

a. Risiko Tinggi : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan > 3 orang

b. Risiko Rendah : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan ≤ 3 orang

      1. Hipotesis Penelitian

  1. Hipotesis null (Ho)

        1. Umur > 35 tahun bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik

        2. Umur perkawinan ≤ 20 tahun bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

        3. Paritas > 3 bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

    1. Hipotesis alternatif (Ha)

        1. Umur > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik

        2. Umur perkawinan ≤ 20 tahun merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

        3. Paritas > 3 merupakan actor risiko kejadian kanker servik


Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Case Control Study.

  1. Populasi dan Sampel

        1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kanker servik menurut laporan rekam medik BLU Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode 2001 – 2004 yang berjumlah 414 kasus.

        1. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi. Terdapat 2 golongan yaitu sebagai berikut:

    1. Kasus adalah penderita kanker servik.

    2. Kontrol adalah bukan penderita kanker servik yang disamakan berdasarkan status pendidikan.

Penentuan besar sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel Lemeshow et.al.dengan perkiraan OR = 2,00 dalam jarak 50 % dengan derajat kepercayaan 95 %. Perkiraan besar sampel 0,50 dan didapatkan jumlah sampel 68 dengan perbandingan sampel kasus dan kontrol 1 : 1 sehingga jumlah keseluruhan 136 sampel.

Sampel diambil dengan teknik purpossive sampling dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Terdiagnosis kanker servik pada stadium tertentu

  2. Telah menjalani pengobatan

  3. Pada sampel dengan status kawin dan tidak sedang pada perkawinan lebih dari 1 kali

  4. Status rekam medis lengkap

  1. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari laporan rekapitulasi penderita kanker servik BLU RS Dr. Wahidin Sudirohusodo.

  1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Setelah data dikumpulkan dilapangan, ceklist diperiksa kelengkapannya apakah sesuai dengan instrumen yang ada, bila ceklist tidak lengkap maka harus kembali kelapangan

  2. Bila semua ceklist terisi sesuai dengan petunjuk pengisian maka langkah selanjutnya adalah memberikan perlakuan terhadap data tersebut yang terdiri atas editing, coding, tabulating, mengolah data, melakukan analisis dan menarik kesimpulan.

  1. Analisa Data

        1. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum variabel yang diteliti.

        1. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Karena rancangan penelitian adalah studi kasus dan kontrol maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR).

  1. Penyajian Data

Dalam bentuk tabel analisis univariat dan bivariat


Hasil Penelitian dan Pembahasan

Responden terbanyak berada pada kelompok umur 41 – 45 tahun sebanyak 35 (25,7%) dan terendah pada kelompok umur 21 – 25 tahun sebanyak 1 (0,7%).

Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan responden, tertinggi sampai jenjang SMA sebanyak 38 responden (27,9%) dan terendah dengan jenjang pendidikan Stara 1 sebanyak 18 responden (13,2%).

Angka tertinggi ditunjukkan pada ibu yang tidak bekerja diluar rumah (URT) sebanyak 73 responden (53,7%) sedangkan jenis pekerjaan yang banyak digeluti responden penelitian adalah sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 39 responden (28,7%) dan terendah pada responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 4 responden (2,9%).

Sebagian besar responden telah memiliki lama perkawinan 11 – 20 tahun sebanyak 52 (38,2%) sedangkan yang terendah adalah mereka yang memiliki lama perkawinan ≤ 10 tahun sebanyak 19 responden (14,0%).

Sebagian besar responden melaksanakan perkawinan pada umur antara 21 – 30 tahun sebanyak 82 (60,3%) sedangkan terendah adalah pada umur > 30 tahun sebanyak 14 (10,3%).

Sebagian besar responden telah memiliki anak <> 7 orang sebanyak 10 responden (7,4%).

Responden dengan umur yang berisiko tinggi terhadap kanker servik sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 63 (53,4%) sedangkan responden dengan umur berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada bukan penderita kanker servik (kontrol) sebanyak 13 (72,2%).

Odds Ratio (OR) diperoleh nilai = 2,979 yang berarti bahwa umur > 35 tahun berisiko 3 kali mengalami kanker servik. Jika ditinjau dari nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 0,998 dan nilai upper limit = 8,884 yang menunjukkan bahwa nilai upper dan lower limit mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan tidak bermakna.

Responden yang melaksanakan perkawinan pada umur berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 24 (70,0%) sedangkan responden yang melaksanakan perkawinan pada umur yang berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada kontrol (bukan penderita kanker servik) sebanyak 56 (58,3%).

Nilai OR = 3,267 yang berarti bahwa perempuan yang melaksanakan perkawinan pada umur ≤ 20 tahun berisiko 3,3 kali terhadap kejadian kanker servik. Jika dengan memperhitungkan nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 1,485 dan nilai upper limit = 7,188 yang tidak mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna.

Responden dengan paritas yang berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada sampel kasus (penderita kanker servik) sebanyak 41 (70,7%) sedangkan sampel dengan paritas dengan risiko rendah sebagian besar terdistribusi pada sampel kontrol (bukan penderita) kanker servik sebanyak 51 sampel (65,4%).

Odds Ratio diperoleh nilai OR = 4,556 yang berarti bahwa paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,6 kali pada ibu dengan paritas > 3 untuk terkena kanker servik. Jika dengan mempertimbangkan aspek confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 2,1889 dan nilai upper limit = 9,481 dimana nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 sehingga risiko yang ditimbulkan bermakna.


Keterbatasan Penelitian

  1. Keterbatasan variabel penelitian

  2. Keterbatasan peneliti


Kesimpulan

  1. Umur bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 dimana umur lebih dari 30 tahun tidak memberikan pengaruh terhadap kejadian kanker servik.

  2. Umur perkawinan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 2,545 kali untuk mengalami kanker servik pada perempuan yang melaksanakan perkawinan pada usia ≤ 20 tahun dibandingkan dengan perkawinan pada usia > 20 tahun dengan hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna sehingga Ho ditolak.

  3. Paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,556 kali untuk terkena kanker servik pada perempuan dengan paritas > 3 dibandingkan perempuan dengan paritas ≤ 3 dengan hubungan yang ditimbulkan bermakna sehingga Ho ditolak.


Saran

  1. Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap kanker servik terutama dengan melaksanakan penyuluhan tentang kanker servik yang dimulai sejak dini yaitu pada perempuan di usia remaja

  2. Perlunya pemberian aktivitas tambahan kepada kaum remaja dala upaya penundaan usia perkawinan sehingga dapat mencegah terjadinya kanker servik

  3. Perlunya penanganan yang lebih lanjut terhadap kejadian kanker servik dengan melaksanakan penyebaran informasi kepada ibu rumah tangga dimana informasi tersebut merupakan upaya untuk merendahkan angka kehamilan sehingga salah satu faktor risiko kanker servik yaitu paritas dapat diatasi.

  4. Perlunya penelitian lebih lanjut dari beberapa faktor yang menjadi risiko terhadap kejadian kanker servik yang dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka upaya penanggulangan dan pencegahan kematian dan kesakitan akibat kanker servik.


Daftar Pustaka

Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1999.


Arna Glasier dan Alisa Gebbie, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005.


Depkes RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta, 2003.


Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 2003.


Eko Budiarto, Metodologi Penelitian Kedokteran sebagai Pengantar, Jakarta, EGC, 2003.


Eko Budiarto dan Dewi Anggraeni, Pengantar Epidemiologi, Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.


Erik Tapan, Kanker, Antioksidan dan Terapi Komplementer, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005.


Lemeshow,dkk, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. University Press. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta, 1995.


M. N. Bustan, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000.


Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta, 1998.


Sugiyono, 2002, Statistika Untuk Penelitian, CV. Alvabeta, Bandung


Wim De Jong, Kanker, Apakah Itu ? Pengobatan, Harapan hidup dan Dukungan Keluarga, Jakarta, Arcan, 2004.



Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik


Moh Joeharno, SKM


Pendahuluan


  1. Latar Belakang

Upaya pemberantasan penyakit menular dan tidak menular merupakan salah satu program dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.

Terjadinya perubahan gaya hidup sebagai dampak dari transisi demografi merupakan tantangan terhadap upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.

Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.

Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut.

Kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak ditemukan pada wanita di dunia. Kurang lebih 500.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi tiap tahun dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang.

Menurut Siregar (2002), Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak diderita oleh wanita dan merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada wanita. Oleh sebab itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka penanggulangan terhadap kejadian kanker servik yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Kanker servik uteri atau leher rahim ini menduduki peringkat utama pada kasus kanker yang menyerang wanita di Indonesia. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga kini jumlah penderitanya mencapai 50 per 100.000 penduduk.

Penanggulangan kanker masih merupakan masalah yang cukup berat. Penderita biasa datang dalam keadaan stadium lanjut. Itu beralasan, mengingat pada tahap awal sering tak menampakkan gejala khas.

Ketidaktahuan kaum wanita terhadap penanggulangan kanker servik tentunya berhubungan dengan keterlambatan untuk memeriksakan kesehatan dirinya terutama kesehatan reproduksi.

Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik.

Data kunjungan Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo yang tergabung dalam rekam medik menujukkan bahwa jumlah penderita kanker servik yang datang berobat cenderung meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2001 terdapat 50 kasus, tahun 2002 sebanyak 116 kasus, tahun 2003 sebanyak 131 kasus dan tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 117 kasus.

Hal ini memberikan indikasi bahwa penaggulangan terhadap kejadian kanker servik di Kota Makassar masih relatif kurang yang dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya perhatian terhadap penanggulangan penyakit ini masih relatif rendah.

Salah satu aspek yang mendukung upaya penanggulangan kanker servik adalah pelaksanaan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker servik sehingga dengan hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan acuan dalam penyusunan rencana program penanggulangan kanker servik.

  1. Rumusan Masalah

    1. Benarkah umur merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

    2. Benarkah umur perkawinan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

    3. Benarkah paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?

  2. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker servik.

    1. Tujuan Khusus

  1. Menganalisis besar risiko faktor umur terhadap kejadian kanker servik

  2. Menganalisis besar risiko faktor umur perkawinan terhadap kejadian kanker servik

  3. Menganalisis besar risiko faktor paritas terhadap kejadian kanker servik

  1. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat praktis

    2. Manfaat keilmuan

    3. Manfaat bagi peneliti


Kepustakaan

      1. Tinjauan tentang Kanker

      2. Tinjauan tentang Kanker Servik

      3. Tinjauan Faktor Risiko Kanker Servik

      4. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

  1. Kanker servik

Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).

Keriteria objektif

a. Kanker servik : Jika sesuai dengan kriteria diatas dan terdiagnosis kanker servik berdasarkan hasil anamnese dan pemeriksaan melalui Pap’s Smear Test, biopsi dan CT Sken seperti yang tercatat dalam status rekam medik pasien.

b. Bukan kanker servik : Jika tidak sesuai dengan kriteria diatas

  1. Umur

Yang dimaksud umur dalam penelitian adalah perhitungan lama kehidupan dimana dihitung berdasarkan waktu kelahiran hidup pertama hingga pada saat penelitian berlangsung berdasarkan status yang tercantum dalam rekam medik.

Kriteria objektif

a. Risiko Tinggi : Jika umur wanita > 35 tahun

b. Risiko Rendah : Jika umur wanita ≤ 35 tahun

  1. Umur Perkawinan

Umur perkawinan adalah umur seorang wanita pada saat melakukan ikatan resmi pertama kali dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Umur perkawinan ini dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran sampai pada saat melakukan akad nikah pertama.

Kriteria objektif

a. Risiko Tinggi : Jika umur perkawinan ≤ 20 tahun

b. Risiko Rendah : Jika umur perkawinan > 20 tahun

  1. Paritas

Paritas adalah banyaknya kelahiran yang dialami oleh seorang wanita atau banyaknya anak yang dilahirkan.

a. Risiko Tinggi : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan > 3 orang

b. Risiko Rendah : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan ≤ 3 orang

      1. Hipotesis Penelitian

  1. Hipotesis null (Ho)

        1. Umur > 35 tahun bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik

        2. Umur perkawinan ≤ 20 tahun bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

        3. Paritas > 3 bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

    1. Hipotesis alternatif (Ha)

        1. Umur > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik

        2. Umur perkawinan ≤ 20 tahun merupakan faktor risiko kejadian kanker servik

        3. Paritas > 3 merupakan actor risiko kejadian kanker servik


Metode Penelitian

  1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Case Control Study.

  1. Populasi dan Sampel

        1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kanker servik menurut laporan rekam medik BLU Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode 2001 – 2004 yang berjumlah 414 kasus.

        1. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi. Terdapat 2 golongan yaitu sebagai berikut:

    1. Kasus adalah penderita kanker servik.

    2. Kontrol adalah bukan penderita kanker servik yang disamakan berdasarkan status pendidikan.

Penentuan besar sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel Lemeshow et.al.dengan perkiraan OR = 2,00 dalam jarak 50 % dengan derajat kepercayaan 95 %. Perkiraan besar sampel 0,50 dan didapatkan jumlah sampel 68 dengan perbandingan sampel kasus dan kontrol 1 : 1 sehingga jumlah keseluruhan 136 sampel.

Sampel diambil dengan teknik purpossive sampling dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Terdiagnosis kanker servik pada stadium tertentu

  2. Telah menjalani pengobatan

  3. Pada sampel dengan status kawin dan tidak sedang pada perkawinan lebih dari 1 kali

  4. Status rekam medis lengkap

  1. Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari laporan rekapitulasi penderita kanker servik BLU RS Dr. Wahidin Sudirohusodo.

  1. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Setelah data dikumpulkan dilapangan, ceklist diperiksa kelengkapannya apakah sesuai dengan instrumen yang ada, bila ceklist tidak lengkap maka harus kembali kelapangan

  2. Bila semua ceklist terisi sesuai dengan petunjuk pengisian maka langkah selanjutnya adalah memberikan perlakuan terhadap data tersebut yang terdiri atas editing, coding, tabulating, mengolah data, melakukan analisis dan menarik kesimpulan.

  1. Analisa Data

        1. Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum variabel yang diteliti.

        1. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Karena rancangan penelitian adalah studi kasus dan kontrol maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR).

  1. Penyajian Data

Dalam bentuk tabel analisis univariat dan bivariat


Hasil Penelitian dan Pembahasan

Responden terbanyak berada pada kelompok umur 41 – 45 tahun sebanyak 35 (25,7%) dan terendah pada kelompok umur 21 – 25 tahun sebanyak 1 (0,7%).

Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan responden, tertinggi sampai jenjang SMA sebanyak 38 responden (27,9%) dan terendah dengan jenjang pendidikan Stara 1 sebanyak 18 responden (13,2%).

Angka tertinggi ditunjukkan pada ibu yang tidak bekerja diluar rumah (URT) sebanyak 73 responden (53,7%) sedangkan jenis pekerjaan yang banyak digeluti responden penelitian adalah sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 39 responden (28,7%) dan terendah pada responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 4 responden (2,9%).

Sebagian besar responden telah memiliki lama perkawinan 11 – 20 tahun sebanyak 52 (38,2%) sedangkan yang terendah adalah mereka yang memiliki lama perkawinan ≤ 10 tahun sebanyak 19 responden (14,0%).

Sebagian besar responden melaksanakan perkawinan pada umur antara 21 – 30 tahun sebanyak 82 (60,3%) sedangkan terendah adalah pada umur > 30 tahun sebanyak 14 (10,3%).

Sebagian besar responden telah memiliki anak <> 7 orang sebanyak 10 responden (7,4%).

Responden dengan umur yang berisiko tinggi terhadap kanker servik sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 63 (53,4%) sedangkan responden dengan umur berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada bukan penderita kanker servik (kontrol) sebanyak 13 (72,2%).

Odds Ratio (OR) diperoleh nilai = 2,979 yang berarti bahwa umur > 35 tahun berisiko 3 kali mengalami kanker servik. Jika ditinjau dari nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 0,998 dan nilai upper limit = 8,884 yang menunjukkan bahwa nilai upper dan lower limit mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan tidak bermakna.

Responden yang melaksanakan perkawinan pada umur berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 24 (70,0%) sedangkan responden yang melaksanakan perkawinan pada umur yang berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada kontrol (bukan penderita kanker servik) sebanyak 56 (58,3%).

Nilai OR = 3,267 yang berarti bahwa perempuan yang melaksanakan perkawinan pada umur ≤ 20 tahun berisiko 3,3 kali terhadap kejadian kanker servik. Jika dengan memperhitungkan nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 1,485 dan nilai upper limit = 7,188 yang tidak mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna.

Responden dengan paritas yang berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada sampel kasus (penderita kanker servik) sebanyak 41 (70,7%) sedangkan sampel dengan paritas dengan risiko rendah sebagian besar terdistribusi pada sampel kontrol (bukan penderita) kanker servik sebanyak 51 sampel (65,4%).

Odds Ratio diperoleh nilai OR = 4,556 yang berarti bahwa paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,6 kali pada ibu dengan paritas > 3 untuk terkena kanker servik. Jika dengan mempertimbangkan aspek confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 2,1889 dan nilai upper limit = 9,481 dimana nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 sehingga risiko yang ditimbulkan bermakna.


Keterbatasan Penelitian

  1. Keterbatasan variabel penelitian

  2. Keterbatasan peneliti


Kesimpulan

  1. Umur bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 dimana umur lebih dari 30 tahun tidak memberikan pengaruh terhadap kejadian kanker servik.

  2. Umur perkawinan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 2,545 kali untuk mengalami kanker servik pada perempuan yang melaksanakan perkawinan pada usia ≤ 20 tahun dibandingkan dengan perkawinan pada usia > 20 tahun dengan hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna sehingga Ho ditolak.

  3. Paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,556 kali untuk terkena kanker servik pada perempuan dengan paritas > 3 dibandingkan perempuan dengan paritas ≤ 3 dengan hubungan yang ditimbulkan bermakna sehingga Ho ditolak.


Saran

  1. Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap kanker servik terutama dengan melaksanakan penyuluhan tentang kanker servik yang dimulai sejak dini yaitu pada perempuan di usia remaja

  2. Perlunya pemberian aktivitas tambahan kepada kaum remaja dala upaya penundaan usia perkawinan sehingga dapat mencegah terjadinya kanker servik

  3. Perlunya penanganan yang lebih lanjut terhadap kejadian kanker servik dengan melaksanakan penyebaran informasi kepada ibu rumah tangga dimana informasi tersebut merupakan upaya untuk merendahkan angka kehamilan sehingga salah satu faktor risiko kanker servik yaitu paritas dapat diatasi.

  4. Perlunya penelitian lebih lanjut dari beberapa faktor yang menjadi risiko terhadap kejadian kanker servik yang dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka upaya penanggulangan dan pencegahan kematian dan kesakitan akibat kanker servik.


Daftar Pustaka

Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1999.


Arna Glasier dan Alisa Gebbie, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005.


Depkes RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta, 2003.


Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 2003.


Eko Budiarto, Metodologi Penelitian Kedokteran sebagai Pengantar, Jakarta, EGC, 2003.


Eko Budiarto dan Dewi Anggraeni, Pengantar Epidemiologi, Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.


Erik Tapan, Kanker, Antioksidan dan Terapi Komplementer, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005.


Lemeshow,dkk, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. University Press. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta, 1995.


M. N. Bustan, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000.


Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta, 1998.


Sugiyono, 2002, Statistika Untuk Penelitian, CV. Alvabeta, Bandung


Wim De Jong, Kanker, Apakah Itu ? Pengobatan, Harapan hidup dan Dukungan Keluarga, Jakarta, Arcan, 2004.



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
Lihat Detail

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT

Skripsi/Thesis
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
Tinjauan dari Persepsi Pasien
Oleh :
Burhanuddin Gamrin, SKM dan M. Joeharno, SKM

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak. Tidak hanya orang-per orang atau keluarga, akan tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh seluruh anggota masyarakat. Adapun yang dimaksudkan dengan sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (U.U No 23 tahun 1992).
Kesehatan dipandang sebagai sumber daya yang memberikan kemampuan pada individu, kelompok, dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mengelola bahkan merubah pola hidup, kebiasaan dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan arah pembangunan kesehatan kita yang meninggalkan paradigma lama menuju paradigma sehat, dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010 (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan kebutuhan derajat masyarakat (consumer satisfaction), melalui pelayanan yang efektif oleh pemberi pelayanan yang memuaskan harapan dan kebutuhan pemberi pelayanan (provider satisfaction), pada institusi pelayanan yang diselenggarakan secara efisien (institutional satisfaction). Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesehatan yang serasi, selaras dan seimbang, merupakan paduan dari kepuasan tiga pihak, dan ini merupakan pelayanan kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care) (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah langkah terpenting untuk meningkatkan daya saing usaha Indonesia di sektor kesehatan. Hal ini tidak ringan karena peningkatan mutu tersebut bukan hanya untuk rumah sakit saja tetapi berlaku untuk semua tingkatan pelayanan kesehatan mulai dari Puskesmas Pembantu dan Puskesmas, baik di fasilitas pemerintahan maupun swasta (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa masyarakat pengguna pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta semakin menuntut pelayanan yang bermutu. Tak dapat dipungkiri bahwa kini pasien semakin kritis terhadap pelayanan kesehatan dan menuntut keamanannya (Sulastomo, 2005).
Berbagai fakta menunjukkan adanya masalah serius dalam mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena belum adanya sistem pengendali mutu yang terbaik yang dapat diterapkan. Pemahaman secara lebih mendalam tentang good governance merupakan salah satu upaya terhadap perwujudan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu (Laksono, 2005).
Upaya peningkatan mutu adalah aksioma yang lemah capaian individunya, pada umumnya mencerminkan kegagalan sistem atau ketidakmampuan dari suatu organisasi memandang dan mengimprovisasikan sistem jaminan mutu. Gagasan peningkatan kualitas mutu merupakan tantangan di dalam suatu organisasi pelayanan kesehatan (Sulastomo, 2006).
Rumah sakit merupakan suatu tempat untuk melakukan upaya meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan. Masyarakat telah menganggap bahwa rumah sakit adalah harapan terakhir bagi orang yang sedang sakit. Bahkan ada sebagian masyarakat yang berperilaku untuk cepat-cepat berobat ke rumah sakit, jika mereka menderita suatu penyakit tertentu. Agar dicapai tingkat pelayanan kesehatan yang berkualitas, rumah sakit mengupayakan itu dengan meningkatkan berbagai fasilitas pelayanan (Sudarwanto, 1995).
Peningkatan mutu sebagai salah satu upaya merupakan tujuan fundamental dari pelayanan kesehatan, yakni melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan organisasi tersebut. Hal ini merupakan suatu proses dengan output yang baru akan dapat terlihat pada program jangka menengah ataupun program jangka panjang (Sulastomo, 2006).
Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan kepada klien oleh suatu tim multi disiplin. Pelayanan kesehatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa kesehatan utama dimana setiap rumah sakit bertanggung gugat terhadap penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai dan harapan dari penerima jasa pelayanan tersebut. Disamping itu, penekanan pelayanan kepada kualitas yang tinggi tersebut harus dapat dicapai dengan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan (Ely Nurachma, 2007).
Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti dan menganalisis beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan di RS Massenrempulu Kabupaten Enrekang.

  1. Batasan Masalah
Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa aspek namun karena aspek keterbatasan yang dimiliki peneliti maka pada penelitian ini hanya dibatasi pada aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas pelayanan.

  1. Rumusan Masalah
Bagaimana mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap ditinjau dari aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang ?”

  1. Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan pada pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang.
    1. Tujuan Khusus
  1. Untuk menganalisis hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

  1. Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Ilmiah
    2. Manfaat Institusi
    3. Manfaat Bagi Peneliti



  1. Tinjauan Umum Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit
  3. Tinjauam Umum Tentang Variabel Yang Diteliti
KERANGKA KONSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
Beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan akan dijelaskan sebagai berikut.
  1. Jumlah Petugas
Jumlah petugas merupakan salah satu aspek yang menunjang pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan petugas yang kurang menyebabkan penyelenggaraan pelayanan dilaksanakan tidak maksimal dan kurang memenuhi kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Selain itu, petugas sendiri akan mengalami kewalahan dalam menjalankan tugasnya yang pada nantinya akan menurunkan tingkat kemampuan kerja yang diberikan petugas kepada pasien di rumah sakit.
  1. Ketanggapan petugas
Ketanggapan petugas berhubungan dengan aspek kesigapan dari petugas dalam memenuhi kebutuhan pasien akan pelayanan yang dinginkan. Tingkat kesigapan dari petugass kesehatan dalam memberikan pelayanan merupakan salahs atu aspek yang mempengaruhi penilaian pasien atas mutu pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Kehandalan petugas
Kehandalan berhubungan dengan tingkat kemampuan dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam menyelenggarakan dan memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Tingkat kemampuan dan keterampilan yang kurang dari tenaga kesehatan tentunya akan memberikan pelayanan yang kurang memenuhi kepuasan pasien sebagai standar penilaian terhadap mutu pelayanan.
  1. Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
Fasilitas merupakan sarana bantu bagi instansi dan tenaga kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan fasilitas yang memadai akan membantu terhadap penyelenggaraan pelayanan kepada pasien.

  1. Pola Pikir Variabel Penelitian
Berdasarkan dasar pemikiran yang telah dijelaskan sebelumnya di atas maka dapat disusun bagan pemikiran variabel penelitian sebagai berikut













Keterangan
: Variabel independen
: Variabel dependen

  1. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
  1. Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Jumlah Petugas
  3. Ketanggapan Petugas
  4. Kehandalan Petugas
  5. Ketersediaan/Kelengkapan Fasilitas
  1. Hipotesis Penelitian
  1. Hipotesis Null (Ho)
  1. Tidak ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
  1. Hipotesis Alternatif (Ha)
  1. Ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

METODE PENELITIAN

      1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan analitik rancangan Cross Sectional Study
      1. Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kab Enrekang yang telah mendapatkan perawatan
  1. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah sebahagian dari populasi yang ditentukan berdasarkan teknik pengambilan sampel secara proporsional stratified random sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus sebagai berikut.
n =
Dimana :
n = besarnya sampel dalam penelitian
N = besarnya populasi dalam penelitian
d = tingkat kepercayaan (0,05)
      1. Pengumpulan Data
  1. Data Primer
Data primer diperoleh dengan melaksanakan wawancara langsung
  1. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui instansi terkait
      1. Pengolahan dan Analisa Data
  1. Pengolahan Data
Pengolahan data penelitian dilaksanakan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS for windows dengan langkah-langkah sebagai berikut.
        1. Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban
        2. Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan dalam pengolahan dan menganalisis data dengan memberikan kode dalam bentuk angka. Berdasarkan perhitungan Skala Likert dimana setiap jawaban “Selau” diberi nilai 5, “Sering” diberi nilai 4, kadang-kadang diberi nilai 3, “Pernah” diberi nilai 2 dan jika jawaban “Tidak Pernah” diberi nilai 1.
        3. Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding (master tabel)
  1. Analisa Data
Analisis data ditujukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan uji Chi Square Test dengan rumus sebagai berikut :
X2 =
Dimana :
O = nilai observasi
E = Nilai ekspektasi (harapan)
df = (c – 1) (r – 1)
Hasil uji statistik dikatakan bermakna jika nilai p < α – 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika nilai ekspektif kurang dari 5 maka uji statistik dengan menggunakan rumus Fisher’s Exact Test yaitu :
      1. Penyajian Data
Data yang telah diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi analisis univariat dan tabel silang analisis bivariat dalam rangka menganalisis hubungan variabel independen terhadap variabel dependen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  1. Karakteristik Responden
  1. Umur
Responden tertinggi berada pada kelompok umur 20 – 29 tahun sebanyak 57 (55,9%) dan terendah pada kelompok umur <>
  1. Jenis Kelamin
Responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 56 (54,9%).
  1. Pendidikan
Responden tertinggi telah menamatkan pendidikan pada jenjang SMA sederajat sebanyak 52 (51%) dan terendah tidak sekolah dan SMP masing-masing sebanyak 7 (6,9%).
  1. Pekerjaan
Responden tertinggi dengan status tidak bekerja/URT sebanyak 35 (34,3%) sedangkan yang bekerja tertinggi sebagai wiraswasta sebanyak 31 (30,4%) dan terendah yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 3 (2,9%).
  1. Variabel Penelitian
  1. Jumlah Petugas
Lebih dominan responden menyatakan jumlah petugas yang memberikan pelayanan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup sebanyak 64 (62,7%).


Skripsi/Thesis
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
Tinjauan dari Persepsi Pasien
Oleh :
Burhanuddin Gamrin, SKM dan M. Joeharno, SKM

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak. Tidak hanya orang-per orang atau keluarga, akan tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh seluruh anggota masyarakat. Adapun yang dimaksudkan dengan sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (U.U No 23 tahun 1992).
Kesehatan dipandang sebagai sumber daya yang memberikan kemampuan pada individu, kelompok, dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mengelola bahkan merubah pola hidup, kebiasaan dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan arah pembangunan kesehatan kita yang meninggalkan paradigma lama menuju paradigma sehat, dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010 (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan kebutuhan derajat masyarakat (consumer satisfaction), melalui pelayanan yang efektif oleh pemberi pelayanan yang memuaskan harapan dan kebutuhan pemberi pelayanan (provider satisfaction), pada institusi pelayanan yang diselenggarakan secara efisien (institutional satisfaction). Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesehatan yang serasi, selaras dan seimbang, merupakan paduan dari kepuasan tiga pihak, dan ini merupakan pelayanan kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care) (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah langkah terpenting untuk meningkatkan daya saing usaha Indonesia di sektor kesehatan. Hal ini tidak ringan karena peningkatan mutu tersebut bukan hanya untuk rumah sakit saja tetapi berlaku untuk semua tingkatan pelayanan kesehatan mulai dari Puskesmas Pembantu dan Puskesmas, baik di fasilitas pemerintahan maupun swasta (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa masyarakat pengguna pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta semakin menuntut pelayanan yang bermutu. Tak dapat dipungkiri bahwa kini pasien semakin kritis terhadap pelayanan kesehatan dan menuntut keamanannya (Sulastomo, 2005).
Berbagai fakta menunjukkan adanya masalah serius dalam mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena belum adanya sistem pengendali mutu yang terbaik yang dapat diterapkan. Pemahaman secara lebih mendalam tentang good governance merupakan salah satu upaya terhadap perwujudan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu (Laksono, 2005).
Upaya peningkatan mutu adalah aksioma yang lemah capaian individunya, pada umumnya mencerminkan kegagalan sistem atau ketidakmampuan dari suatu organisasi memandang dan mengimprovisasikan sistem jaminan mutu. Gagasan peningkatan kualitas mutu merupakan tantangan di dalam suatu organisasi pelayanan kesehatan (Sulastomo, 2006).
Rumah sakit merupakan suatu tempat untuk melakukan upaya meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan. Masyarakat telah menganggap bahwa rumah sakit adalah harapan terakhir bagi orang yang sedang sakit. Bahkan ada sebagian masyarakat yang berperilaku untuk cepat-cepat berobat ke rumah sakit, jika mereka menderita suatu penyakit tertentu. Agar dicapai tingkat pelayanan kesehatan yang berkualitas, rumah sakit mengupayakan itu dengan meningkatkan berbagai fasilitas pelayanan (Sudarwanto, 1995).
Peningkatan mutu sebagai salah satu upaya merupakan tujuan fundamental dari pelayanan kesehatan, yakni melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan organisasi tersebut. Hal ini merupakan suatu proses dengan output yang baru akan dapat terlihat pada program jangka menengah ataupun program jangka panjang (Sulastomo, 2006).
Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan kepada klien oleh suatu tim multi disiplin. Pelayanan kesehatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa kesehatan utama dimana setiap rumah sakit bertanggung gugat terhadap penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai dan harapan dari penerima jasa pelayanan tersebut. Disamping itu, penekanan pelayanan kepada kualitas yang tinggi tersebut harus dapat dicapai dengan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan (Ely Nurachma, 2007).
Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti dan menganalisis beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan di RS Massenrempulu Kabupaten Enrekang.

  1. Batasan Masalah
Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa aspek namun karena aspek keterbatasan yang dimiliki peneliti maka pada penelitian ini hanya dibatasi pada aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas pelayanan.

  1. Rumusan Masalah
Bagaimana mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap ditinjau dari aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang ?”

  1. Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan pada pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang.
    1. Tujuan Khusus
  1. Untuk menganalisis hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

  1. Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Ilmiah
    2. Manfaat Institusi
    3. Manfaat Bagi Peneliti



  1. Tinjauan Umum Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit
  3. Tinjauam Umum Tentang Variabel Yang Diteliti
KERANGKA KONSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
Beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan akan dijelaskan sebagai berikut.
  1. Jumlah Petugas
Jumlah petugas merupakan salah satu aspek yang menunjang pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan petugas yang kurang menyebabkan penyelenggaraan pelayanan dilaksanakan tidak maksimal dan kurang memenuhi kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Selain itu, petugas sendiri akan mengalami kewalahan dalam menjalankan tugasnya yang pada nantinya akan menurunkan tingkat kemampuan kerja yang diberikan petugas kepada pasien di rumah sakit.
  1. Ketanggapan petugas
Ketanggapan petugas berhubungan dengan aspek kesigapan dari petugas dalam memenuhi kebutuhan pasien akan pelayanan yang dinginkan. Tingkat kesigapan dari petugass kesehatan dalam memberikan pelayanan merupakan salahs atu aspek yang mempengaruhi penilaian pasien atas mutu pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Kehandalan petugas
Kehandalan berhubungan dengan tingkat kemampuan dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam menyelenggarakan dan memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Tingkat kemampuan dan keterampilan yang kurang dari tenaga kesehatan tentunya akan memberikan pelayanan yang kurang memenuhi kepuasan pasien sebagai standar penilaian terhadap mutu pelayanan.
  1. Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
Fasilitas merupakan sarana bantu bagi instansi dan tenaga kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan fasilitas yang memadai akan membantu terhadap penyelenggaraan pelayanan kepada pasien.

  1. Pola Pikir Variabel Penelitian
Berdasarkan dasar pemikiran yang telah dijelaskan sebelumnya di atas maka dapat disusun bagan pemikiran variabel penelitian sebagai berikut













Keterangan
: Variabel independen
: Variabel dependen

  1. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
  1. Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Jumlah Petugas
  3. Ketanggapan Petugas
  4. Kehandalan Petugas
  5. Ketersediaan/Kelengkapan Fasilitas
  1. Hipotesis Penelitian
  1. Hipotesis Null (Ho)
  1. Tidak ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
  1. Hipotesis Alternatif (Ha)
  1. Ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

METODE PENELITIAN

      1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan analitik rancangan Cross Sectional Study
      1. Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kab Enrekang yang telah mendapatkan perawatan
  1. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah sebahagian dari populasi yang ditentukan berdasarkan teknik pengambilan sampel secara proporsional stratified random sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus sebagai berikut.
n =
Dimana :
n = besarnya sampel dalam penelitian
N = besarnya populasi dalam penelitian
d = tingkat kepercayaan (0,05)
      1. Pengumpulan Data
  1. Data Primer
Data primer diperoleh dengan melaksanakan wawancara langsung
  1. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui instansi terkait
      1. Pengolahan dan Analisa Data
  1. Pengolahan Data
Pengolahan data penelitian dilaksanakan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS for windows dengan langkah-langkah sebagai berikut.
        1. Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban
        2. Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan dalam pengolahan dan menganalisis data dengan memberikan kode dalam bentuk angka. Berdasarkan perhitungan Skala Likert dimana setiap jawaban “Selau” diberi nilai 5, “Sering” diberi nilai 4, kadang-kadang diberi nilai 3, “Pernah” diberi nilai 2 dan jika jawaban “Tidak Pernah” diberi nilai 1.
        3. Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding (master tabel)
  1. Analisa Data
Analisis data ditujukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan uji Chi Square Test dengan rumus sebagai berikut :
X2 =
Dimana :
O = nilai observasi
E = Nilai ekspektasi (harapan)
df = (c – 1) (r – 1)
Hasil uji statistik dikatakan bermakna jika nilai p < α – 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika nilai ekspektif kurang dari 5 maka uji statistik dengan menggunakan rumus Fisher’s Exact Test yaitu :
      1. Penyajian Data
Data yang telah diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi analisis univariat dan tabel silang analisis bivariat dalam rangka menganalisis hubungan variabel independen terhadap variabel dependen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  1. Karakteristik Responden
  1. Umur
Responden tertinggi berada pada kelompok umur 20 – 29 tahun sebanyak 57 (55,9%) dan terendah pada kelompok umur <>
  1. Jenis Kelamin
Responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 56 (54,9%).
  1. Pendidikan
Responden tertinggi telah menamatkan pendidikan pada jenjang SMA sederajat sebanyak 52 (51%) dan terendah tidak sekolah dan SMP masing-masing sebanyak 7 (6,9%).
  1. Pekerjaan
Responden tertinggi dengan status tidak bekerja/URT sebanyak 35 (34,3%) sedangkan yang bekerja tertinggi sebagai wiraswasta sebanyak 31 (30,4%) dan terendah yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 3 (2,9%).
  1. Variabel Penelitian
  1. Jumlah Petugas
Lebih dominan responden menyatakan jumlah petugas yang memberikan pelayanan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup sebanyak 64 (62,7%).


Skripsi/Thesis
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
Tinjauan dari Persepsi Pasien
Oleh :
Burhanuddin Gamrin, SKM dan M. Joeharno, SKM

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Terwujudnya keadaan sehat merupakan kehendak semua pihak. Tidak hanya orang-per orang atau keluarga, akan tetapi juga oleh kelompok dan bahkan oleh seluruh anggota masyarakat. Adapun yang dimaksudkan dengan sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (U.U No 23 tahun 1992).
Kesehatan dipandang sebagai sumber daya yang memberikan kemampuan pada individu, kelompok, dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mengelola bahkan merubah pola hidup, kebiasaan dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan arah pembangunan kesehatan kita yang meninggalkan paradigma lama menuju paradigma sehat, dalam rangka menuju Indonesia Sehat 2010 (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Tujuan pelayanan kesehatan adalah tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang memuaskan harapan dan kebutuhan derajat masyarakat (consumer satisfaction), melalui pelayanan yang efektif oleh pemberi pelayanan yang memuaskan harapan dan kebutuhan pemberi pelayanan (provider satisfaction), pada institusi pelayanan yang diselenggarakan secara efisien (institutional satisfaction). Interaksi ketiga pilar utama pelayanan kesehatan yang serasi, selaras dan seimbang, merupakan paduan dari kepuasan tiga pihak, dan ini merupakan pelayanan kesehatan yang memuaskan (satisfactory healty care) (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah langkah terpenting untuk meningkatkan daya saing usaha Indonesia di sektor kesehatan. Hal ini tidak ringan karena peningkatan mutu tersebut bukan hanya untuk rumah sakit saja tetapi berlaku untuk semua tingkatan pelayanan kesehatan mulai dari Puskesmas Pembantu dan Puskesmas, baik di fasilitas pemerintahan maupun swasta (Ahmad Djojosugitjo, 2001).
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa masyarakat pengguna pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta semakin menuntut pelayanan yang bermutu. Tak dapat dipungkiri bahwa kini pasien semakin kritis terhadap pelayanan kesehatan dan menuntut keamanannya (Sulastomo, 2005).
Berbagai fakta menunjukkan adanya masalah serius dalam mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena belum adanya sistem pengendali mutu yang terbaik yang dapat diterapkan. Pemahaman secara lebih mendalam tentang good governance merupakan salah satu upaya terhadap perwujudan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu (Laksono, 2005).
Upaya peningkatan mutu adalah aksioma yang lemah capaian individunya, pada umumnya mencerminkan kegagalan sistem atau ketidakmampuan dari suatu organisasi memandang dan mengimprovisasikan sistem jaminan mutu. Gagasan peningkatan kualitas mutu merupakan tantangan di dalam suatu organisasi pelayanan kesehatan (Sulastomo, 2006).
Rumah sakit merupakan suatu tempat untuk melakukan upaya meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan. Masyarakat telah menganggap bahwa rumah sakit adalah harapan terakhir bagi orang yang sedang sakit. Bahkan ada sebagian masyarakat yang berperilaku untuk cepat-cepat berobat ke rumah sakit, jika mereka menderita suatu penyakit tertentu. Agar dicapai tingkat pelayanan kesehatan yang berkualitas, rumah sakit mengupayakan itu dengan meningkatkan berbagai fasilitas pelayanan (Sudarwanto, 1995).
Peningkatan mutu sebagai salah satu upaya merupakan tujuan fundamental dari pelayanan kesehatan, yakni melindungi pasien, tenaga kesehatan, dan organisasi tersebut. Hal ini merupakan suatu proses dengan output yang baru akan dapat terlihat pada program jangka menengah ataupun program jangka panjang (Sulastomo, 2006).
Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan kepada klien oleh suatu tim multi disiplin. Pelayanan kesehatan pada masa kini sudah merupakan industri jasa kesehatan utama dimana setiap rumah sakit bertanggung gugat terhadap penerima jasa pelayanan kesehatan. Keberadaan dan kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan ditentukan oleh nilai-nilai dan harapan dari penerima jasa pelayanan tersebut. Disamping itu, penekanan pelayanan kepada kualitas yang tinggi tersebut harus dapat dicapai dengan biaya yang dapat dipertanggungjawabkan (Ely Nurachma, 2007).
Berdasarkan hal tersebut di atas maka peneliti merasa tertarik untuk meneliti dan menganalisis beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan di RS Massenrempulu Kabupaten Enrekang.

  1. Batasan Masalah
Mutu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh beberapa aspek namun karena aspek keterbatasan yang dimiliki peneliti maka pada penelitian ini hanya dibatasi pada aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas pelayanan.

  1. Rumusan Masalah
Bagaimana mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap ditinjau dari aspek jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang ?”

  1. Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan pada pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang.
    1. Tujuan Khusus
  1. Untuk menganalisis hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

  1. Manfaat Penelitian
    1. Manfaat Ilmiah
    2. Manfaat Institusi
    3. Manfaat Bagi Peneliti



  1. Tinjauan Umum Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit
  3. Tinjauam Umum Tentang Variabel Yang Diteliti
KERANGKA KONSEP

  1. Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
Beberapa aspek yang mempengaruhi mutu pelayanan kesehatan akan dijelaskan sebagai berikut.
  1. Jumlah Petugas
Jumlah petugas merupakan salah satu aspek yang menunjang pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan petugas yang kurang menyebabkan penyelenggaraan pelayanan dilaksanakan tidak maksimal dan kurang memenuhi kepuasan pasien atas pelayanan yang diberikan. Selain itu, petugas sendiri akan mengalami kewalahan dalam menjalankan tugasnya yang pada nantinya akan menurunkan tingkat kemampuan kerja yang diberikan petugas kepada pasien di rumah sakit.
  1. Ketanggapan petugas
Ketanggapan petugas berhubungan dengan aspek kesigapan dari petugas dalam memenuhi kebutuhan pasien akan pelayanan yang dinginkan. Tingkat kesigapan dari petugass kesehatan dalam memberikan pelayanan merupakan salahs atu aspek yang mempengaruhi penilaian pasien atas mutu pelayanan yang diselenggarakan.
  1. Kehandalan petugas
Kehandalan berhubungan dengan tingkat kemampuan dan keterampilan yang dimiliki petugas dalam menyelenggarakan dan memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Tingkat kemampuan dan keterampilan yang kurang dari tenaga kesehatan tentunya akan memberikan pelayanan yang kurang memenuhi kepuasan pasien sebagai standar penilaian terhadap mutu pelayanan.
  1. Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
Fasilitas merupakan sarana bantu bagi instansi dan tenaga kesehatan dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pasien di rumah sakit. Keadaan fasilitas yang memadai akan membantu terhadap penyelenggaraan pelayanan kepada pasien.

  1. Pola Pikir Variabel Penelitian
Berdasarkan dasar pemikiran yang telah dijelaskan sebelumnya di atas maka dapat disusun bagan pemikiran variabel penelitian sebagai berikut













Keterangan
: Variabel independen
: Variabel dependen

  1. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
  1. Mutu Pelayanan Kesehatan
  2. Jumlah Petugas
  3. Ketanggapan Petugas
  4. Kehandalan Petugas
  5. Ketersediaan/Kelengkapan Fasilitas
  1. Hipotesis Penelitian
  1. Hipotesis Null (Ho)
  1. Tidak ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
  1. Hipotesis Alternatif (Ha)
  1. Ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang

METODE PENELITIAN

      1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan analitik rancangan Cross Sectional Study
      1. Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kab Enrekang yang telah mendapatkan perawatan
  1. Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah sebahagian dari populasi yang ditentukan berdasarkan teknik pengambilan sampel secara proporsional stratified random sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus sebagai berikut.
n =
Dimana :
n = besarnya sampel dalam penelitian
N = besarnya populasi dalam penelitian
d = tingkat kepercayaan (0,05)
      1. Pengumpulan Data
  1. Data Primer
Data primer diperoleh dengan melaksanakan wawancara langsung
  1. Data Sekunder
Data sekunder diperoleh melalui instansi terkait
      1. Pengolahan dan Analisa Data
  1. Pengolahan Data
Pengolahan data penelitian dilaksanakan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS for windows dengan langkah-langkah sebagai berikut.
        1. Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban
        2. Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan dalam pengolahan dan menganalisis data dengan memberikan kode dalam bentuk angka. Berdasarkan perhitungan Skala Likert dimana setiap jawaban “Selau” diberi nilai 5, “Sering” diberi nilai 4, kadang-kadang diberi nilai 3, “Pernah” diberi nilai 2 dan jika jawaban “Tidak Pernah” diberi nilai 1.
        3. Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding (master tabel)
  1. Analisa Data
Analisis data ditujukan untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel dependen dengan menggunakan uji Chi Square Test dengan rumus sebagai berikut :
X2 =
Dimana :
O = nilai observasi
E = Nilai ekspektasi (harapan)
df = (c – 1) (r – 1)
Hasil uji statistik dikatakan bermakna jika nilai p < α – 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Jika nilai ekspektif kurang dari 5 maka uji statistik dengan menggunakan rumus Fisher’s Exact Test yaitu :
      1. Penyajian Data
Data yang telah diolah kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi analisis univariat dan tabel silang analisis bivariat dalam rangka menganalisis hubungan variabel independen terhadap variabel dependen.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Penelitian
  1. Karakteristik Responden
  1. Umur
Responden tertinggi berada pada kelompok umur 20 – 29 tahun sebanyak 57 (55,9%) dan terendah pada kelompok umur <>
  1. Jenis Kelamin
Responden terbanyak adalah perempuan sebanyak 56 (54,9%).
  1. Pendidikan
Responden tertinggi telah menamatkan pendidikan pada jenjang SMA sederajat sebanyak 52 (51%) dan terendah tidak sekolah dan SMP masing-masing sebanyak 7 (6,9%).
  1. Pekerjaan
Responden tertinggi dengan status tidak bekerja/URT sebanyak 35 (34,3%) sedangkan yang bekerja tertinggi sebagai wiraswasta sebanyak 31 (30,4%) dan terendah yang bekerja sebagai pegawai swasta sebanyak 3 (2,9%).
  1. Variabel Penelitian
  1. Jumlah Petugas
Lebih dominan responden menyatakan jumlah petugas yang memberikan pelayanan di rumah sakit sudah berada pada kategori cukup sebanyak 64 (62,7%).