Mangan dn pH Air SGL
Skripsi
STUDI KUALITAS AIR SUMUR GALI DITINJAU DARI PARAMETER MANGAN DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) AIR DI RW 3 KAMPUNG BUAKKANG MATTA KELURAHAN PACCERAKKANG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR
TAHUN 2006
RINGKASAN
Nismawati A. SKM
“Studi Kualitas Air Sumur Gali Ditinjau Dari Parameter Mangan dan Derajat Keasaman (pH) Air Di RW 3 Kampung Buakkang Mata Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2006”
Vii + 66 halaman + 9 tabel + 6 lampiran
Air merupakan zat kehidupan dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi yang tidak membutuhkan air. Air yang dibutuhkan oleh manusia adalah air bersih baik untuk keperluan hidup sehari-hari, kebutuhan industri, kebersihan dan sanitasi kota, kebutuhan pertanian dan lain sebaginya. Oleh sebab itu, dalam rangka penggunaan air yang memenuhi syarat maka air harus melalui pengontrolan standar baku kemurnian air. Salah satu jenis ukuran kualitas air adalah kandung kimiawi yang pada penelitian ini mencakup konsentrasi mangan (Mn) dan derajat keasaman (pH).
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran kadar pH dan mangan (Mg) berdasarkan keadaan konstruksi bangunan sumur gali. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan secara observasi (pengamatan) menggunakan lembar observasi terhadap keadaan konstruksi sumur gali dan pemeriksaan laboratorium pada sample air SGL. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer program Microsoft Excell Profesional 2003 dan Statistical Package of Social Science (SPSS) versi 12.0 yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.
Hasil penelitian diperoleh Keadaan konstruksi sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) sedangkan yang memenuhi syarat hanya mencapai 7 buah sumur (38,9%), Kadar mangan (Mn) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang memenuhi syarat sebanyak 12 (66,7%) dengan kadar Mn yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium <> 0,5 mg/liter, Derajat keasaman (pH) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang pada kategori tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) dengan kadar pH <>
Saran yang diajukan pada penelitian mencakup : pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih maka perlunya dilaksanakan pengadaan sumber air bersih lain yang lebih memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti dengan membuka jaringan air ledeng khususnya masyarakat di Kelurahan Pacerakkang dan pemurnian air terutama air yang bersumber dari sumur gali harus dilaksanakan melalui proses filtrasi, nitrasi dan sebagainya sehingga dapat menghasilkan air yang lebih berkualitas dan tidak memberi dampak kesehatan kepada masyarakat pengguna air SGL.
Daftar Pustaka : 21 (1991 – 2004)
DAFTAR TABEL
| No. | Judul | Halaman |
| 5.1 | Keadaan Konstruksi Sumur Gali berdasarkan Jarak, Konstruksi Lantai, Bibir, dan Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
50 |
| 5.2 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Lantai Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
51 |
| 5.3 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Bibir Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
51 |
| 5.4 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
52 |
| 5.5 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Jarak Dari Sumber Pencemaran Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
52 |
| 5.6 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Keadaan Konstruksi Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
53 |
| 5.7 | Hasil Pengukuran Kadar Mangan (Mn) dan Derajat Keasaman (pH) Air Sumur Gali Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
54 |
| 5.8 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konsentrasi Mangan (Mn) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
55 |
| 5.9 | Distribusi Sumur Gali (SGL) Berdasarkan Derajat Keasaman (pH) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
55 |
DAFTAR LAMPIRAN
Master Tabel
Lay Out SPSS Olah Data Master Tabel
Surat Pengantar Izin Penelitian dari FKM UMI Makassar
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan Cq. Balitbangda
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Walikota Makassar
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Camat Biringkanaya
Surat Keterangan Telah Penelitian dari Lurah Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Makassar
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
ABSTRAK viii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 7
Tujuan Penelitian 7
Manfaat Penelitian 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Air 9
Kualitas Air 15
Sumur Gali 30
Parameter Mangan (Mn) dalam Air 35
Derajat Keasaman (pH) Air 37
BAB III KERANGKA KONSEP
Dasar Pemikiran Variabel Penelitian 39
Skema Pola Pikir Variabel Penelitian 43
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 44
BAB IV METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian 46
Lokasi Penelitian 46
Populasi dan Sampel 46
Pengolahan dan Penyajian Data 47
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 48
Hasil Penelitian 49
Pembahasan 56
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 65
Saran 66
DAFTAR PUSTAKA
LEMBAR OBSERVASI
Dokument lengkap dapat menghubungi
Rhano
Email : joeh_com@yahoo.com
Phone : 085242854524
Skripsi
STUDI KUALITAS AIR SUMUR GALI DITINJAU DARI PARAMETER MANGAN DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) AIR DI RW 3 KAMPUNG BUAKKANG MATTA KELURAHAN PACCERAKKANG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR
TAHUN 2006
RINGKASAN
Nismawati A. SKM
“Studi Kualitas Air Sumur Gali Ditinjau Dari Parameter Mangan dan Derajat Keasaman (pH) Air Di RW 3 Kampung Buakkang Mata Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2006”
Vii + 66 halaman + 9 tabel + 6 lampiran
Air merupakan zat kehidupan dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi yang tidak membutuhkan air. Air yang dibutuhkan oleh manusia adalah air bersih baik untuk keperluan hidup sehari-hari, kebutuhan industri, kebersihan dan sanitasi kota, kebutuhan pertanian dan lain sebaginya. Oleh sebab itu, dalam rangka penggunaan air yang memenuhi syarat maka air harus melalui pengontrolan standar baku kemurnian air. Salah satu jenis ukuran kualitas air adalah kandung kimiawi yang pada penelitian ini mencakup konsentrasi mangan (Mn) dan derajat keasaman (pH).
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran kadar pH dan mangan (Mg) berdasarkan keadaan konstruksi bangunan sumur gali. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan secara observasi (pengamatan) menggunakan lembar observasi terhadap keadaan konstruksi sumur gali dan pemeriksaan laboratorium pada sample air SGL. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer program Microsoft Excell Profesional 2003 dan Statistical Package of Social Science (SPSS) versi 12.0 yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.
Hasil penelitian diperoleh Keadaan konstruksi sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) sedangkan yang memenuhi syarat hanya mencapai 7 buah sumur (38,9%), Kadar mangan (Mn) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang memenuhi syarat sebanyak 12 (66,7%) dengan kadar Mn yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium <> 0,5 mg/liter, Derajat keasaman (pH) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang pada kategori tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) dengan kadar pH <>
Saran yang diajukan pada penelitian mencakup : pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih maka perlunya dilaksanakan pengadaan sumber air bersih lain yang lebih memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti dengan membuka jaringan air ledeng khususnya masyarakat di Kelurahan Pacerakkang dan pemurnian air terutama air yang bersumber dari sumur gali harus dilaksanakan melalui proses filtrasi, nitrasi dan sebagainya sehingga dapat menghasilkan air yang lebih berkualitas dan tidak memberi dampak kesehatan kepada masyarakat pengguna air SGL.
Daftar Pustaka : 21 (1991 – 2004)
DAFTAR TABEL
| No. | Judul | Halaman |
| 5.1 | Keadaan Konstruksi Sumur Gali berdasarkan Jarak, Konstruksi Lantai, Bibir, dan Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
50 |
| 5.2 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Lantai Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
51 |
| 5.3 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Bibir Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
51 |
| 5.4 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
52 |
| 5.5 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Jarak Dari Sumber Pencemaran Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
52 |
| 5.6 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Keadaan Konstruksi Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
53 |
| 5.7 | Hasil Pengukuran Kadar Mangan (Mn) dan Derajat Keasaman (pH) Air Sumur Gali Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
54 |
| 5.8 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konsentrasi Mangan (Mn) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
55 |
| 5.9 | Distribusi Sumur Gali (SGL) Berdasarkan Derajat Keasaman (pH) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
55 |
DAFTAR LAMPIRAN
Master Tabel
Lay Out SPSS Olah Data Master Tabel
Surat Pengantar Izin Penelitian dari FKM UMI Makassar
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan Cq. Balitbangda
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Walikota Makassar
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Camat Biringkanaya
Surat Keterangan Telah Penelitian dari Lurah Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Makassar
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
ABSTRAK viii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 7
Tujuan Penelitian 7
Manfaat Penelitian 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Air 9
Kualitas Air 15
Sumur Gali 30
Parameter Mangan (Mn) dalam Air 35
Derajat Keasaman (pH) Air 37
BAB III KERANGKA KONSEP
Dasar Pemikiran Variabel Penelitian 39
Skema Pola Pikir Variabel Penelitian 43
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 44
BAB IV METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian 46
Lokasi Penelitian 46
Populasi dan Sampel 46
Pengolahan dan Penyajian Data 47
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 48
Hasil Penelitian 49
Pembahasan 56
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 65
Saran 66
DAFTAR PUSTAKA
LEMBAR OBSERVASI
Dokument lengkap dapat menghubungi
Rhano
Email : joeh_com@yahoo.com
Phone : 085242854524
Skripsi
STUDI KUALITAS AIR SUMUR GALI DITINJAU DARI PARAMETER MANGAN DAN DERAJAT KEASAMAN (pH) AIR DI RW 3 KAMPUNG BUAKKANG MATTA KELURAHAN PACCERAKKANG KECAMATAN BIRINGKANAYA KOTA MAKASSAR
TAHUN 2006
RINGKASAN
Nismawati A. SKM
“Studi Kualitas Air Sumur Gali Ditinjau Dari Parameter Mangan dan Derajat Keasaman (pH) Air Di RW 3 Kampung Buakkang Mata Kelurahan Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Kota Makassar Tahun 2006”
Vii + 66 halaman + 9 tabel + 6 lampiran
Air merupakan zat kehidupan dimana tidak satupun makhluk hidup di planet bumi yang tidak membutuhkan air. Air yang dibutuhkan oleh manusia adalah air bersih baik untuk keperluan hidup sehari-hari, kebutuhan industri, kebersihan dan sanitasi kota, kebutuhan pertanian dan lain sebaginya. Oleh sebab itu, dalam rangka penggunaan air yang memenuhi syarat maka air harus melalui pengontrolan standar baku kemurnian air. Salah satu jenis ukuran kualitas air adalah kandung kimiawi yang pada penelitian ini mencakup konsentrasi mangan (Mn) dan derajat keasaman (pH).
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan rancangan deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran kadar pH dan mangan (Mg) berdasarkan keadaan konstruksi bangunan sumur gali. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan secara observasi (pengamatan) menggunakan lembar observasi terhadap keadaan konstruksi sumur gali dan pemeriksaan laboratorium pada sample air SGL. Data yang dikumpulkan kemudian diolah dengan menggunakan bantuan komputer program Microsoft Excell Profesional 2003 dan Statistical Package of Social Science (SPSS) versi 12.0 yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.
Hasil penelitian diperoleh Keadaan konstruksi sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) sedangkan yang memenuhi syarat hanya mencapai 7 buah sumur (38,9%), Kadar mangan (Mn) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang yang memenuhi syarat sebanyak 12 (66,7%) dengan kadar Mn yang diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium <> 0,5 mg/liter, Derajat keasaman (pH) pada sumur gali (SGL) yang dimanfaatkan masyarakat di Kelurahan Pacerakkang pada kategori tidak memenuhi syarat sebanyak 11 (61,1%) dengan kadar pH <>
Saran yang diajukan pada penelitian mencakup : pemenuhan kebutuhan masyarakat akan air bersih maka perlunya dilaksanakan pengadaan sumber air bersih lain yang lebih memenuhi syarat kualitas dan kuantitas seperti dengan membuka jaringan air ledeng khususnya masyarakat di Kelurahan Pacerakkang dan pemurnian air terutama air yang bersumber dari sumur gali harus dilaksanakan melalui proses filtrasi, nitrasi dan sebagainya sehingga dapat menghasilkan air yang lebih berkualitas dan tidak memberi dampak kesehatan kepada masyarakat pengguna air SGL.
Daftar Pustaka : 21 (1991 – 2004)
DAFTAR TABEL
| No. | Judul | Halaman |
| 5.1 | Keadaan Konstruksi Sumur Gali berdasarkan Jarak, Konstruksi Lantai, Bibir, dan Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
50 |
| 5.2 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Lantai Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
51 |
| 5.3 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Bibir Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
51 |
| 5.4 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konstruksi Dinding Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
52 |
| 5.5 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Jarak Dari Sumber Pencemaran Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
52 |
| 5.6 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Keadaan Konstruksi Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
53 |
| 5.7 | Hasil Pengukuran Kadar Mangan (Mn) dan Derajat Keasaman (pH) Air Sumur Gali Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
54 |
| 5.8 | Distribusi Sumur Gali (SGL) berdasarkan Konsentrasi Mangan (Mn) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
55 |
| 5.9 | Distribusi Sumur Gali (SGL) Berdasarkan Derajat Keasaman (pH) Di Kelurahan Pacerakkang Kota Makassar Tahun 2006 |
55 |
DAFTAR LAMPIRAN
Master Tabel
Lay Out SPSS Olah Data Master Tabel
Surat Pengantar Izin Penelitian dari FKM UMI Makassar
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Gubernur Propinsi Sulawesi Selatan Cq. Balitbangda
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Walikota Makassar
Surat Rekomendasi Izin Penelitian dari Camat Biringkanaya
Surat Keterangan Telah Penelitian dari Lurah Paccerakkang Kecamatan Biringkanaya Makassar
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PERSETUJUAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vii
ABSTRAK viii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 7
Tujuan Penelitian 7
Manfaat Penelitian 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Air 9
Kualitas Air 15
Sumur Gali 30
Parameter Mangan (Mn) dalam Air 35
Derajat Keasaman (pH) Air 37
BAB III KERANGKA KONSEP
Dasar Pemikiran Variabel Penelitian 39
Skema Pola Pikir Variabel Penelitian 43
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif 44
BAB IV METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian 46
Lokasi Penelitian 46
Populasi dan Sampel 46
Pengolahan dan Penyajian Data 47
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian 48
Hasil Penelitian 49
Pembahasan 56
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan 65
Saran 66
DAFTAR PUSTAKA
LEMBAR OBSERVASI
Dokument lengkap dapat menghubungi
Rhano
Email : joeh_com@yahoo.com
Phone : 085242854524
Kumpulan Judul Skripsi
Bidang Administrasi Kesehatan Masyarakat
1. Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit
2. Mutu pelayanan petugas kesehatan rumah sakit
3. Kinerja petugas dinas kesehatan
4. Mutu pelayanan kesehatan puskesmas
5. Mutu pelayanan petugas kesehatan puskesmas
6. Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit
7. Pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat pesisir
8. Pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas
9. Pemanfaatan pelayanan antenatal care
10. Mutu Pelayanan Antenatal Care
Bidang Epidemiologi
1. Analisis Faktor Risiko Ca Servik
2. Analisis Faktor Risiko PJK
3. Hubungan Rokok dan PJK
4. Ketidakteraturan berobat penderita kusta
5. Ketidakteraturan berobat penderita TB Paru
6. Tingkat kunjungan ibu hamil dalam pemanfaatan pelayanan antenatal care
7. Faktor risiko primigravida
8. Faktor risiko Stroke
9. Faktor risiko DM
10. Faktor risiko TB Paru Relaps
11. Kelengkapan imunisasi bayi
Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat
1. Status Gizi Bayi
2. Faktor Risiko BBLR
3. Penilaian status gizi bayi/balita
4. Pola makan mahasiswa dan Status gizi
5. Pemberian ASI Eksklusif 0 - 6 bulan
6. Penerapan pola pemberian makanan tambahan anak usia 6 - 24 bulan
7. Tingkat pemberian MP-ASI
8. Tingkat pemberian MP-ASI Lokal
Bidang Kesehatan Lingkungan
1. Tingkat kepadatan lalat
2. Diare hubungannya dengan sanitasi lingkungan
3. ISPA hubungannya dengan kondisi rumah
4. Keadaan Fasilitas sanitasi dasar masyarakat
5. TB Paru hubungannya dengan kondisi rumah
6. Keadaan fasilitas sanitasi dasar rumah sakit
Bidang Kesehatan Kerja
1. Sikap pekerja terhadap K3
2. Perilaku penggunaan APD pada Polantas
3. Perilaku Pekerja dalam Penggunaan APD di Lingkungan kerja
Judul lengkapnya tidak dapat dimuat jadi hanya disampaikan point penting yang memuat masalah seputar penelitian dan kiranya dapat membantu.
Berminat silahkah hubungi nomor : 085242854524
Atau menghubungi alamat email : joeh_com@yahoo.com
Makasih atas kunjungan dan kontaknya.
Bidang Administrasi Kesehatan Masyarakat
1. Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit
2. Mutu pelayanan petugas kesehatan rumah sakit
3. Kinerja petugas dinas kesehatan
4. Mutu pelayanan kesehatan puskesmas
5. Mutu pelayanan petugas kesehatan puskesmas
6. Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit
7. Pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat pesisir
8. Pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas
9. Pemanfaatan pelayanan antenatal care
10. Mutu Pelayanan Antenatal Care
Bidang Epidemiologi
1. Analisis Faktor Risiko Ca Servik
2. Analisis Faktor Risiko PJK
3. Hubungan Rokok dan PJK
4. Ketidakteraturan berobat penderita kusta
5. Ketidakteraturan berobat penderita TB Paru
6. Tingkat kunjungan ibu hamil dalam pemanfaatan pelayanan antenatal care
7. Faktor risiko primigravida
8. Faktor risiko Stroke
9. Faktor risiko DM
10. Faktor risiko TB Paru Relaps
11. Kelengkapan imunisasi bayi
Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat
1. Status Gizi Bayi
2. Faktor Risiko BBLR
3. Penilaian status gizi bayi/balita
4. Pola makan mahasiswa dan Status gizi
5. Pemberian ASI Eksklusif 0 - 6 bulan
6. Penerapan pola pemberian makanan tambahan anak usia 6 - 24 bulan
7. Tingkat pemberian MP-ASI
8. Tingkat pemberian MP-ASI Lokal
Bidang Kesehatan Lingkungan
1. Tingkat kepadatan lalat
2. Diare hubungannya dengan sanitasi lingkungan
3. ISPA hubungannya dengan kondisi rumah
4. Keadaan Fasilitas sanitasi dasar masyarakat
5. TB Paru hubungannya dengan kondisi rumah
6. Keadaan fasilitas sanitasi dasar rumah sakit
Bidang Kesehatan Kerja
1. Sikap pekerja terhadap K3
2. Perilaku penggunaan APD pada Polantas
3. Perilaku Pekerja dalam Penggunaan APD di Lingkungan kerja
Judul lengkapnya tidak dapat dimuat jadi hanya disampaikan point penting yang memuat masalah seputar penelitian dan kiranya dapat membantu.
Berminat silahkah hubungi nomor : 085242854524
Atau menghubungi alamat email : joeh_com@yahoo.com
Makasih atas kunjungan dan kontaknya.
Bidang Administrasi Kesehatan Masyarakat
1. Mutu pelayanan kesehatan rumah sakit
2. Mutu pelayanan petugas kesehatan rumah sakit
3. Kinerja petugas dinas kesehatan
4. Mutu pelayanan kesehatan puskesmas
5. Mutu pelayanan petugas kesehatan puskesmas
6. Kinerja perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit
7. Pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat pesisir
8. Pemanfaatan pelayanan kesehatan di puskesmas
9. Pemanfaatan pelayanan antenatal care
10. Mutu Pelayanan Antenatal Care
Bidang Epidemiologi
1. Analisis Faktor Risiko Ca Servik
2. Analisis Faktor Risiko PJK
3. Hubungan Rokok dan PJK
4. Ketidakteraturan berobat penderita kusta
5. Ketidakteraturan berobat penderita TB Paru
6. Tingkat kunjungan ibu hamil dalam pemanfaatan pelayanan antenatal care
7. Faktor risiko primigravida
8. Faktor risiko Stroke
9. Faktor risiko DM
10. Faktor risiko TB Paru Relaps
11. Kelengkapan imunisasi bayi
Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat
1. Status Gizi Bayi
2. Faktor Risiko BBLR
3. Penilaian status gizi bayi/balita
4. Pola makan mahasiswa dan Status gizi
5. Pemberian ASI Eksklusif 0 - 6 bulan
6. Penerapan pola pemberian makanan tambahan anak usia 6 - 24 bulan
7. Tingkat pemberian MP-ASI
8. Tingkat pemberian MP-ASI Lokal
Bidang Kesehatan Lingkungan
1. Tingkat kepadatan lalat
2. Diare hubungannya dengan sanitasi lingkungan
3. ISPA hubungannya dengan kondisi rumah
4. Keadaan Fasilitas sanitasi dasar masyarakat
5. TB Paru hubungannya dengan kondisi rumah
6. Keadaan fasilitas sanitasi dasar rumah sakit
Bidang Kesehatan Kerja
1. Sikap pekerja terhadap K3
2. Perilaku penggunaan APD pada Polantas
3. Perilaku Pekerja dalam Penggunaan APD di Lingkungan kerja
Judul lengkapnya tidak dapat dimuat jadi hanya disampaikan point penting yang memuat masalah seputar penelitian dan kiranya dapat membantu.
Berminat silahkah hubungi nomor : 085242854524
Atau menghubungi alamat email : joeh_com@yahoo.com
Makasih atas kunjungan dan kontaknya.
Reset Printer Canon IP 1700
Yang harus dilakukan pertama adalah pengecekan terhadap keadaan absorber sebagai penampungan tinta jika kita tidak memiliki saluran pembuangan luar (Saya saranin supaya punya saluran pembuangan tinta sisa di luar jadi tidak perlu pusing dengan absorber lagi yang juga kalau diganti pasti harganya sangat mahal). Pada printer yang baru pertama kalinya blinking mungkin untuk sementara waktu masalah absorber tidak usah dirisaukan tapi disarankan untuk mencuci bersih dahulu absorbernya.
Absorber printer merupakan busa penyerap tinta sisa pada saat printer berjalan layaknya sebagai tempat pembuangan dan penampungan seperti septic tank lah. Ini harus dibersihkan terlebih dahulu karena jika sudah full biar reset bagaimanapun tidak bisa dipakai printnya.
Cara bersihin absorber print harus dibongkar (bongkar sendiri aja) tapi serba hati-hati untuk yang pemula membongkar alat elektronik dan harus dihafal betul penempatannya semula supaya setelah pembersihan absorber printnya dapat dipasang ulang seperti kondisi semula.
Selanjutnya absorbernya bisa direndam dengan air panas untuk membuka tinta yang melekat dan sudah kering atau dibilas sampai bersih dengan air bersih. Jangan dicuci layaknya pakaian nanti absorbernya rusak. UPAYAKAN pada saat mencuci dilaksanakan sampai tuntas sehingga air hasil pembilasannya tidak berwarna tinta lagi.
Kemudian keringkan dengan cara dijemur pada terik panas matahari atau menggunakan alat pengering layaknya hairdryer supaya mengefisienkan waktu (jika ada). Setelah absorbernya sudah kering, pasang ulang pada tempatnya semula beserta keseluruhan mesin print yang sudah dibongkar pada kondisi semula. Jangan sampai ada sel mesin print ada yang tidak sejajar atau tidak seimbang supaya kondisi ngeprintnya bagus.
Langkah selanjutnya adalah melaksanakan reset print secara manual dengan cara sebagai berikut :
1. Matikan printnya, cabut kaberl power
2. Tekan tombol power kemudian colokkan kabel power (tombol power print tetap ditekan)
3. Sambil tetap menekan tombol power, tekan/pencet tombol reset/resume 2 kali. Pada tekan pertama kali, lampu indikator berwarna kuning (orange) dan saat pencetan kedua kalinya lampu indikator menjadi hijau (green) kemudian lepaskan keduanya dan lampu indikator berwarna hijau (green) tidak berkedip.
Langkah selanjutnya (langkah ketiga) adalah melaksanakan reset menggunakan software reset canon IP1700-1300 dengan langkah-langkah sebagai berikut
1. Buka file reseter.exe
2. Pilih USB Port
3. Klik Lock RELEASE dan pada set destination pilih IP1700E tidak perlu memberi centang EEPROMCLEAR dulu
4. Pilih main dan platen pada clear waste ink
5. Centang EEPROM CLEAR dan siapkan kertas untuk print dan pilih Test Print 1
6. Selesai, print anda sudah direset dan siap dipakai
Yang harus dilakukan pertama adalah pengecekan terhadap keadaan absorber sebagai penampungan tinta jika kita tidak memiliki saluran pembuangan luar (Saya saranin supaya punya saluran pembuangan tinta sisa di luar jadi tidak perlu pusing dengan absorber lagi yang juga kalau diganti pasti harganya sangat mahal). Pada printer yang baru pertama kalinya blinking mungkin untuk sementara waktu masalah absorber tidak usah dirisaukan tapi disarankan untuk mencuci bersih dahulu absorbernya.
Absorber printer merupakan busa penyerap tinta sisa pada saat printer berjalan layaknya sebagai tempat pembuangan dan penampungan seperti septic tank lah. Ini harus dibersihkan terlebih dahulu karena jika sudah full biar reset bagaimanapun tidak bisa dipakai printnya.
Cara bersihin absorber print harus dibongkar (bongkar sendiri aja) tapi serba hati-hati untuk yang pemula membongkar alat elektronik dan harus dihafal betul penempatannya semula supaya setelah pembersihan absorber printnya dapat dipasang ulang seperti kondisi semula.
Selanjutnya absorbernya bisa direndam dengan air panas untuk membuka tinta yang melekat dan sudah kering atau dibilas sampai bersih dengan air bersih. Jangan dicuci layaknya pakaian nanti absorbernya rusak. UPAYAKAN pada saat mencuci dilaksanakan sampai tuntas sehingga air hasil pembilasannya tidak berwarna tinta lagi.
Kemudian keringkan dengan cara dijemur pada terik panas matahari atau menggunakan alat pengering layaknya hairdryer supaya mengefisienkan waktu (jika ada). Setelah absorbernya sudah kering, pasang ulang pada tempatnya semula beserta keseluruhan mesin print yang sudah dibongkar pada kondisi semula. Jangan sampai ada sel mesin print ada yang tidak sejajar atau tidak seimbang supaya kondisi ngeprintnya bagus.
Langkah selanjutnya adalah melaksanakan reset print secara manual dengan cara sebagai berikut :
1. Matikan printnya, cabut kaberl power
2. Tekan tombol power kemudian colokkan kabel power (tombol power print tetap ditekan)
3. Sambil tetap menekan tombol power, tekan/pencet tombol reset/resume 2 kali. Pada tekan pertama kali, lampu indikator berwarna kuning (orange) dan saat pencetan kedua kalinya lampu indikator menjadi hijau (green) kemudian lepaskan keduanya dan lampu indikator berwarna hijau (green) tidak berkedip.
Langkah selanjutnya (langkah ketiga) adalah melaksanakan reset menggunakan software reset canon IP1700-1300 dengan langkah-langkah sebagai berikut
1. Buka file reseter.exe
2. Pilih USB Port
3. Klik Lock RELEASE dan pada set destination pilih IP1700E tidak perlu memberi centang EEPROMCLEAR dulu
4. Pilih main dan platen pada clear waste ink
5. Centang EEPROM CLEAR dan siapkan kertas untuk print dan pilih Test Print 1
6. Selesai, print anda sudah direset dan siap dipakai
Yang harus dilakukan pertama adalah pengecekan terhadap keadaan absorber sebagai penampungan tinta jika kita tidak memiliki saluran pembuangan luar (Saya saranin supaya punya saluran pembuangan tinta sisa di luar jadi tidak perlu pusing dengan absorber lagi yang juga kalau diganti pasti harganya sangat mahal). Pada printer yang baru pertama kalinya blinking mungkin untuk sementara waktu masalah absorber tidak usah dirisaukan tapi disarankan untuk mencuci bersih dahulu absorbernya.
Absorber printer merupakan busa penyerap tinta sisa pada saat printer berjalan layaknya sebagai tempat pembuangan dan penampungan seperti septic tank lah. Ini harus dibersihkan terlebih dahulu karena jika sudah full biar reset bagaimanapun tidak bisa dipakai printnya.
Cara bersihin absorber print harus dibongkar (bongkar sendiri aja) tapi serba hati-hati untuk yang pemula membongkar alat elektronik dan harus dihafal betul penempatannya semula supaya setelah pembersihan absorber printnya dapat dipasang ulang seperti kondisi semula.
Selanjutnya absorbernya bisa direndam dengan air panas untuk membuka tinta yang melekat dan sudah kering atau dibilas sampai bersih dengan air bersih. Jangan dicuci layaknya pakaian nanti absorbernya rusak. UPAYAKAN pada saat mencuci dilaksanakan sampai tuntas sehingga air hasil pembilasannya tidak berwarna tinta lagi.
Kemudian keringkan dengan cara dijemur pada terik panas matahari atau menggunakan alat pengering layaknya hairdryer supaya mengefisienkan waktu (jika ada). Setelah absorbernya sudah kering, pasang ulang pada tempatnya semula beserta keseluruhan mesin print yang sudah dibongkar pada kondisi semula. Jangan sampai ada sel mesin print ada yang tidak sejajar atau tidak seimbang supaya kondisi ngeprintnya bagus.
Langkah selanjutnya adalah melaksanakan reset print secara manual dengan cara sebagai berikut :
1. Matikan printnya, cabut kaberl power
2. Tekan tombol power kemudian colokkan kabel power (tombol power print tetap ditekan)
3. Sambil tetap menekan tombol power, tekan/pencet tombol reset/resume 2 kali. Pada tekan pertama kali, lampu indikator berwarna kuning (orange) dan saat pencetan kedua kalinya lampu indikator menjadi hijau (green) kemudian lepaskan keduanya dan lampu indikator berwarna hijau (green) tidak berkedip.
Langkah selanjutnya (langkah ketiga) adalah melaksanakan reset menggunakan software reset canon IP1700-1300 dengan langkah-langkah sebagai berikut
1. Buka file reseter.exe
2. Pilih USB Port
3. Klik Lock RELEASE dan pada set destination pilih IP1700E tidak perlu memberi centang EEPROMCLEAR dulu
4. Pilih main dan platen pada clear waste ink
5. Centang EEPROM CLEAR dan siapkan kertas untuk print dan pilih Test Print 1
6. Selesai, print anda sudah direset dan siap dipakai
Pengetahuan Kespro Remaja
Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Negeri 1 Makassar Dan SMA Negeri 6 Makassar Tahun 2006
Abdul Gani Muhammad
Pendahuluan
Latar Belakang
Kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi tersebut dalam Konferensi Intrnasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development / ICPD) di Kairo tahun 1994 yang kemudian dipertegas dalam Konferensi Se-Dunia IV tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing.
Pentingnya remaja mengetahui kesehatan reproduksi agar mereka memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Masalah kesehatan reproduksi remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut : Kehamilan dan persalinan usia muda dan segala akibatnya, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, narkotika dan obat-obat terlarang, seks bebas, kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan transaksi seksual komersil.
Tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi cukup memprihatinkan, ada 86% remaja laki-laki maupun perempuan yang tidak mengetahui kapan terjadinya masa subur. Permasalahan utama kesehatan reproduksi di Indonesia adalah kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, pergeseran perilaku remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung.
Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan, media massa maupun orang tua serta kemampuan seseorang untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut.
Rumusan Masalah
Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?
Apakah ada perbedaan sikap terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi.
Tujuan Khusus
Untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.
Untuk melihat perbedaan sikap terhadap kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.
Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Manfaat Keilmuan
Kepustakaan
Kajian Kespro Remaja
Masalah Kesehatan Reproduksi
Kajian tentang Pengetahuan
Kajian tentang Sikap
Kajian tentang Siswa/Remaja
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode survei, dengan rancangan cross sectional study
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Makassar dan SMAN 6 Makassar
Sampel
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pengetahuan proportional Stratified Random Sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus statistik besar sampel sehingga diperoleh besar sampel sebanyak 338 siswa-siswi.
Pengumpulan Data
Melaksanakan wawancara langsung dengan bantuan pertanyaan terstruktur dan penelusuran literatur yang berhubungan dengan penelitian.
Pengolahan Data
Menggunakan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan kebutuhan statistik data.
Analisa Data
Meninjau nilai chi square test (X2) hitung yang kemudian dibandingkan dengan nilai X2 tabel.
Penyajian Data
Dalam bentuk tabel distribusi frekuensi gambaran masing-masing karakteristik dan variabel penelitian dan tabel silang 2 x 2 untuk menjawab tujuan penelitian.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Mayoritas responden memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS dari guru mereka yakni sebanyak 24.56%. Dari jumlah total tersebut, responden yang berasal dari SMAN 1 Makassar adalah yang lebih banyak yakni 56 orang atau sebesar 16.57%, sementara responden dari SMAN 6 Makassar hanya sebesar 7.99%.
Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.
Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.
Secara kuantitatif, siswa SMAN 1 Makassar lebih banyak bersikap positif terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan dengan siswa SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,275) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.022) <>o dan menolak Ha.
Kesimpulan
Tidak ada perbedaan pengetahuan di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar,
Tidak ada perbedaan sikap di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar
Daftar Pustaka
Abdullah, Tahir. Bahan Kuliah Metode Kontrasepsi. Makassar : FKM UNHAS, 2001.
Budiarto, Eko. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : EGC, 2003.
Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya : usaha Nasional, 1982.
Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan, 1999.
Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.
Saparie, Gunoto. Kesehatan reproduksi Remaja Terabaikan. http://www.suarakarya-online.com,8-7-2005.
Sarwono, W, Sarlito. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta, 2001.
Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Negeri 1 Makassar Dan SMA Negeri 6 Makassar Tahun 2006
Abdul Gani Muhammad
Pendahuluan
Latar Belakang
Kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi tersebut dalam Konferensi Intrnasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development / ICPD) di Kairo tahun 1994 yang kemudian dipertegas dalam Konferensi Se-Dunia IV tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing.
Pentingnya remaja mengetahui kesehatan reproduksi agar mereka memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Masalah kesehatan reproduksi remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut : Kehamilan dan persalinan usia muda dan segala akibatnya, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, narkotika dan obat-obat terlarang, seks bebas, kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan transaksi seksual komersil.
Tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi cukup memprihatinkan, ada 86% remaja laki-laki maupun perempuan yang tidak mengetahui kapan terjadinya masa subur. Permasalahan utama kesehatan reproduksi di Indonesia adalah kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, pergeseran perilaku remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung.
Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan, media massa maupun orang tua serta kemampuan seseorang untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut.
Rumusan Masalah
Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?
Apakah ada perbedaan sikap terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi.
Tujuan Khusus
Untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.
Untuk melihat perbedaan sikap terhadap kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.
Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Manfaat Keilmuan
Kepustakaan
Kajian Kespro Remaja
Masalah Kesehatan Reproduksi
Kajian tentang Pengetahuan
Kajian tentang Sikap
Kajian tentang Siswa/Remaja
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode survei, dengan rancangan cross sectional study
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Makassar dan SMAN 6 Makassar
Sampel
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pengetahuan proportional Stratified Random Sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus statistik besar sampel sehingga diperoleh besar sampel sebanyak 338 siswa-siswi.
Pengumpulan Data
Melaksanakan wawancara langsung dengan bantuan pertanyaan terstruktur dan penelusuran literatur yang berhubungan dengan penelitian.
Pengolahan Data
Menggunakan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan kebutuhan statistik data.
Analisa Data
Meninjau nilai chi square test (X2) hitung yang kemudian dibandingkan dengan nilai X2 tabel.
Penyajian Data
Dalam bentuk tabel distribusi frekuensi gambaran masing-masing karakteristik dan variabel penelitian dan tabel silang 2 x 2 untuk menjawab tujuan penelitian.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Mayoritas responden memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS dari guru mereka yakni sebanyak 24.56%. Dari jumlah total tersebut, responden yang berasal dari SMAN 1 Makassar adalah yang lebih banyak yakni 56 orang atau sebesar 16.57%, sementara responden dari SMAN 6 Makassar hanya sebesar 7.99%.
Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.
Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.
Secara kuantitatif, siswa SMAN 1 Makassar lebih banyak bersikap positif terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan dengan siswa SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,275) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.022) <>o dan menolak Ha.
Kesimpulan
Tidak ada perbedaan pengetahuan di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar,
Tidak ada perbedaan sikap di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar
Daftar Pustaka
Abdullah, Tahir. Bahan Kuliah Metode Kontrasepsi. Makassar : FKM UNHAS, 2001.
Budiarto, Eko. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : EGC, 2003.
Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya : usaha Nasional, 1982.
Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan, 1999.
Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.
Saparie, Gunoto. Kesehatan reproduksi Remaja Terabaikan. http://www.suarakarya-online.com,8-7-2005.
Sarwono, W, Sarlito. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta, 2001.
Perbedaan Pengetahuan Dan Sikap Tentang Kesehatan Reproduksi Pada Siswa SMA Negeri 1 Makassar Dan SMA Negeri 6 Makassar Tahun 2006
Abdul Gani Muhammad
Pendahuluan
Latar Belakang
Kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global sejak diangkatnya materi tersebut dalam Konferensi Intrnasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development / ICPD) di Kairo tahun 1994 yang kemudian dipertegas dalam Konferensi Se-Dunia IV tentang Wanita pada tahun 1995 di Beijing.
Pentingnya remaja mengetahui kesehatan reproduksi agar mereka memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada di sekitarnya. Masalah kesehatan reproduksi remaja dapat dikelompokkan sebagai berikut : Kehamilan dan persalinan usia muda dan segala akibatnya, kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, narkotika dan obat-obat terlarang, seks bebas, kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan transaksi seksual komersil.
Tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi cukup memprihatinkan, ada 86% remaja laki-laki maupun perempuan yang tidak mengetahui kapan terjadinya masa subur. Permasalahan utama kesehatan reproduksi di Indonesia adalah kurangnya informasi mengenai kesehatan reproduksi, pergeseran perilaku remaja, pelayanan kesehatan yang buruk serta perundang-undangan yang tidak mendukung.
Pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi sangat tergantung pada informasi yang diterimanya baik melalui penyuluhan, media massa maupun orang tua serta kemampuan seseorang untuk menyerap dan menginterpretasikan informasi tersebut.
Rumusan Masalah
Apakah ada perbedaan tingkat pengetahuan tentang Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?
Apakah ada perbedaan sikap terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar ?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tingkat pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi.
Tujuan Khusus
Untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan terhadap Kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.
Untuk melihat perbedaan sikap terhadap kesehatan reproduksi antara siswa SMAN 1 Makassar dengan siswa SMAN 6 Makassar.
Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Manfaat Keilmuan
Kepustakaan
Kajian Kespro Remaja
Masalah Kesehatan Reproduksi
Kajian tentang Pengetahuan
Kajian tentang Sikap
Kajian tentang Siswa/Remaja
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode survei, dengan rancangan cross sectional study
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Makassar dan SMAN 6 Makassar
Sampel
Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan pengetahuan proportional Stratified Random Sampling dengan penentuan besar sampel menggunakan rumus statistik besar sampel sehingga diperoleh besar sampel sebanyak 338 siswa-siswi.
Pengumpulan Data
Melaksanakan wawancara langsung dengan bantuan pertanyaan terstruktur dan penelusuran literatur yang berhubungan dengan penelitian.
Pengolahan Data
Menggunakan langkah-langkah yang sistematis sesuai dengan kebutuhan statistik data.
Analisa Data
Meninjau nilai chi square test (X2) hitung yang kemudian dibandingkan dengan nilai X2 tabel.
Penyajian Data
Dalam bentuk tabel distribusi frekuensi gambaran masing-masing karakteristik dan variabel penelitian dan tabel silang 2 x 2 untuk menjawab tujuan penelitian.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Mayoritas responden memperoleh informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS dari guru mereka yakni sebanyak 24.56%. Dari jumlah total tersebut, responden yang berasal dari SMAN 1 Makassar adalah yang lebih banyak yakni 56 orang atau sebesar 16.57%, sementara responden dari SMAN 6 Makassar hanya sebesar 7.99%.
Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.
Secara kuantitatif, pengetahuan siswa SMAN 1 Makassar tentang kesehatan reproduksi lebih banyak dibandingkan dengan SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,639) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.018) <>o dan menolak Ha.
Secara kuantitatif, siswa SMAN 1 Makassar lebih banyak bersikap positif terhadap kesehatan reproduksi dibandingkan dengan siswa SMAN 6 Makassar. Nilai X2 hitung (5,275) < X2 tabel dengan nilai probaliblitas (0.022) <>o dan menolak Ha.
Kesimpulan
Tidak ada perbedaan pengetahuan di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar,
Tidak ada perbedaan sikap di antara siswa SMAN 1 Makassar dengan SMAN 6 Makassar
Daftar Pustaka
Abdullah, Tahir. Bahan Kuliah Metode Kontrasepsi. Makassar : FKM UNHAS, 2001.
Budiarto, Eko. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : EGC, 2003.
Mappiare, Andi. Psikologi Remaja. Surabaya : usaha Nasional, 1982.
Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan, 1999.
Notoatmodjo, S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta, 2002.
Saparie, Gunoto. Kesehatan reproduksi Remaja Terabaikan. http://www.suarakarya-online.com,8-7-2005.
Sarwono, W, Sarlito. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta, 2001.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik
Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik
Moh Joeharno, SKM
Pendahuluan
Latar Belakang
Upaya pemberantasan penyakit menular dan tidak menular merupakan salah satu program dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.
Terjadinya perubahan gaya hidup sebagai dampak dari transisi demografi merupakan tantangan terhadap upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.
Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut.
Kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak ditemukan pada wanita di dunia. Kurang lebih 500.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi tiap tahun dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang.
Menurut Siregar (2002), Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak diderita oleh wanita dan merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada wanita. Oleh sebab itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka penanggulangan terhadap kejadian kanker servik yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Kanker servik uteri atau leher rahim ini menduduki peringkat utama pada kasus kanker yang menyerang wanita di Indonesia. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga kini jumlah penderitanya mencapai 50 per 100.000 penduduk.
Penanggulangan kanker masih merupakan masalah yang cukup berat. Penderita biasa datang dalam keadaan stadium lanjut. Itu beralasan, mengingat pada tahap awal sering tak menampakkan gejala khas.
Ketidaktahuan kaum wanita terhadap penanggulangan kanker servik tentunya berhubungan dengan keterlambatan untuk memeriksakan kesehatan dirinya terutama kesehatan reproduksi.
Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik.
Data kunjungan Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo yang tergabung dalam rekam medik menujukkan bahwa jumlah penderita kanker servik yang datang berobat cenderung meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2001 terdapat 50 kasus, tahun 2002 sebanyak 116 kasus, tahun 2003 sebanyak 131 kasus dan tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 117 kasus.
Hal ini memberikan indikasi bahwa penaggulangan terhadap kejadian kanker servik di Kota Makassar masih relatif kurang yang dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya perhatian terhadap penanggulangan penyakit ini masih relatif rendah.
Salah satu aspek yang mendukung upaya penanggulangan kanker servik adalah pelaksanaan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker servik sehingga dengan hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan acuan dalam penyusunan rencana program penanggulangan kanker servik.
Rumusan Masalah
Benarkah umur merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Benarkah umur perkawinan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Benarkah paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker servik.
Tujuan Khusus
Menganalisis besar risiko faktor umur terhadap kejadian kanker servik
Menganalisis besar risiko faktor umur perkawinan terhadap kejadian kanker servik
Menganalisis besar risiko faktor paritas terhadap kejadian kanker servik
Manfaat Penelitian
Manfaat praktis
Manfaat keilmuan
Manfaat bagi peneliti
Kepustakaan
Tinjauan tentang Kanker
Tinjauan tentang Kanker Servik
Tinjauan Faktor Risiko Kanker Servik
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Kanker servik
Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).
Keriteria objektif
a. Kanker servik : Jika sesuai dengan kriteria diatas dan terdiagnosis kanker servik berdasarkan hasil anamnese dan pemeriksaan melalui Pap’s Smear Test, biopsi dan CT Sken seperti yang tercatat dalam status rekam medik pasien.
b. Bukan kanker servik : Jika tidak sesuai dengan kriteria diatas
Umur
Yang dimaksud umur dalam penelitian adalah perhitungan lama kehidupan dimana dihitung berdasarkan waktu kelahiran hidup pertama hingga pada saat penelitian berlangsung berdasarkan status yang tercantum dalam rekam medik.
Kriteria objektif
a. Risiko Tinggi : Jika umur wanita > 35 tahun
b. Risiko Rendah : Jika umur wanita ≤ 35 tahun
Umur Perkawinan
Umur perkawinan adalah umur seorang wanita pada saat melakukan ikatan resmi pertama kali dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Umur perkawinan ini dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran sampai pada saat melakukan akad nikah pertama.
Kriteria objektif
a. Risiko Tinggi : Jika umur perkawinan ≤ 20 tahun
b. Risiko Rendah : Jika umur perkawinan > 20 tahun
Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran yang dialami oleh seorang wanita atau banyaknya anak yang dilahirkan.
a. Risiko Tinggi : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan > 3 orang
b. Risiko Rendah : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan ≤ 3 orang
Hipotesis Penelitian
Hipotesis null (Ho)
Umur > 35 tahun bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik
Umur perkawinan ≤ 20 tahun bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Paritas > 3 bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Hipotesis alternatif (Ha)
Umur > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik
Umur perkawinan ≤ 20 tahun merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Paritas > 3 merupakan
actor risiko kejadian kanker servik
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Case Control Study.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kanker servik menurut laporan rekam medik BLU Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode 2001 – 2004 yang berjumlah 414 kasus.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi. Terdapat 2 golongan yaitu sebagai berikut:
Kasus adalah penderita kanker servik.
Kontrol adalah bukan penderita kanker servik yang disamakan berdasarkan status pendidikan.
Penentuan besar sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel Lemeshow et.al.dengan perkiraan OR = 2,00 dalam jarak 50 % dengan derajat kepercayaan 95 %. Perkiraan besar sampel 0,50 dan didapatkan jumlah sampel 68 dengan perbandingan sampel kasus dan kontrol 1 : 1 sehingga jumlah keseluruhan 136 sampel.
Sampel diambil dengan teknik purpossive sampling dengan kriteria sebagai berikut :
Terdiagnosis kanker servik pada stadium tertentu
Telah menjalani pengobatan
Pada sampel dengan status kawin dan tidak sedang pada perkawinan lebih dari 1 kali
Status rekam medis lengkap
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari laporan rekapitulasi penderita kanker servik BLU RS Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Setelah data dikumpulkan dilapangan, ceklist diperiksa kelengkapannya apakah sesuai dengan instrumen yang ada, bila ceklist tidak lengkap maka harus kembali kelapangan
Bila semua ceklist terisi sesuai dengan petunjuk pengisian maka langkah selanjutnya adalah memberikan perlakuan terhadap data tersebut yang terdiri atas editing, coding, tabulating, mengolah data, melakukan analisis dan menarik kesimpulan.
Analisa Data
Analisa Univariat
Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum variabel yang diteliti.
Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Karena rancangan penelitian adalah studi kasus dan kontrol maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR).
Penyajian Data
Dalam bentuk tabel analisis univariat dan bivariat
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Responden terbanyak berada pada kelompok umur 41 – 45 tahun sebanyak 35 (25,7%) dan terendah pada kelompok umur 21 – 25 tahun sebanyak 1 (0,7%).
Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan responden, tertinggi sampai jenjang SMA sebanyak 38 responden (27,9%) dan terendah dengan jenjang pendidikan Stara 1 sebanyak 18 responden (13,2%).
Angka tertinggi ditunjukkan pada ibu yang tidak bekerja diluar rumah (URT) sebanyak 73 responden (53,7%) sedangkan jenis pekerjaan yang banyak digeluti responden penelitian adalah sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 39 responden (28,7%) dan terendah pada responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 4 responden (2,9%).
Sebagian besar responden telah memiliki lama perkawinan 11 – 20 tahun sebanyak 52 (38,2%) sedangkan yang terendah adalah mereka yang memiliki lama perkawinan ≤ 10 tahun sebanyak 19 responden (14,0%).
Sebagian besar responden melaksanakan perkawinan pada umur antara 21 – 30 tahun sebanyak 82 (60,3%) sedangkan terendah adalah pada umur > 30 tahun sebanyak 14 (10,3%).
Sebagian besar responden telah memiliki anak <> 7 orang sebanyak 10 responden (7,4%).
Responden dengan umur yang berisiko tinggi terhadap kanker servik sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 63 (53,4%) sedangkan responden dengan umur berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada bukan penderita kanker servik (kontrol) sebanyak 13 (72,2%).
Odds Ratio (OR) diperoleh nilai = 2,979 yang berarti bahwa umur > 35 tahun berisiko 3 kali mengalami kanker servik. Jika ditinjau dari nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 0,998 dan nilai upper limit = 8,884 yang menunjukkan bahwa nilai upper dan lower limit mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan tidak bermakna.
Responden yang melaksanakan perkawinan pada umur berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 24 (70,0%) sedangkan responden yang melaksanakan perkawinan pada umur yang berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada kontrol (bukan penderita kanker servik) sebanyak 56 (58,3%).
Nilai OR = 3,267 yang berarti bahwa perempuan yang melaksanakan perkawinan pada umur ≤ 20 tahun berisiko 3,3 kali terhadap kejadian kanker servik. Jika dengan memperhitungkan nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 1,485 dan nilai upper limit = 7,188 yang tidak mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna.
Responden dengan paritas yang berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada sampel kasus (penderita kanker servik) sebanyak 41 (70,7%) sedangkan sampel dengan paritas dengan risiko rendah sebagian besar terdistribusi pada sampel kontrol (bukan penderita) kanker servik sebanyak 51 sampel (65,4%).
Odds Ratio diperoleh nilai OR = 4,556 yang berarti bahwa paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,6 kali pada ibu dengan paritas > 3 untuk terkena kanker servik. Jika dengan mempertimbangkan aspek confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 2,1889 dan nilai upper limit = 9,481 dimana nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 sehingga risiko yang ditimbulkan bermakna.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan variabel penelitian
Keterbatasan peneliti
Kesimpulan
Umur bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 dimana umur lebih dari 30 tahun tidak memberikan pengaruh terhadap kejadian kanker servik.
Umur perkawinan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 2,545 kali untuk mengalami kanker servik pada perempuan yang melaksanakan perkawinan pada usia ≤ 20 tahun dibandingkan dengan perkawinan pada usia > 20 tahun dengan hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna sehingga Ho ditolak.
Paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,556 kali untuk terkena kanker servik pada perempuan dengan paritas > 3 dibandingkan perempuan dengan paritas ≤ 3 dengan hubungan yang ditimbulkan bermakna sehingga Ho ditolak.
Saran
Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap kanker servik terutama dengan melaksanakan penyuluhan tentang kanker servik yang dimulai sejak dini yaitu pada perempuan di usia remaja
Perlunya pemberian aktivitas tambahan kepada kaum remaja dala upaya penundaan usia perkawinan sehingga dapat mencegah terjadinya kanker servik
Perlunya penanganan yang lebih lanjut terhadap kejadian kanker servik dengan melaksanakan penyebaran informasi kepada ibu rumah tangga dimana informasi tersebut merupakan upaya untuk merendahkan angka kehamilan sehingga salah satu faktor risiko kanker servik yaitu paritas dapat diatasi.
Perlunya penelitian lebih lanjut dari beberapa faktor yang menjadi risiko terhadap kejadian kanker servik yang dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka upaya penanggulangan dan pencegahan kematian dan kesakitan akibat kanker servik.
Daftar Pustaka
Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1999.
Arna Glasier dan Alisa Gebbie, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005.
Depkes RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta, 2003.
Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 2003.
Eko Budiarto, Metodologi Penelitian Kedokteran sebagai Pengantar, Jakarta, EGC, 2003.
Eko Budiarto dan Dewi Anggraeni, Pengantar Epidemiologi, Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.
Erik Tapan, Kanker, Antioksidan dan Terapi Komplementer, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005.
Lemeshow,dkk, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. University Press. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta, 1995.
M. N. Bustan, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000.
Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta, 1998.
Sugiyono, 2002, Statistika Untuk Penelitian, CV. Alvabeta, Bandung
Wim De Jong, Kanker, Apakah Itu ? Pengobatan, Harapan hidup dan Dukungan Keluarga, Jakarta, Arcan, 2004.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik
Moh Joeharno, SKM
Pendahuluan
Latar Belakang
Upaya pemberantasan penyakit menular dan tidak menular merupakan salah satu program dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.
Terjadinya perubahan gaya hidup sebagai dampak dari transisi demografi merupakan tantangan terhadap upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.
Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut.
Kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak ditemukan pada wanita di dunia. Kurang lebih 500.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi tiap tahun dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang.
Menurut Siregar (2002), Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak diderita oleh wanita dan merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada wanita. Oleh sebab itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka penanggulangan terhadap kejadian kanker servik yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Kanker servik uteri atau leher rahim ini menduduki peringkat utama pada kasus kanker yang menyerang wanita di Indonesia. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga kini jumlah penderitanya mencapai 50 per 100.000 penduduk.
Penanggulangan kanker masih merupakan masalah yang cukup berat. Penderita biasa datang dalam keadaan stadium lanjut. Itu beralasan, mengingat pada tahap awal sering tak menampakkan gejala khas.
Ketidaktahuan kaum wanita terhadap penanggulangan kanker servik tentunya berhubungan dengan keterlambatan untuk memeriksakan kesehatan dirinya terutama kesehatan reproduksi.
Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik.
Data kunjungan Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo yang tergabung dalam rekam medik menujukkan bahwa jumlah penderita kanker servik yang datang berobat cenderung meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2001 terdapat 50 kasus, tahun 2002 sebanyak 116 kasus, tahun 2003 sebanyak 131 kasus dan tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 117 kasus.
Hal ini memberikan indikasi bahwa penaggulangan terhadap kejadian kanker servik di Kota Makassar masih relatif kurang yang dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya perhatian terhadap penanggulangan penyakit ini masih relatif rendah.
Salah satu aspek yang mendukung upaya penanggulangan kanker servik adalah pelaksanaan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker servik sehingga dengan hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan acuan dalam penyusunan rencana program penanggulangan kanker servik.
Rumusan Masalah
Benarkah umur merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Benarkah umur perkawinan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Benarkah paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker servik.
Tujuan Khusus
Menganalisis besar risiko faktor umur terhadap kejadian kanker servik
Menganalisis besar risiko faktor umur perkawinan terhadap kejadian kanker servik
Menganalisis besar risiko faktor paritas terhadap kejadian kanker servik
Manfaat Penelitian
Manfaat praktis
Manfaat keilmuan
Manfaat bagi peneliti
Kepustakaan
Tinjauan tentang Kanker
Tinjauan tentang Kanker Servik
Tinjauan Faktor Risiko Kanker Servik
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Kanker servik
Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).
Keriteria objektif
a. Kanker servik : Jika sesuai dengan kriteria diatas dan terdiagnosis kanker servik berdasarkan hasil anamnese dan pemeriksaan melalui Pap’s Smear Test, biopsi dan CT Sken seperti yang tercatat dalam status rekam medik pasien.
b. Bukan kanker servik : Jika tidak sesuai dengan kriteria diatas
Umur
Yang dimaksud umur dalam penelitian adalah perhitungan lama kehidupan dimana dihitung berdasarkan waktu kelahiran hidup pertama hingga pada saat penelitian berlangsung berdasarkan status yang tercantum dalam rekam medik.
Kriteria objektif
a. Risiko Tinggi : Jika umur wanita > 35 tahun
b. Risiko Rendah : Jika umur wanita ≤ 35 tahun
Umur Perkawinan
Umur perkawinan adalah umur seorang wanita pada saat melakukan ikatan resmi pertama kali dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Umur perkawinan ini dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran sampai pada saat melakukan akad nikah pertama.
Kriteria objektif
a. Risiko Tinggi : Jika umur perkawinan ≤ 20 tahun
b. Risiko Rendah : Jika umur perkawinan > 20 tahun
Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran yang dialami oleh seorang wanita atau banyaknya anak yang dilahirkan.
a. Risiko Tinggi : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan > 3 orang
b. Risiko Rendah : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan ≤ 3 orang
Hipotesis Penelitian
Hipotesis null (Ho)
Umur > 35 tahun bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik
Umur perkawinan ≤ 20 tahun bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Paritas > 3 bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Hipotesis alternatif (Ha)
Umur > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik
Umur perkawinan ≤ 20 tahun merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Paritas > 3 merupakan
actor risiko kejadian kanker servik
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Case Control Study.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kanker servik menurut laporan rekam medik BLU Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode 2001 – 2004 yang berjumlah 414 kasus.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi. Terdapat 2 golongan yaitu sebagai berikut:
Kasus adalah penderita kanker servik.
Kontrol adalah bukan penderita kanker servik yang disamakan berdasarkan status pendidikan.
Penentuan besar sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel Lemeshow et.al.dengan perkiraan OR = 2,00 dalam jarak 50 % dengan derajat kepercayaan 95 %. Perkiraan besar sampel 0,50 dan didapatkan jumlah sampel 68 dengan perbandingan sampel kasus dan kontrol 1 : 1 sehingga jumlah keseluruhan 136 sampel.
Sampel diambil dengan teknik purpossive sampling dengan kriteria sebagai berikut :
Terdiagnosis kanker servik pada stadium tertentu
Telah menjalani pengobatan
Pada sampel dengan status kawin dan tidak sedang pada perkawinan lebih dari 1 kali
Status rekam medis lengkap
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari laporan rekapitulasi penderita kanker servik BLU RS Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Setelah data dikumpulkan dilapangan, ceklist diperiksa kelengkapannya apakah sesuai dengan instrumen yang ada, bila ceklist tidak lengkap maka harus kembali kelapangan
Bila semua ceklist terisi sesuai dengan petunjuk pengisian maka langkah selanjutnya adalah memberikan perlakuan terhadap data tersebut yang terdiri atas editing, coding, tabulating, mengolah data, melakukan analisis dan menarik kesimpulan.
Analisa Data
Analisa Univariat
Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum variabel yang diteliti.
Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Karena rancangan penelitian adalah studi kasus dan kontrol maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR).
Penyajian Data
Dalam bentuk tabel analisis univariat dan bivariat
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Responden terbanyak berada pada kelompok umur 41 – 45 tahun sebanyak 35 (25,7%) dan terendah pada kelompok umur 21 – 25 tahun sebanyak 1 (0,7%).
Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan responden, tertinggi sampai jenjang SMA sebanyak 38 responden (27,9%) dan terendah dengan jenjang pendidikan Stara 1 sebanyak 18 responden (13,2%).
Angka tertinggi ditunjukkan pada ibu yang tidak bekerja diluar rumah (URT) sebanyak 73 responden (53,7%) sedangkan jenis pekerjaan yang banyak digeluti responden penelitian adalah sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 39 responden (28,7%) dan terendah pada responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 4 responden (2,9%).
Sebagian besar responden telah memiliki lama perkawinan 11 – 20 tahun sebanyak 52 (38,2%) sedangkan yang terendah adalah mereka yang memiliki lama perkawinan ≤ 10 tahun sebanyak 19 responden (14,0%).
Sebagian besar responden melaksanakan perkawinan pada umur antara 21 – 30 tahun sebanyak 82 (60,3%) sedangkan terendah adalah pada umur > 30 tahun sebanyak 14 (10,3%).
Sebagian besar responden telah memiliki anak <> 7 orang sebanyak 10 responden (7,4%).
Responden dengan umur yang berisiko tinggi terhadap kanker servik sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 63 (53,4%) sedangkan responden dengan umur berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada bukan penderita kanker servik (kontrol) sebanyak 13 (72,2%).
Odds Ratio (OR) diperoleh nilai = 2,979 yang berarti bahwa umur > 35 tahun berisiko 3 kali mengalami kanker servik. Jika ditinjau dari nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 0,998 dan nilai upper limit = 8,884 yang menunjukkan bahwa nilai upper dan lower limit mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan tidak bermakna.
Responden yang melaksanakan perkawinan pada umur berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 24 (70,0%) sedangkan responden yang melaksanakan perkawinan pada umur yang berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada kontrol (bukan penderita kanker servik) sebanyak 56 (58,3%).
Nilai OR = 3,267 yang berarti bahwa perempuan yang melaksanakan perkawinan pada umur ≤ 20 tahun berisiko 3,3 kali terhadap kejadian kanker servik. Jika dengan memperhitungkan nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 1,485 dan nilai upper limit = 7,188 yang tidak mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna.
Responden dengan paritas yang berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada sampel kasus (penderita kanker servik) sebanyak 41 (70,7%) sedangkan sampel dengan paritas dengan risiko rendah sebagian besar terdistribusi pada sampel kontrol (bukan penderita) kanker servik sebanyak 51 sampel (65,4%).
Odds Ratio diperoleh nilai OR = 4,556 yang berarti bahwa paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,6 kali pada ibu dengan paritas > 3 untuk terkena kanker servik. Jika dengan mempertimbangkan aspek confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 2,1889 dan nilai upper limit = 9,481 dimana nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 sehingga risiko yang ditimbulkan bermakna.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan variabel penelitian
Keterbatasan peneliti
Kesimpulan
Umur bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 dimana umur lebih dari 30 tahun tidak memberikan pengaruh terhadap kejadian kanker servik.
Umur perkawinan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 2,545 kali untuk mengalami kanker servik pada perempuan yang melaksanakan perkawinan pada usia ≤ 20 tahun dibandingkan dengan perkawinan pada usia > 20 tahun dengan hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna sehingga Ho ditolak.
Paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,556 kali untuk terkena kanker servik pada perempuan dengan paritas > 3 dibandingkan perempuan dengan paritas ≤ 3 dengan hubungan yang ditimbulkan bermakna sehingga Ho ditolak.
Saran
Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap kanker servik terutama dengan melaksanakan penyuluhan tentang kanker servik yang dimulai sejak dini yaitu pada perempuan di usia remaja
Perlunya pemberian aktivitas tambahan kepada kaum remaja dala upaya penundaan usia perkawinan sehingga dapat mencegah terjadinya kanker servik
Perlunya penanganan yang lebih lanjut terhadap kejadian kanker servik dengan melaksanakan penyebaran informasi kepada ibu rumah tangga dimana informasi tersebut merupakan upaya untuk merendahkan angka kehamilan sehingga salah satu faktor risiko kanker servik yaitu paritas dapat diatasi.
Perlunya penelitian lebih lanjut dari beberapa faktor yang menjadi risiko terhadap kejadian kanker servik yang dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka upaya penanggulangan dan pencegahan kematian dan kesakitan akibat kanker servik.
Daftar Pustaka
Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1999.
Arna Glasier dan Alisa Gebbie, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005.
Depkes RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta, 2003.
Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 2003.
Eko Budiarto, Metodologi Penelitian Kedokteran sebagai Pengantar, Jakarta, EGC, 2003.
Eko Budiarto dan Dewi Anggraeni, Pengantar Epidemiologi, Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.
Erik Tapan, Kanker, Antioksidan dan Terapi Komplementer, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005.
Lemeshow,dkk, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. University Press. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta, 1995.
M. N. Bustan, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000.
Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta, 1998.
Sugiyono, 2002, Statistika Untuk Penelitian, CV. Alvabeta, Bandung
Wim De Jong, Kanker, Apakah Itu ? Pengobatan, Harapan hidup dan Dukungan Keluarga, Jakarta, Arcan, 2004.
Analisis Faktor Risiko Kejadian Kanker Servik
Moh Joeharno, SKM
Pendahuluan
Latar Belakang
Upaya pemberantasan penyakit menular dan tidak menular merupakan salah satu program dalam rangka menciptakan keadaan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat yang mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin.
Terjadinya perubahan gaya hidup sebagai dampak dari transisi demografi merupakan tantangan terhadap upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular.
Kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.
Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut.
Kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak ditemukan pada wanita di dunia. Kurang lebih 500.000 kasus baru kanker leher rahim terjadi tiap tahun dan tiga perempatnya terjadi di negara berkembang.
Menurut Siregar (2002), Kanker leher rahim merupakan kanker terbanyak diderita oleh wanita dan merupakan penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada wanita. Oleh sebab itu diperlukan upaya maksimal dalam rangka penanggulangan terhadap kejadian kanker servik yang mencakup upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Kanker servik uteri atau leher rahim ini menduduki peringkat utama pada kasus kanker yang menyerang wanita di Indonesia. Data Departemen Kesehatan menunjukkan hingga kini jumlah penderitanya mencapai 50 per 100.000 penduduk.
Penanggulangan kanker masih merupakan masalah yang cukup berat. Penderita biasa datang dalam keadaan stadium lanjut. Itu beralasan, mengingat pada tahap awal sering tak menampakkan gejala khas.
Ketidaktahuan kaum wanita terhadap penanggulangan kanker servik tentunya berhubungan dengan keterlambatan untuk memeriksakan kesehatan dirinya terutama kesehatan reproduksi.
Menurut Mamiek dan Wibowo (2000), penyebab langsung kanker leher rahim belum diketahui secara pasti, tetapi ada bukti kuat bahwa kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik.
Data kunjungan Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo yang tergabung dalam rekam medik menujukkan bahwa jumlah penderita kanker servik yang datang berobat cenderung meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2001 terdapat 50 kasus, tahun 2002 sebanyak 116 kasus, tahun 2003 sebanyak 131 kasus dan tahun 2004 mengalami penurunan menjadi 117 kasus.
Hal ini memberikan indikasi bahwa penaggulangan terhadap kejadian kanker servik di Kota Makassar masih relatif kurang yang dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya perhatian terhadap penanggulangan penyakit ini masih relatif rendah.
Salah satu aspek yang mendukung upaya penanggulangan kanker servik adalah pelaksanaan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian kanker servik sehingga dengan hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan acuan dalam penyusunan rencana program penanggulangan kanker servik.
Rumusan Masalah
Benarkah umur merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Benarkah umur perkawinan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Benarkah paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik ?
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kanker servik.
Tujuan Khusus
Menganalisis besar risiko faktor umur terhadap kejadian kanker servik
Menganalisis besar risiko faktor umur perkawinan terhadap kejadian kanker servik
Menganalisis besar risiko faktor paritas terhadap kejadian kanker servik
Manfaat Penelitian
Manfaat praktis
Manfaat keilmuan
Manfaat bagi peneliti
Kepustakaan
Tinjauan tentang Kanker
Tinjauan tentang Kanker Servik
Tinjauan Faktor Risiko Kanker Servik
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Kanker servik
Kanker servik adalah pertumbuhan sel bersifat abnormal yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina) (Riono, 1999).
Keriteria objektif
a. Kanker servik : Jika sesuai dengan kriteria diatas dan terdiagnosis kanker servik berdasarkan hasil anamnese dan pemeriksaan melalui Pap’s Smear Test, biopsi dan CT Sken seperti yang tercatat dalam status rekam medik pasien.
b. Bukan kanker servik : Jika tidak sesuai dengan kriteria diatas
Umur
Yang dimaksud umur dalam penelitian adalah perhitungan lama kehidupan dimana dihitung berdasarkan waktu kelahiran hidup pertama hingga pada saat penelitian berlangsung berdasarkan status yang tercantum dalam rekam medik.
Kriteria objektif
a. Risiko Tinggi : Jika umur wanita > 35 tahun
b. Risiko Rendah : Jika umur wanita ≤ 35 tahun
Umur Perkawinan
Umur perkawinan adalah umur seorang wanita pada saat melakukan ikatan resmi pertama kali dengan seorang pria yang bukan muhrimnya. Umur perkawinan ini dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran sampai pada saat melakukan akad nikah pertama.
Kriteria objektif
a. Risiko Tinggi : Jika umur perkawinan ≤ 20 tahun
b. Risiko Rendah : Jika umur perkawinan > 20 tahun
Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran yang dialami oleh seorang wanita atau banyaknya anak yang dilahirkan.
a. Risiko Tinggi : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan > 3 orang
b. Risiko Rendah : Jika jumlah anak yang telah dilahirkan ≤ 3 orang
Hipotesis Penelitian
Hipotesis null (Ho)
Umur > 35 tahun bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik
Umur perkawinan ≤ 20 tahun bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Paritas > 3 bukan merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Hipotesis alternatif (Ha)
Umur > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik
Umur perkawinan ≤ 20 tahun merupakan faktor risiko kejadian kanker servik
Paritas > 3 merupakan
actor risiko kejadian kanker servik
Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan Case Control Study.
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita kanker servik menurut laporan rekam medik BLU Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar periode 2001 – 2004 yang berjumlah 414 kasus.
Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi. Terdapat 2 golongan yaitu sebagai berikut:
Kasus adalah penderita kanker servik.
Kontrol adalah bukan penderita kanker servik yang disamakan berdasarkan status pendidikan.
Penentuan besar sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan tabel Lemeshow et.al.dengan perkiraan OR = 2,00 dalam jarak 50 % dengan derajat kepercayaan 95 %. Perkiraan besar sampel 0,50 dan didapatkan jumlah sampel 68 dengan perbandingan sampel kasus dan kontrol 1 : 1 sehingga jumlah keseluruhan 136 sampel.
Sampel diambil dengan teknik purpossive sampling dengan kriteria sebagai berikut :
Terdiagnosis kanker servik pada stadium tertentu
Telah menjalani pengobatan
Pada sampel dengan status kawin dan tidak sedang pada perkawinan lebih dari 1 kali
Status rekam medis lengkap
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari laporan rekapitulasi penderita kanker servik BLU RS Dr. Wahidin Sudirohusodo.
Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Setelah data dikumpulkan dilapangan, ceklist diperiksa kelengkapannya apakah sesuai dengan instrumen yang ada, bila ceklist tidak lengkap maka harus kembali kelapangan
Bila semua ceklist terisi sesuai dengan petunjuk pengisian maka langkah selanjutnya adalah memberikan perlakuan terhadap data tersebut yang terdiri atas editing, coding, tabulating, mengolah data, melakukan analisis dan menarik kesimpulan.
Analisa Data
Analisa Univariat
Analisa univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum variabel yang diteliti.
Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Karena rancangan penelitian adalah studi kasus dan kontrol maka dilakukan perhitungan Odds Ratio (OR).
Penyajian Data
Dalam bentuk tabel analisis univariat dan bivariat
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Responden terbanyak berada pada kelompok umur 41 – 45 tahun sebanyak 35 (25,7%) dan terendah pada kelompok umur 21 – 25 tahun sebanyak 1 (0,7%).
Jenjang pendidikan yang telah ditamatkan responden, tertinggi sampai jenjang SMA sebanyak 38 responden (27,9%) dan terendah dengan jenjang pendidikan Stara 1 sebanyak 18 responden (13,2%).
Angka tertinggi ditunjukkan pada ibu yang tidak bekerja diluar rumah (URT) sebanyak 73 responden (53,7%) sedangkan jenis pekerjaan yang banyak digeluti responden penelitian adalah sebagai pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 39 responden (28,7%) dan terendah pada responden yang bekerja sebagai petani sebanyak 4 responden (2,9%).
Sebagian besar responden telah memiliki lama perkawinan 11 – 20 tahun sebanyak 52 (38,2%) sedangkan yang terendah adalah mereka yang memiliki lama perkawinan ≤ 10 tahun sebanyak 19 responden (14,0%).
Sebagian besar responden melaksanakan perkawinan pada umur antara 21 – 30 tahun sebanyak 82 (60,3%) sedangkan terendah adalah pada umur > 30 tahun sebanyak 14 (10,3%).
Sebagian besar responden telah memiliki anak <> 7 orang sebanyak 10 responden (7,4%).
Responden dengan umur yang berisiko tinggi terhadap kanker servik sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 63 (53,4%) sedangkan responden dengan umur berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada bukan penderita kanker servik (kontrol) sebanyak 13 (72,2%).
Odds Ratio (OR) diperoleh nilai = 2,979 yang berarti bahwa umur > 35 tahun berisiko 3 kali mengalami kanker servik. Jika ditinjau dari nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 0,998 dan nilai upper limit = 8,884 yang menunjukkan bahwa nilai upper dan lower limit mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan tidak bermakna.
Responden yang melaksanakan perkawinan pada umur berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada penderita kanker servik (kasus) sebanyak 24 (70,0%) sedangkan responden yang melaksanakan perkawinan pada umur yang berisiko rendah sebagian besar terdistribusi pada kontrol (bukan penderita kanker servik) sebanyak 56 (58,3%).
Nilai OR = 3,267 yang berarti bahwa perempuan yang melaksanakan perkawinan pada umur ≤ 20 tahun berisiko 3,3 kali terhadap kejadian kanker servik. Jika dengan memperhitungkan nilai confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 1,485 dan nilai upper limit = 7,188 yang tidak mencakup 1 sehingga hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna.
Responden dengan paritas yang berisiko tinggi sebagian besar terdistribusi pada sampel kasus (penderita kanker servik) sebanyak 41 (70,7%) sedangkan sampel dengan paritas dengan risiko rendah sebagian besar terdistribusi pada sampel kontrol (bukan penderita) kanker servik sebanyak 51 sampel (65,4%).
Odds Ratio diperoleh nilai OR = 4,556 yang berarti bahwa paritas merupakan faktor risiko kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,6 kali pada ibu dengan paritas > 3 untuk terkena kanker servik. Jika dengan mempertimbangkan aspek confidence interval (CI) diperoleh nilai lower limit = 2,1889 dan nilai upper limit = 9,481 dimana nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 sehingga risiko yang ditimbulkan bermakna.
Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan variabel penelitian
Keterbatasan peneliti
Kesimpulan
Umur bukan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan nilai lower dan upper limit tidak mencakup 1 dimana umur lebih dari 30 tahun tidak memberikan pengaruh terhadap kejadian kanker servik.
Umur perkawinan merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 2,545 kali untuk mengalami kanker servik pada perempuan yang melaksanakan perkawinan pada usia ≤ 20 tahun dibandingkan dengan perkawinan pada usia > 20 tahun dengan hubungan yang ditimbulkan dikatakan bermakna sehingga Ho ditolak.
Paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian kanker servik dengan besar risiko 4,556 kali untuk terkena kanker servik pada perempuan dengan paritas > 3 dibandingkan perempuan dengan paritas ≤ 3 dengan hubungan yang ditimbulkan bermakna sehingga Ho ditolak.
Saran
Perlunya peningkatan pengetahuan dan pemahaman terhadap kanker servik terutama dengan melaksanakan penyuluhan tentang kanker servik yang dimulai sejak dini yaitu pada perempuan di usia remaja
Perlunya pemberian aktivitas tambahan kepada kaum remaja dala upaya penundaan usia perkawinan sehingga dapat mencegah terjadinya kanker servik
Perlunya penanganan yang lebih lanjut terhadap kejadian kanker servik dengan melaksanakan penyebaran informasi kepada ibu rumah tangga dimana informasi tersebut merupakan upaya untuk merendahkan angka kehamilan sehingga salah satu faktor risiko kanker servik yaitu paritas dapat diatasi.
Perlunya penelitian lebih lanjut dari beberapa faktor yang menjadi risiko terhadap kejadian kanker servik yang dapat digunakan sebagai bahan informasi dalam rangka upaya penanggulangan dan pencegahan kematian dan kesakitan akibat kanker servik.
Daftar Pustaka
Arif Mansjoer dkk, Kapita Selekta Kedokteran Edisi III Jilid 1, Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI, Jakarta, 1999.
Arna Glasier dan Alisa Gebbie, Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005.
Depkes RI, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Propinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat, Jakarta, 2003.
Depkes RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta, 2003.
Eko Budiarto, Metodologi Penelitian Kedokteran sebagai Pengantar, Jakarta, EGC, 2003.
Eko Budiarto dan Dewi Anggraeni, Pengantar Epidemiologi, Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2003.
Erik Tapan, Kanker, Antioksidan dan Terapi Komplementer, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, 2005.
Lemeshow,dkk, Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. University Press. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta, 1995.
M. N. Bustan, Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 2000.
Rustam Mochtar, Sinopsis Obstetri Edisi II, Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta, 1998.
Sugiyono, 2002, Statistika Untuk Penelitian, CV. Alvabeta, Bandung
Wim De Jong, Kanker, Apakah Itu ? Pengobatan, Harapan hidup dan Dukungan Keluarga, Jakarta, Arcan, 2004.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT
- Latar Belakang
- Batasan Masalah
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Untuk menganalisis hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Manfaat Penelitian
- Manfaat Ilmiah
- Manfaat Institusi
- Manfaat Bagi Peneliti
- Tinjauan Umum Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan
- Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit
- Tinjauam Umum Tentang Variabel Yang Diteliti
- Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
- Jumlah Petugas
- Ketanggapan petugas
- Kehandalan petugas
- Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
- Pola Pikir Variabel Penelitian
- Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
- Mutu Pelayanan Kesehatan
- Jumlah Petugas
- Ketanggapan Petugas
- Kehandalan Petugas
- Ketersediaan/Kelengkapan Fasilitas
- Hipotesis Penelitian
- Hipotesis Null (Ho)
- Tidak ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Hipotesis Alternatif (Ha)
- Ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Jenis Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Pengumpulan Data
- Data Primer
- Data Sekunder
- Pengolahan dan Analisa Data
- Pengolahan Data
- Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban
- Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan dalam pengolahan dan menganalisis data dengan memberikan kode dalam bentuk angka. Berdasarkan perhitungan Skala Likert dimana setiap jawaban “Selau” diberi nilai 5, “Sering” diberi nilai 4, kadang-kadang diberi nilai 3, “Pernah” diberi nilai 2 dan jika jawaban “Tidak Pernah” diberi nilai 1.
- Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding (master tabel)
- Analisa Data
- Penyajian Data
- Hasil Penelitian
- Karakteristik Responden
- Umur
- Jenis Kelamin
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Variabel Penelitian
- Jumlah Petugas
- Latar Belakang
- Batasan Masalah
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Untuk menganalisis hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Manfaat Penelitian
- Manfaat Ilmiah
- Manfaat Institusi
- Manfaat Bagi Peneliti
- Tinjauan Umum Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan
- Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit
- Tinjauam Umum Tentang Variabel Yang Diteliti
- Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
- Jumlah Petugas
- Ketanggapan petugas
- Kehandalan petugas
- Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
- Pola Pikir Variabel Penelitian
- Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
- Mutu Pelayanan Kesehatan
- Jumlah Petugas
- Ketanggapan Petugas
- Kehandalan Petugas
- Ketersediaan/Kelengkapan Fasilitas
- Hipotesis Penelitian
- Hipotesis Null (Ho)
- Tidak ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Hipotesis Alternatif (Ha)
- Ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Jenis Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Pengumpulan Data
- Data Primer
- Data Sekunder
- Pengolahan dan Analisa Data
- Pengolahan Data
- Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban
- Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan dalam pengolahan dan menganalisis data dengan memberikan kode dalam bentuk angka. Berdasarkan perhitungan Skala Likert dimana setiap jawaban “Selau” diberi nilai 5, “Sering” diberi nilai 4, kadang-kadang diberi nilai 3, “Pernah” diberi nilai 2 dan jika jawaban “Tidak Pernah” diberi nilai 1.
- Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding (master tabel)
- Analisa Data
- Penyajian Data
- Hasil Penelitian
- Karakteristik Responden
- Umur
- Jenis Kelamin
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Variabel Penelitian
- Jumlah Petugas
- Latar Belakang
- Batasan Masalah
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Untuk menganalisis hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan pasien rawat inap di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Manfaat Penelitian
- Manfaat Ilmiah
- Manfaat Institusi
- Manfaat Bagi Peneliti
- Tinjauan Umum Tentang Mutu Pelayanan Kesehatan
- Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit
- Tinjauam Umum Tentang Variabel Yang Diteliti
- Dasar Pemikiran Variabel Penelitian
- Jumlah Petugas
- Ketanggapan petugas
- Kehandalan petugas
- Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas
- Pola Pikir Variabel Penelitian
- Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
- Mutu Pelayanan Kesehatan
- Jumlah Petugas
- Ketanggapan Petugas
- Kehandalan Petugas
- Ketersediaan/Kelengkapan Fasilitas
- Hipotesis Penelitian
- Hipotesis Null (Ho)
- Tidak ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Hipotesis Alternatif (Ha)
- Ada hubungan jumlah petugas, ketanggapan petugas, kehandalan petugas, dan ketersediaan/kelengkapan fasilitas terhadap mutu pelayanan kesehatan di RSU Massenrempulu Kabupaten Enrekang
- Jenis Penelitian
- Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Pengumpulan Data
- Data Primer
- Data Sekunder
- Pengolahan dan Analisa Data
- Pengolahan Data
- Tahap editing dilakukan dengan tujuan agar data yang diperoleh merupakan informasi yang benar. Pada tahap ini dilakukan dengan memperhatikan kelengkapan jawaban dan jelas tidaknya jawaban
- Pengkodean dimaksudkan untuk menyingkat data yang diperoleh agar memudahkan dalam pengolahan dan menganalisis data dengan memberikan kode dalam bentuk angka. Berdasarkan perhitungan Skala Likert dimana setiap jawaban “Selau” diberi nilai 5, “Sering” diberi nilai 4, kadang-kadang diberi nilai 3, “Pernah” diberi nilai 2 dan jika jawaban “Tidak Pernah” diberi nilai 1.
- Pembuatan/pemindahan hasil koding kuesioner ke daftar koding (master tabel)
- Analisa Data
- Penyajian Data
- Hasil Penelitian
- Karakteristik Responden
- Umur
- Jenis Kelamin
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Variabel Penelitian
- Jumlah Petugas